Tragedi dan Penyelamatan

serambi-jumat17

Serambi Jumat KORAN MERAPI 15 Juni 2007

“Ada persamaan dan juga perbedaan anntara Drakula dan Dewatacengkar. Persamaan keduanya adalah peminum darah. Perbedaannya adalah dalam eksekusi: Kalau Drakula dibunuh dan tamat filmnya, sedangkan Dewatacengkar berubah menjadi Buaya Putih di laut.”
Demikian kesimpulan Pak Edi Safitri sewaktu kajian rutin tadi malam di serambi masjid kampung. Kami semua yang hadir hanya tersenyum-senyum. Bukan apa-apa, Pak Edi Safitri ternyata pintar bercerita. Novel Bram Stoker yang menceritakan makhluk Drakula abad ke-19, yang mestinya seram, bisa disajikan penuh canda dan selalu ditutup dengan pertanyaan.

”Di film yang saya tonton, Drakula Rumania itu berani mengisap darah hanya pada malam hari. Sedangkan siang hari malah tidur. Jika dia hidup di negeri tropis, wah bisa siang-malam berburu mangsa,” celetuk Mang Ucup.
”Siapa mangsanya, Mang?” tanya saya.

“Ya siapapun yang masih berdarah, yang masih hidup. Cerita barusan, Dewatacengkar hobi makan gulai daging manusia utuh dari rakyatnya. Saya kok lebih tertarik pada akhir ceritanya, Pak Edi. Bagaimana menyudahi dua pembikin tragedi kemanusiaan itu? Kita semua potensial jadi calon mangsa, karena kita masih hidup.” Kami sepakat dengan usulan Mang Ucup.

”Dalam cerita, Ajisaka menjadi legenda karena hadir sebagai penyelamat kemanusiaan. Konon Ajisaka itu seorang pemuda asing dari India. Ia tak tega menyaksikan penderitaan rakyat Medang Kemulan yang diteror oleh Dewatacengkar, rajanya sendiri. Maka Ajisaka menantang raja dengan meminta sebidang tanah selebar sorban yang dikenakannya, tidak lebih dan tidak kurang. Dewatacengkar oke-oke saja. Ia memegang satu sisi sorban dan sisi lain dipegang Ajisaka. Ketika digelar, ternyata panjang sorban tak pernah habis meskipun sudah berkilo-kilo meter digelar. Tanpa sadar Dewatacengkar mengukur tanah sampai tebing laut. Saat itulah Ajisaka mendorong raja lalim itu ke laut dan jatuh menjadi Buaya Putih. Ajisaka menjadi sang penyelamat rakyat dari kematian.”

”Ikhtisar kedua cerita sama,” komentar Paklik Sriyono, ”ada manusia yang menjadikan manusia yang lain melulu sebagai objek kehidupannya. Pertanyaannya adalah, apakah Drakula dan Dewatacengkar ada di keseharian dan lingkungan kita? Bagaimana mengenalinya? Bagaimana menolak dan menamatkannya?”

”Kita bisa membaca Drakula dan Dewatacengkar sebagai orang ataupun sistem.” Tambah Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian. “Yang menjadi korban adalah kita yang masih berdarah. Darah itu ‘kan tanda kehidupan. Kita mungkin pernah mengalaminya. Ketika melanggar tanda verbodden (larangan berbelok), saat mengurus perijinan, sewaktu menyelesaikan KTP, atau yang lain.”

”Wah, kalau urusan itu kan bisa dibicarakan dan selesai, Pakde Susila,” komentar Mas Fauzi. “Masalahnya adalah jika kita membacanya sebagai sistem, sebagai budaya. sebagai ismun (isme, ajaran)? Kita setiap hari hanya menjadi korban. Sumbangan sekolah yang tidak jelas laporan penggunaannya, iuran organisasi, sogok sana-sini untuk kerja.”
”Iqra! Iqra! Mari kita membaca penyelesaiannya. Drakula ditamatkan dengan dipantek dadanya di siang hari saat tidur. Dewatacengkar tidak dibunuh oleh Ajisaka, tetapi diubah menjadi buaya di laut. Bagaimana jika dibalik, yaitu Dewatacengkar yang dipantek dadanya? Yang justru kita saksikan dan alami adalah pola yang semakin canggih dan tak terlacak untuk mengobjekkan sesama. Mari kita membaca bersama Firman Allah,
Hai orang-orang beriman, taqwalah pada Allah dan mestilah setiap diri manusia itu mengkaji masa lalu untuk orientasi masa depan, dan taqwalah pada Allah, sesungguhnya Allah meliput semua apa yang kamu kerjakan.“ (QS. Al Hasyr ayat 18).

Saya melihat Pakde Adib Susila cukup bijak saban mengelola kajian rutin. Satu masalah didiskusikan dengan saur-manuk, siapapun yang hadir membincangkan untuk mencari duduk-perkara kebenarannya. Yang masih mengganjal saya adalah mengapa dalam kisah negeri Medang Kemulan sang penyelamat adalah pemuda manca? Tidak adakah warga setempat yang mempunyai kepakaran tepat waktu? Saya berdoa, Indonesia bukanlah Medang Kemulan. Saya yakin agama masih hadir dengan jawaban-jawaban yang menyelamatkan.

Imam Samroni, staf PSI UII

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: