Mbah Dullah dan Veteran

serambi-jumat13

Serambi Jumat KORAN MERAPI 10 Agustus 2007

“Kami mendengar Belanda akan menjajah kembali. Sebagai muslim, saya meyakini bahwa Muhammad diutus untuk mengelola Rahmatan lil’Alamiyna. Bersama teman-teman, kita berjuang menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Dan ingat pesan al-Qur’an surat Ar Ra’d: 11, yang artinya ‘Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka itu mengubah keadaan dirinya.’ Kita ikhlas berjuang untuk tegaknya republik Indonesia.”
Kami mendengar dengan takjub cerita Mbah Dullah, mertuanya Paklik Sriyono, yang tinggal di Ambarawa. Dengan suara pelan dan datar, mbah Dullah mengisahkan pengalaman hidupnya: Pensiunan guru, pernah aktif di Tentara Pelajar, akrab dengan sejumlah tentara, juga pegiat kebersihan kampung untuk urusan sampah.

“Mbah Dullah mempraktikkan inti dakwah Islam, yaitu membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah) ke tempat yang terang-benderang (kebenaran),” pakde Adib Susila berkomentar lantas membaca surat Al-Baqarah: 257 yang artinya, “Allah pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

“Tanpa pekik ’Indonesia Merdeka!’ dari Oto Iskandar di Nata dan Bung tomo, kemerdekaan Indonesia lepas. Saya banyak belajar dari laskar rakyat. Mereka pahlawan, mereka memperjuangkan keutamaan, kepemimpinan, juga ikhtiar untuk mencapainya. Salah satu kodrat manusia adalah sifat mulianya untuk menjadi pahlawan. Sayang nasib baik belum berpihak ketika mereka sudah menjadi veteran,” tambah Mbah Dullah.

“Inilah Indonesia kita, mbah,” sambung Dik Yusni. “Ada UU No. 7 Tahun 1967 tentang Veteran Republik Indonesia, yang sampai sekarang masih berlaku tetapi isinya belum diberlakukan. Kata koran, ada sekitar 100.000 veteran yang masih berusaha memperjuangkan hak-hak keveteranannya dari total 380.000 veteran di Indonesia.”

“Dulu orang China bilang Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan), sedangkan orang India ngomong Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang) untuk menyebut nama Indonesia,” kata Pak Edi Safitri.

“Kata ‘Indu-nesians’ dimuculkan George Samuel Windsor Earl, pada 1850, untuk menyebut rumpun Polinesia yang berkulit sawo-matang. Demikian juga James Richardson Logan, ET Hamy, AH Keane, atau Adolf Bastian. Tokoh pergerakanlah yang membuatnya populer,” timpal Dik Brahim.

“Terima kasih Dik Edi dan Nak Brahim untuk sejarah nama Indonesia. Saya tertarik cerita nak Yusni barusan. Artinya, setiap masyarakat membutuhkan pahlawan dan masyarakat itu sendiri sesungguhnya mempunyai pahlawan. Tentang perhatian kepada para veteran, itu memang tanggung jawab pemerintah dan kita. Ingat, 10 Agustus adalah hari Veteran,” kata Mbah Dullah.

Kami menjadi malu. Kami lupa kalau sekarang adalah hari Veteran. Maklum tidak sepopuler hari proklamasi, pahlawan, atau pendidikan. Simbah-simbah veteran juga tidak pernah demo untuk menuntut hak-haknya yang sudah dijamin undang-undang.

“Saya juga berterima kasih kepada dik Susilo dan kajian bergaya ‘saur manuk’ di serambi ini. Cucu saya yang sering bercerita betapa guyubnya takmir untuk menghidupi masjid di sini,” Mbah Dullah berkata tegas.

“Ada berita dari kota Tallinn, Estonia, ketika pemerintah memindah monumen Bronze Soldier, 27 April yang lalu. Rakyat ingin memindah patung setinggi 2,5 meter itu sebagai simbol 50 tahun pendudukan Soviet. Sebaliknya, warga yang berbahasa Russia melihat sebagai perjuangan tentara Soviet melawan Nazi saat Perang Dunia II. Hubungan negara Estonia-Russia menjadi tegang,” papar Mas Fauzi. “Artinya, menghormati veteran tetap proporsional.”

Kami sepakat, kasus Estonia tidak terjadi di Indonesia. Kami mencatat jasa-jasa para veteran, sebab selama ini kami tak acuh dengan mbah Dullah dan kawan-kawan. Kami harus meningkatkan mutu silaturahmi. WaLlahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf PSI UII

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: