dafin-umi1

Saat jeda adalah ledakan seketika. Saat berhenti sebentar, dalam gerimis sore di Jalan Wonosari, menuju rumah Sekarsuli, aku melihat ketidakmampuan dengan penglihatan yang berbeda. Ada lapisan ruang-waktu yang aku cerap di dalam perhatian, juga penghadapan: Derau.

Kediaman adalah kedekatan dengan Paduka. Perhatian dan kebersamaan adalah pertanggungjawaban biografis. Saat jeda yang menegaskan nyanyi sunyi inilah, yang kian memanggil: Aku mengada di Balerante sebagai jeda antara Bangunkerto dan Candibinangun. Aku melipat ketidakmampuan di Randusari dan Kota Baru. Babussalam adalah rentangan titik dan airmataku antara Haffair dengan Ka’bah. Paduka, aku merindukan ramadhan di masjid Nabawi, dengan panggilan yang membuat kuat untuk menyelenggarakan keseharian.

Paduka, apakah kesalahan masalalu akan menampilkan diri sebagai hujatan di masadepan? Bukankah hari-hari ini aku melabirinkan kedwitafsiran ini? Kesalahan-kesalahan yang menakutkan dan memercumakan energi untuk waktu yang semakin pendek. Kotbah Jumat di masjid Samirono menghenyakkan pertanyaan-pertanyaan yang pernah aku tulis sebagai kematian-biografis dan belum mampu aku jawab. Aku teringat kesibukan pembelanja di Orchard Road Singapura dengan perimbangan keheningan philosophenweg di teras belakang rmah Sekarsuli. Aku mengingat Prambanan atau Denpasar, dan bukannya Bangkok.

Di dalam wilayah-wilayah pertanyaan inilah, sesuatu yang nyata adalah Dafina Rifatu Istiwa, anak kami. Tumbuh-kembang Dafina adalah logika perkembangan yang memarakkan penghadapan untuk pertanggungjawaban. Doa dan doa yang terlantun buat Dafina adalah untuk gerak keseharian yang terjaga, juga keleluasaan.

Di dalam wilayah-wilayah pertanyaan inilah, adakah yang dapat aku nyatakan sebagai saat mencahari jawaban (-jawaban)?

Paduka, beri kesempatan buat Dafina kami untuk memaknai, menggerakkan, dan melukis langit. Beri kesempatan Dafina untuk mengelola teka-teki sialan yang berkelindan, yang kadang merebut bening dan heningnya keseharian. Aku menjadi teringat pertanyaan-pertanyaan Jibril kepada Rasul Muhammad, Maa huwal Iman? Maa huwal Islam? Maa huwal Ihsan? juga Matas-Sa’ah? (Apa itu Iman? Islam? Ihsan? juga kapan datangnya Sa’ah?).

Di dalam wilayah-wilayah pertanyaan inilah, jika Paduka memanggilku kembali, bila ajalku menjelang, manakala kematian menghampiri –aku pernah mendengar seseorang berkata tentang aku yang akan mati muda– aku sudah menjawab sebagian pertanyaan yang tengah melabirinkan aku sebagai abahnya Dafina. Hari-hari yang hilang setahun ini, aku ingin mempersembahkan blog ini buat Dafina, mewariskannya dengan penuh doa.

Aku masih berharap Dafina mempunyai kebanggaan, sekecil apapun, terhadap abahnya. Aku masih memohon kepada Paduka untuk sisa umur ini, meskipun betapa tidak bertanggungjawabnya aku sebagai abah buat Dafina dan umi-nya Dafina. Penghadapan ini adalah untuk Dafina-ku, juga buat umi Indah Sri Wulandari, isteriku.

Innalillahi wa inna ilahi raji’un.