Dari Filsafat ke Pendidikan dari Sosiologi ke Pendidikan

imam-samroni-sketsa

Imam Samroni

Kalau obsesi seorang filsuf adalah kecanggihan berpikir kritis untuk pergolakan reflektif, tantangan sosiolog ialah kesempurnaan deskriptif untuk melakukan falsifikasi, kudangan guru yaitu untuk peran pendidikan transformatif masa depan, maka otentisitas mahasiswa Filsafat dan Sosiologi Pendidikan FIP IKIP Yogyakarta (selanjutnya ditulis: FSP) musti dipertegas kembali dalam pasang-surut kesejarahan.
Keniscayaan dunia memang terlampau naif untuk kita pahami seluruhnya. Terdapat rentang jarak antara kegelisahan terhadap perubahan jaman (dan dengan percepatannya) serta kebanggaan yang berlebihan terhadap status kemahasiswaan; antara tragedi menuju komedi kampus. Ada saat filsuf menutup traktat, sosiolog gamang dengan buku teks, guru enggan menyampaikan nasehat, dan para mahasiswa malah asyik menganekdotkan Paulo Freire, Jiddu Krishnamurti, Noeng Muhadjir, dan Tetsuko “Totto-Chan“ Kuroyanagi.

Mahasiswa FSP dengan cara berpikirnya, memang atau boleh jadi, bukanlah judul-judulan. Barangkali berkesan aneh dan lucu untuk perkenalan tetapi pas buat olok-olok, mungkin tidak populer dan sama sekali tidak “marketable,“ serta lebih kerap ditanggapi dengan tanda tanya atau tiga tanda seru sekaligus; dan berakhir dengan anggukan maklum terhadap perilaku mahasiswanya.

***

Seorang filsuf mencengangkan sekaligus membingungkan kita karena daya tembus discourse. Sosiolog mengagumkan dan membosankan sebab ketajaman analisis. Dan mahasiswa FSP menggelikan plus menjengkelkan dengan alasan berbeda: Menjadikan Srawung Ilmiah jurusan sebagai praksis gunem-rembug alias obrolan. Bahasa filsafat menghubungkan antar-gagasan dan menjadikannya konstruksi. Dalam sosiologi, gagasan dan empiri menghasilkan bahasa operasi. Dengan bahasa pula, mahasiswa FSP menghubungkan gagasan dengan informasi untuk mengklaim resolusi di berbagai seminar. Kalau filsafat mengerjakan gagasan sebagai refleksi pikiran tentang pikiran, dalam sosiologi gagasan dikelola sebagai ekspresi pikiran tentang fakta empiris, maka dalam jargon sebagian mahasiswa FSP: Gagasan ditafsirkan untuk aksi demonstrasi.

Disederhanakan, bahasa filsafat untuk mempertanyakan, dalam sosiologi buat menjelaskan, dan filantropi khas mahasiswa FSP adalah bahasa yang menggugat. Dengan kalimat lain, yang pertama diuji berdasarkan rasionalitas, yang kedua berdasarkan objektivitas, dan yang ketiga diuji dengan selera improvitatif.

Berpikir filsafat untuk mempertajam akal, dengan sosiologi untuk mendefinisikan kembali obyek par exellence sosialitas, sedangkan berkuliah di FSP –menurut pengakuan seorang mahasiswa semester akhir– dianggap aset seandainya ada lowongan kerja sebagai penanggung jawab rubrik teka-teki silang. Pernyataan ini lebih diartikan sebagai wewenang untuk merujuk dataran filsafat, sosiologi, sejarah, metodolgi penelitian pendidikan, kebudayaan, dan catatan-catatan kuliah mengenai fondasi pendidikan. Lebih komunikatif, sudah terdapat kesadaran terhadap matematika untuk berpikir deduktif, di samping sebagai agenda pembicaraan yang eksotis buat “arisan“ nasional malam Kamis. Juga telah ada upaya mempelajari statistika untuk melatih pemikiran induktif, tetapi malah bengong dengan banyaknya karya ilmiah kuantitatif yang begitu mudah memanipulasi data berkat komputer.

Filsuf bekerja dengan otaknya, sosiolog mengatur pengamatannya, mahasiswa FSP dituntut oleh identifikasi keberadaannya: Mengetahui bahwa dia tahu tetapi tidak tahu dan tidak bingung bahwa sebenarnya dia bingung. Makanya dimaklumi kalau elan kefilsafatan dan etos keilmuan cenderung tertib dan disiplin, sebaliknya opus mahasiswa FSP adalah kreativitas untuk membolos kuliah dan menitipkan presensi. Yang pertama cenderung runtut dan teratur, sedangkan yang terakhir ingin mengulang pengalaman berseminar secara gratis. Aktivitas filsafat dan ilmu kurang-lebih dapat diramalkan, yang kedua terlalu riskan untuk kelancaran kerja panitia penyelenggara seminar.

***

Yang mengherankan, pencerapan di atas tidaklah cukup untuk menggambarkan sense of identity keseharian mahasiswa FSP. Ada kejenuhan yang khas dari mahasiswa semester akhir, di samping masih terdapat kegairahan merebut informasi di berbagai fora ilmiah. Terdapay obrolan bursa lowongan kerja dan banyolan suasana jurusan serta fakultas. Masih terdengar diskusi terhadap ”manusia otentik”nya Max Horkheimer –yakni manusia yang mampu mengatasi struktur dan kultur keadaan– seperti juga masih banyak segerombolan mahasiswa yang dengan sabar menunggu dosen di pojok-pojok taman kampus.
Semuanya mengalir, wajar. Seperti keraguan di awal kuliah adalah keharusan membuat keputusan untuk tetap melanjutkan kuliah atau sama sekali meninggalkan FSP. Sebab kebingungan ialah potensi jawaban terhadap dilema maupun suasana krisis. Di samping perubahan kurikulum, lokakarya satuan kredit semester, dan pelayanan administrasi, kampus musti mempertahankan tradisi discourse secara simpatik. Dialektika harus menghasilkan sintesa. Semuanya bergulir. Biasa saja. Sebagaimana halnya filsuf mengejar kebenaran, wartawan melacak informasi, seniman memburu keindahan, dan demonstran turut (berobsesi) menegakkan keadilan.

***

FSP, mau tidak mau dan, harus mempertegas stabillo otentisitas di tengah keberagaman (atau kesimpang-siuran) pangsa perubahan. Ada harapan lima, sepuluh tahun mendatang –entah jadi ilmuwan, profesional, atau pengangguran– di samping terdapat keinginan untuk menyelesaikan makalah komprehensif atau mengajukan usulan skripsi dalam minggu-minggu ini. Ada bualan tanpa bermaksud membualkan ideologi pendidikan yang subordinatif terhadap globalisasi behaviorisme. Ada sisa idealisme untuk turut membangun kampus sebagai masyarakat (ilmiah) pendidikan yang tidak tradisional, tidak terlalu lamban mengejar ketertinggalan, serta mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif dengan profesi lain. Dan masih ada kerinduan terhadap suasana kuliah metafisika sebagaimana sejumlah mahasiswa meng-graifitti-kannya di tembok kamar pondokan. Selisih jarak dan rentang waktu antara filsafat dan sosiologi ke pendidikan kerapkali menyajikan tragedi dan komedi bagi sejumlah mahasiswa FSP.

*Data dari Ignas Kleden (Prisma 8, 1988) serta pembicaraan dengan Dasro, Darsono, Sumeh Swatono, dan Agung M. Abduh, 9 Agustus 1991. Tulisan ini sebagai promes untuk almamater, kampus Karangmalang, Prodi Filsafat dan Sosiologi Pendidikan FIP IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

15 responses to “Dari Filsafat ke Pendidikan dari Sosiologi ke Pendidikan

  • panca

    un karangmalang imajinaire

    Suka

  • imamsamroni

    antworten auf karangmalang

    Suka

  • mukti

    kangen masa-masa di kampus karangmalang. kayaknya kampusnya semakin megah, dab

    Suka

  • asuna17

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://pendidikan.infogue.com/dari_filsafat_ke_pendidikan_dari_sosiologi_ke_pendidikan

    Suka

  • imamsamroni

    megah-lah, sayang belum mampu melahirkan filsuf pendidikan atau sosiolog pendidikan, atawa peneliti yang handal di asia tenggara, atau pelamun yang menghasilkan traktat, or analisis yang berwibawa, utawi birokrat yang bervisi, … jadi politikus yaulah

    Suka

  • Narto van Rembang

    Ha … ha … ha…, ente lulus juga dari kampus, Im?
    Salut, tapi butuh berapa semester tuh? aku iseng-iseng nemeni anak ngenet di rumah. ente tahu dari dulu aku gaptek. skripsiku kan ketikan rental, belajar ws susah, ha … ha … ha…
    Ketika anakku cari data lewat google kok enak. aku suruh ketikkan namamu, aku bilang tuh temen ayah yang paling sableng di kampus tapi beda fakultas, lho kok ente sdh jadi selebritis. Banyak berita.
    mulanya pangling, habis ente sekarang gundul, gak gondrong. gemuk lagi. makmur ya sempat jadi anggota dewan?

    Masih keliling dengan seminar, Im? biasa, cari makan yang bergizi. okelah, besok aku kontak. tapi yat susah kalau hanya email. nostalgia di kos demangan ha … ha … ha…

    Suka

  • Maz Diman

    He .. pak Dewan (mantan, ha2).
    Mugo-mugi isih eling karo aku, yo biasanye dhisik sering diskus neng kos-ku, yo karo Agung Muh Abduhbiyung, he2….
    Trus, gak mari-mari le kuliah, demo ndek kampus, lha malah di”dukani” bu As, ha… ha …
    Kapan iso kumpul² maneh, ayo … oh yo Yusuf CK ndek endi saiki?

    Kog saiki bothak? kakeyan mikir yo? jari Bantul projotamansari, opo maneh sing dipikir nek wis urip mulyo, ha… ha…

    Met tahun baru ’09, good luck!!!!!

    Suka

  • iswekon

    Wah, arep mbales nanggo basa kera ngalam ora isa, mas.
    Hpku ilang dadi kontak kanca-kanca lali. Mas Yusuf ning Bangka TV, mas Agung ning AKRAB Lowanu, mas Idrus ning UII, Sumeh Swatono dadi Ki Guru ning Bogor. Aku … biasane nanggur, nganti botak.
    Mbok aku nyantri N-Vivo ning njenengan? Ben aku dikira peneliti je

    Suka

  • Sugeng Subagya

    Aku FSP angkatan 1982, istriku angkatan 1984. Sekarang lebih banyak menggeluti bidang in-formal. Soale mau jadi ilmuwan nanggung, mau jadi prektisi mogol. Kunjungi blog susub.blogspot.com untuk sekadar silaturahim. Tks.

    Suka

  • imam samroni

    Maturnuwun, Ki Sugeng Subagya. Wekdal nengga dosen wonten fakultas, angkatan 1982 & 1984 dados mitos: Angkatan ingkang pinter. Menawi angkatan 1986 kados kula rombongan sisa laskar Pajang.
    Blog njenengan kula pasang. Nuwun

    Suka

  • idah maulidah

    Dari Filsafat Ke bahasa Inggris.
    Mahasiswa FSP 1986 hampir putus asa ketika jurusan ini ditutup untuk angkatan berikutnya, karena jurusan ini MADESU. Siapa bilang?? Tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat selama manusia tahu rahasia menyibak tabir kegelapan. MADESU berlaku hanya bagi orang yang tidak mau membuka diri untuk kemashlahatan orang lain. Ilmu dunia begitu luas, tidak mentok di filsafat dan sosiologi saja. Alumni filsafat pun bisa menjadi guru bahasa inggris yang handal tanpa harus jalan2 ke negara berbahasa Inggris.

    Suka

  • Jamael Saragih

    Betul. Dalam hidupku aku bersyukur kuliah yang mempelajari filsafat dan sosiologi, walau dulu sempat bingung mau kerja apa nanti sebab dilapangan kerja kurang diakomodasi pengetahuan ini ssecara institusi. Tapi justru karena belajar filsafat maka saya bisa memahami bahwa pekerjaan kita tak harus sesuai dengan jurusan. Dan itu semua orang udah tau kok sebenarnya. Kayak Laksamana sukardi alumni ITB fakultas teknik malah jadi banker dan jadinya menteri. Bukan hanya bisa jadi guru bahasa inggris saja. Reaksi cepat langsung diambil oleh Kristianto dimana masih baru lulus, eh langsung jadi guru bahasa Jepang di Cilacap. Tahun 92 kalau tak salah. Peristiwa itu sangat berkesan bagi saya. Nah kalau saya sih ya dibidang marketing lah. Thanks

    Suka

  • imam samroni

    idem, bang. meskipun diluluskan dengan IP “tidak berkeberatan.” berfilsafat, bersosiolog, berpendidikan, … itu dasar-dasar untuk menghidupi hari ini. salam sukses!

    Suka

  • agng m abduh

    Aku FSP 85…. ada satu peristiwa menyentak ketika siang itu aku di fakultas FIP tahun 90 an… burung emprit yg di pohon beringin itu… kesana kemari… buat rumahnya…. nah.. nah lha wong manuk emprit yg kecil itu dan hanya punya paruh saja bisa bikin rumah kok… lha kok kenapa kita yg sudah dikasih otak, dikasih ilmu, dikasih kesempatan kok gamang dalam menatap masa depan !!!! … nah sejak itu membaralah jiwa ini… dan beraneka jabatan dan kesempatan pernah kurasakan… dan kesimpulannya adalah bahwa hidup itu adalah sangat mudah bila kita punya kemauan, komitmen, konsisten dan punya integritas…. sayang kesadaran itu baru saya dapatkan ketika kuliah mau selesai… kok sejak awal..akan mungmin beda cerita… tp sy tak pernah menyesal… wong hidup ini ya hanya gitu-gitu saja… dapat kita buat terang benderang maupun redup… jangan takut menghadapi hidup kawan….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: