Syahadatain, Sekaten, dan Perayaan

serambi-jumat1

Serambi Jumat KORAN MERAPI 30 Maret 2007

Saya beruntung dapat mengikuti kajian Selasa Pon kemarin di serambi masjid kampung. Atas permintaan jamaah, Dik Yusni mengisahkan kembali peristiwa sekaten, dari jaman Demak, Pajang, dan Mataram.
”Sekaten awalnya adalah media syiar Islam, dengan momentum hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam. Asal katanya “syahadatain” atau dua kalimat syahadat. Dalam perkembangannya menjadi kata Sekaten. Ini adalah hal yang biasa dalam peristiwa bahasa,” demikian Dik Yusni mengawali kajiannya. ”Kata Yusuf, di tempat lain diucapkan Yosef, atau Yosefin, atau Yusup, atau bisa juga panjenenganipun Mang Ucup.” Mang Ucup yang duduk di barisan depan senyum-senyum senang, karena namanya disebut.

”Sekaten pertama kali dikembangkan Raden Patah atau Sultan Syech Ngalam Akbar I sebagai penguasa pertama Kerajaan Demak pada 1477. Karena rakyat senang dengan gamelan, Raden Patah menitahkan pembuatan gamelan yang bernama Kiai Maesasura dan beduk yang disebut Kiai Kholiq. Jadi, gamelan menjadi sarana dakwah untuk menggantikan kepercayaan upacara kurban yang kala itu diimani rakyat. Beberapa wali turut membantu dengan mengkreasi sejumlah gending. Ya kanjeng Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, dan Sunan Giri.”

“Gamelan itu ditempatkan di atas pagengan, sebuah tarub, di depan halaman masjid, dengan hiasan beraneka ragam bungan-bungaan yang indah. Demikian juga gapuranya. Ketika gamelan dimainkan, rakyat pun berdatangan. Di muka gapura, para wali memberikan wejangan. Karena bahasanya memikat, banyak orang menjadi tertarik masuk ke masjid, untuk mendekati gamelan. Setiap pengunjung yang ingin berkomitmen dengan Islam dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat, dengan terlebih dahulu berwudlu melalui pintu gapura. Secara simbolis, barang siapa yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian masuk ke dalam masjid melalui gapura (dari bahasa Arab Ghapura), maka segala dosanya sudah diampuni oleh Allah.”

“Inilah kreativitas njeng Sunan dan kawan-kawan sebagai ulama bersama Raden Patah sebagai penguasa. Keputusan yang genius. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana proses penyusunan proposal kelayakannya,” tanya Dik Yusni kepada jamaah. Penceramah yang masih kuliah ini memang lihai menghidupkan forum. Sorot matanya yang sejuk seperti menyapa seluruh peserta. ”Kondisi rakyat memang senang dengan seni dan budaya yang ramai. Yang nge-poplah. Hal ini dilanjutkan oleh kerajaan Pajang hingga Mataram. Bahkan sampai sekarang. Pembukaan sekaten tetap ditandai dengan pemukulan gamelan.”

Saya menjadi paham setelah tanya jawab. Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian, mampu mengajak peserta untuk saling berbagi cerita pengalaman menonton sekaten kemarin. Ya saur-manuk, tapi mat-matan.
”Setiap 12 Maulud ’kan diadakan perayaan Grebeg Mulud yang bertepatan dengan kelahiran kanjeng Nabi Muhammad. Tanggal 11 malamnya, dibacakan riwayat hidup Nabi. Menjelang perayaan, tanggal 5-12, dua perangkat Kagungan Dalem Gamelan, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga, yang ditempatkan di Pagongan depan Serambi Masjid Agung dibunyikan.” Paklik Sriyono berkesempatan membuka tanya-jawab.

”Malam sebelum Grebeg, Ngarsa Dalem Ingkang Sinuwun atau utusannya berkenan hadir di serambi Masjid Besar. Nah, jika bertepatan dengan Tahun Dal, Sri Paduka Sultan yang berkedudukan sebagai Penata Gama Khalifattullah (pemimpin agama) kersa dhahar kembul (santap malam bersama). Kalau Pak Edi tidak perlu menunggu tahun Dal untuk makan malam bersama. Lha, anggota Dinner Club di sejumlah hotel?” Pak Edi Safitri yang datang terlambat hanya mengangguk-angguk. Dia memang pernah bercerita kalau tradisi makan malam bersama berasal dari kebiasaan raja dan aristokrat Eropa. Untuk itu dia memang harus membayar mahal. Lha wong untuk lobi-lobi.”

”Jadi bermula dari syiar keagamaan, menjadi tradisi, rakyat berperan serta dalam perdagangan, pemerintah mengatur agar semuanya mengambil manfaat dari seakten. Pengunjung tumplek-blek bersama-sama menikmati panggung hiburan kesenian. Tentunya juga untuk merasakan nasi gurih dan kapur sirih (kinang), membeli pecut (cambuk), bahkan pernah hanya untuk menonton dangdut, terutama goyangnya itu lho,” lanjut Pakde Adib Susila.

“Ritual haji perlu didukung penyelenggara yang kuat. Jangan karena hal katering, malah mengganggu ibadah. Demikian juga Sekaten. Peristiwa keagamaan ini ya butuh dibantu budayawan, ekonom, dan para bijak yang lain. Pasar Malam Perayaan Sekaten dan peristiwa Sekaten adalah pencerahan buat kita. Pencerahan seperti apa? Mari kita bersama-sama membaca QS Al Anbiya: 107. WaMa- Arsalnaka Illa- Rahmatan lil’Alamiyna. Artinya, Dan tidaklah Kami mengutus engkau (hai Muhammad) melainkan rahmat untuk banyak alam.” Usul Mas Fauzi, yang duduk di pojok serambi. Peserta setuju.

Dik Yusni mengusulkan PR (pekerjaan rumah) untuk peserta kajian. Yaitu Maulud Nabi sebagai Rahmatan lil’Alamiyn adalah menghilangkan alam perbudakan, apapun pemahaman kita. Dan sebagaimana biasanya, Pakde Adib Susila menegaskan bahwa PR itu dapat dikumpulkan minggu depan, tahun depan, atau sepuluh tahun lagi. Biar kami terus belajar tentang hidup dan kehidupan. Bukankah saya sudah belajar pasang-surut sekaten, yang ternyata untuk meneladani kanjeng Nabi Muhammad. Saya akan ngangsu kawruh kepada para sesepuh yang lebih mengetahui ada apa dengan perayaan Sekaten. Bukankah jaman Demak dan sekarang rakyat senang dengan keramaian yang nge-pop?

Imam Samroni, staf Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: