Pemilihan Umum; Tanda Contreng, Membingungkan Sekaligus Mencemaskan

Idha Saraswati dan Lukas Adi Prasetya
Kamis, 5 Maret 2009 | 15:29 WIB

kompas-cetak1

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/05/15291797/tanda.contreng.membingungkan.sekaligus.mencemaskan

Kebingungan masyarakat terhadap tata cara menyalurkan suara pada pemilihan umum tahun ini membuat para calon anggota legislatif cemas. Bagaimana tidak? Potensi kesalahan memilih kini sangat besar. Nasib mereka tergantung suara yang sah, padahal kemungkinan suara tidak sah sungguh banyak.

Salah seorang caleg DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Bambang Praswanto, mengaku mendapat banyak pertanyaan dari calon pemilih saat melakukan simulasi. Latihan itu ia lakukan di kelompok-kelompok dengan tingkat pendidikan yang relatif tinggi. “Setelah dijelaskan, mereka lebih mudah memahami aturannya. Namun, ketentuan soal memberi tanda yang dibatasi pada contreng dan tanda silang itu memang membingungkan,” katanya, Rabu (4/3) di Yogyakarta.
Ia lantas menguraikan penyebab kebingungan itu. Dalam ketentuan sebelumnya, surat suara dianggap sah ketika ada tanda contreng pada nomor urut maupun nama caleg. Belakangan ketentuan itu berubah, dan memperbolehkan tanda lain seperti garis, silang, serta lubang coblosan.

Perubahan mendadak dengan membatasi tanda semacam itulah yang dinilainya bisa membingungkan pemilih. Logikanya, kalau tanda silang diperbolehkan, mestinya tanda lingkaran juga diperbolehkan. “Mestinya tanda yang lain juga boleh, sekalian saja. Sejak kecil juga, kan, kita menjawab soal dengan cara melingkari,” katanya.

Selain persoalan tanda yang membingungkan itu, ukuran huruf yang kecil dinilai menyulitkan pemilih. Dalam kolom caleg DPR dari PDI-P, misalnya, seorang pemilih harus memelototi daftar nama 10 caleg dengan saksama untuk menemukan nama Bambang.

ambar-cahyono

Caleg dari Partai Demokrat, Ambar Tjahyono, mengakui, ukuran surat suara dan banyaknya partai yang dicantumkan di sana memang menyulitkan pemilih. Dari hasil simulasi yang ia lakukan di sejumlah daerah, sebelum diberi petunjuk tentang cara memilih, tingkat kesalahan dalam memilih mencapai 30-40 persen. Namun, setelah ada sosialisasi, tingkat kesalahan bisa turun menjadi 10-15 persen. “Orang-orang yang sepuh itu paling banyak kelirunya. Ya itu wajar mengingat penglihatan mereka yang sudah tidak jelas lagi,” tuturnya.

Imam Samroni, caleg DPRD DIY dari Dapil Sleman Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), juga mencemaskan aturan teknis pemilu yang njlimet itu. “Pernah, dalam sosialisasi yang mestinya kami memaparkan visi misi, waktu malah tersita untuk menjelaskan teknis mencoblos. Ternyata ada beberapa daerah yang belum mendapat sosialisasi. Saya khawatir jika pemilih nanti hanya asal memilih,” ujarnya.

Sosialisasi
Tata cara memilih yang membingungkan masyarakat itu mau tidak mau memaksa para caleg untuk melakukan berbagai siasat dalam sosialisasi. Mereka tentu sadar, dengan sistem sekarang, sekadar memasang tampang di pinggir jalan tidak akan menjamin seseorang memilih mereka.

Ambar, misalnya, berupaya mengajari tata cara mengisi surat suara dengan bahasa yang mudah dipahami pemilih. Ia pun merancang kalimat kampanye sederhana, seperti: tanggal A, jam A, pilih partai A, nomor urut A.

Ia beruntung karena tanggal pemilihan sama dengan nomor urutnya. Dengan pesan seperti itu, orang akan lebih mudah mengingat dirinya. “Kalau sudah sepuh, ia juga tinggal mengulang kalimat itu pada petugas,” katanya sambil tertawa.

Soal tanda-tanda yang membingungkan itu, Ambar bersikap lebih tegas dalam setiap simulasi. Ia hanya menyosialisasikan tanda contreng. Pokoknya contreng saja.

Kalau semua tanda disosialisasikan, ia takut pemilih akan semakin bingung.

Dengan cara semacam itu, Ambar yang menargetkan 100.000 suara pada pemilu tahun ini mengaku optimistis. “Memang tidak mudah. Dengan target itu, saya setidaknya harus mendatangi 150.000 orang. Tapi, optimistis itu sudah menjadi keharusan,” ujarnya.

Bambang Praswanto yang menargetkan 70.000-90.000 suara punya medote lain. Agar masyarakat tidak salah pilih, saat simulasi ia menggunakan surat suara yang detailnya menyerupai surat suara asli. Baginya, perbedaan tata letak tulisan ataupun gambar bisa membingungkan pemilih. “Saat kampanye semua memasang fotonya besar- besar, padahal dalam surat suara tidak ada fotonya,” ujar Bambang, yang mengaku sengaja tidak memasang fotonya di pinggir jalan ini.

imron-email

Dengan sisa 29 hari menuju tanggal pemilihan, setiap caleg mengaku akan memaksimalkan sosialisasi tentang cara memilih pada konstituennya. Tentu mereka harus mengeluarkan anggaran lebih untuk mencetak tambahan stiker, poster, serta surat suara yang mirip surat suara asli. Padahal, caleg seperti Imam Samroni mengaku anggarannya menipis karena telah mengeluarkan banyak dana untuk kegiatan sosialisasi sebelumnya.

Mereka juga harus semakin rajin menyambangi ratusan komunitas, berbicara dalam berbagai seminar dan pengajian, serta berdialog dalam siaran radio dan televisi demi mengumpulkan puluhan ribu hingga ratusan ribu suara. Ya, inilah barangkali harga demokrasi yang harus mereka bayar.

About these ads

Tentang imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua tulisan milik imam samroni

2 responses to “Pemilihan Umum; Tanda Contreng, Membingungkan Sekaligus Mencemaskan

  • redaksi

    BANYAK PARTAI BIKIN BINGUNG

    Sudah menjadi pedoman hatiku, bahwa dalam pemilihan umum 2009 kita harus menentukan pilihan secara bijaksana. Tapi semua partai peserta pemilu, tiada kupandang tinggi, semua sama tak sapun mendapat keistimewaan.

    Karena bingung, aku membuat suatu undian. Di atas sekelumit kertas kutulis nama-nama partai. Akhirnya kertas itu kugulung sama serta kumasukkan dalam sebuah kotak kosong, yang kemudian kugoncang-goncangkan.

    Dengan mata terpejam kuambil sebuah diantara gulungan-gulungan kertas itu. Ketika gulungan itu sudah kukembangakan, kubuka mataku secara perlahan-lahan. Jantungku turut berdebar keras, Ketika salah seorang di antaranya memperoleh kemenangan.

    Ketahuailah… bahwa yang berhasil memperoleh kemenangan adalah……………………………

    inilah gambaran bimbang masyarakat, apa yang dijanjikan partai politik tak jua mencapai biduk kebahagiaan.

    sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/

  • imam samroni

    Montesquieu (1689-1755) menyarankan pemisahan terhadap ketiga unsur legislatif, eksekutif, dan yudikatif, agar kekuasaan absolut eksekutif (konteks saat itu adalah raja) tidak timbul lagi dalam bentuk lain dan menjadi kekuasaan absolut legislatif atau yudikatif. Kekuasaan yang tak terbatas hanya akan berakibat kepada kekuasaan yang merusak secara tak terbatas pula. Apakah partai seperti itu? Tanyalah di partai Popoh, partai Parangtritis, partai Sanur, …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: