Koperasi dan Kooperasi

serambi-jumat15

Serambi Jumat KORAN MERAPI 13 Juli 2007

Sesudah shalat maghrib tadi malam, saya mengikuti kajian rutin di serambi masjid kampung. Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian, membuka dengan kutipan dialog Cak Nun (Emha Ainun Najib) dan Mohamad Sobary saat “Gelar Budaya Koperasi” setahun yang lalu:
“Lombok bisa terasa enak asal bisa berkoperasi dengan sayur-sayuran dan juga dengan bahan masakan lainnya tanpa ada keinginan untuk menonjolkan dirinya. Artinya, berkoperasi adalah kesediaan setiap orang untuk mewujudkan dirinya sebagai satu kesatuan unsur bersama orang-orang lain dengan mengorbankan sedikit kepentinganya.”

Kami tersenyum melihat Pakde Adib Susila yang bergaya seperti juru pidato: Tangan terkepal ke atas, tetapi kepalanya geleng-geleng kekiri dan kekanan. Lantas Paklik Sriyono mengingatkan bahwa 12 Juli adalah hari koperasi Indonesia:

“Menurut catatan sejarah, Tirto Adisuryo selaku patih Purwokerto membentuk lembaga swadaya untuk menanggulangi kemiskinan di kalangan pegawai dan petani pada akhir abad ke-19. Dalam perkembangannya, lembaga ini dibantu oleh kolonialisme Belanda dan menjadikannya program resmi. Inilah cikal-bakal lembaga koperasi.”

”Saya kok teringat Bung Hatta ketika mengunjungi Skandinavia, terutama Denmark, pada 1930-an. Sebagai wakil Indonesia dalam gerakan Liga Melawan imperalisme dan Penjajahan, beliau melihat koperasi-ekonomi yang pro-pasar sebagai alternatif,” tambah Dik Yusni. “Dan beliau yang meletakkan dasar-dasar koperasi.”

“Koperasi memang enak dibicarakan, tetapi sebagai pilihan berusaha saya belum tertarik. Susah berkembang, Dik. Jika punya modal, saya pilih yang berbadan hukum persero terbatas atau yayasan,” tandas pak Edi yang wiraswasta.
“Saya sepakat dengan pak Edi,” tambah Dik Brahim, warga baru di kampung kami. ”Koperasi kita hanya jago kandang, bukan kandangnya jago.”

“Bagi Bung Hatta, penyelenggaraan demokrasi ekonomi adalah harga mati,” saya mengingatkan. “Pasal 33 UUD 1945 menjamin, perekonomian harus disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”

“Mari kita membaca koperasi di Jogja,” Pak Edi Safitri membaca kliping koran. “Ada 648 unit atau sekitar 32 % dari total 1.991 koperasi di Propinsi DIY tidak aktif dengan berbagai alasan. Data tahun 2006 dari Pak Syahbenol Hasibuan, Kepala Disperindagkop DIY, menyebut partisipasi anggota yang semakin rendah, tidak mulusnya proses regenerasi antarpengurus, dan sebagian bahkan terjerat utang.”

”Dari koerasi yang aktif, jumlah anggotanya mencapai 550.000 orang, jumlah modal mencapai Rp 375 miliar dengan nilai usaha sebesar Rp 731 miliar. Sedangkan kumlah sisa hasil usaha yang dibagikan mencapai Rp 21 miliar,” tambah Paklik Sriyono. ”Kembali ke Pasal 33 UUD 1945, mestinya koperasi lebih mampu.”

”Salah satu penyebab krisis ekonomi adalah kegiatan spekulatif (maisyir), seperti bermain fluktuasi kurs mata uang. Ini adalah bisnis besar sebagai konsekuensi tidak adanya mata uang tunggal. Sistem yang berstandar emas (atau perak maupun perunggu), yang berasal dari kekaisaran Romawi dan Persia, dan tetap berlaku sejak zaman Rasulullah SAW hingga era Turki pada 1924, ternyata lebih stabil.”

Saya teringat laporan koran tentang kondisi warga pulau-pulau terluar. Terabaikan, tertinggal, juga belum adanya kesempatan buat saya untuk mengenal mereka, sebagaimana perintah Al Quran. Kajian tadi malam sungguh bermakna. WaLlahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf PSI UII

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: