Aco dan Sepiring Nasi

serambi-jumat137

Serambi Jumat KORAN MERAPI 7 Maret 2008

”Musibah keluarga Basri adalah musibah kita juga. Kasus Basri membutuhkan jawaban di tingkat kebijakan publik. Lingkaran kemiskinan Basri memperlihatkan ketidakberdayaan para pekerja sektor informal, dengan rendahnya pendidikan dan layanan kesehatan. Politik perhatian yang dilakukan fungsionaris Partai Gerindra Sulawesi Selatan niscaya ditindaklanjuti dengan kebijakan pemerintahan.”
Demikian pengantar Mas Ahmad Subagya, analis kebijakan publik dari Prajatama Consulting, ketika membuka diskusi rutin tadi malam di serambi masjid kampung.

”Hanya dalam waktu sehari, Basri kehilangan istrinya Daeng Basse yang tengah mengandung 7 bulan dan anak sulungnya Bahri. Sedangkan anaknya yang lain, Aco, Alhamdulillah selamat dan masih di Rumah Sakit Haji, Makassar,” tambah Pakde Adib Susilo, takmir sekaligus pengasuh kajian. ”Dik Brahim mengumpulkan berita media massa dan memasukkannya dalam web masjid kita.”

Dik Brahim memperlihatkan laptop yang berisi daftar kliping berita koran dan foto yang memperlihatkan kondisi lingkungan rumah Basri di Jalan Daeng Tata II Blok 5 Lorong 2 Parangtambung, Tamalate, Makassar. Rumah panggung berdinding kayu, lorong jalan yang sempit dan terendam air, juga kangkung liar yang bercampur sampah buangan dari Pasar Pa’beng- baeng. Dan kami sungguh terhenyak ketika mengamati foto Aco, anak Basri yang selamat.

”Aco mengalami muntaber akut. Aco yang baru berumur tiga tahun telah menanggung derita dari kebijakan yang ada,” komentar Pak Edi Safitri.

“Secara teknis ini masalah pendataan keluarga miskin untuk mendapat layanan kesehatan dari pemerintah kota Makassar,” tambah Dik Brahim. “

“Betul,” sahut Mas Ahmad Subagya. “Yang menjadi pelaksana teknis adalah Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan Badan Pemberdayaan Masyarakat. Warga sekitar Parangtambung juga sudah bertindak tepat, yaitu melarikan Aco ke rumah sakit setelah satu jam kematian ibu dan calon adiknya yang masih di kandungan.”

“Isu ‘tiga hari tidak makan’ sebagai penyebab kematian, itulah masalahnya,” sambung Paklik Sriyono. “Jadi betapa sepiring nasi merupakan hasil ikhtiar yang luar biasa. Upah Basri sebagai penarik becak, harga kebutuhan sehari-hari yang merangkak naik, hak anak untuk tetap hidup, juga kebijakan pemerintah yang belum mampu menyejahterakan keluarga Basri.”

“Saya tertarik dengan disertasi Erman Suparno, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, (Selasa (4/3), ” kata Pak Edi Safitri. “Yaitu keterhubungan sistem pendidikan dengan pasar kerja. Pasar kerja hanya menyerap 800 ribu dari 2,3 juta jiwa angkatan kerja baru setiap tahun. Basri mewakili warga negara kurang produktif dan tidak berkompetensi. Tetapi bagaimana Basri bisa produktif, jika untuk makan sehari-hari saja susah? Bagaimana Basri berbicara kompetensi, lha untuk sekolah atau kursus keterampilan tidak punya uang?”

Kami sepakat dengan alasan-alasan yang disampaikan Pak Edi Safitri. Pengalaman lapangan beliau telah diperkaya dengan mengelola pengajian bisnis Al-Kautsar di DIY.

“Banyak orang mengatakan sekarang adalah jaman pancaroba. Kalatida yaitu zaman edan dan kalabendu sebagai jaman rusak-rusakan. Orang menantikan kalasuba, yaitu datangnya keadilan dan kemakmuran yang juga dapat dirasakan oleh Aco,” kata Pakde Adib Susila. “Kita bisa berkonsultasi dengan surat Al-Balad 13-16, untuk mengupayakan kebijakan publik yang barakah. Mari kita membacanya bersama-sama: ‘Pertama adalah membasmi perbudakan. Kedua, memberi makan pada musim kelaparan dan paceklik, kepada yatim-piatu dan sanak kerabat. Ketiga memberi makan orang miskin yang sudah makan tanah.’”

Kami membacanya dengan sepenuh hati. Kami menyimak pesan-pesan yang diperlihatkan foto Aco. Kami mengimani yang disampaikan mas Rendra, dalam pidato penerimaan gelar doktor honoris causa dari UGM (Selasa (4/3). Kalasuba tidak bisa sekadar dinantikan dengan sabar dan tawakal. Bangsa Indonesia sendiri yang harus aktif mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum, dan tata kenegaraan agar tercipta daya hidup dan daya cipta bangsa yang lebih baik. Dari serambi masjid kampung, mas Ahmad Subagya menegaskan pentingnya kebijakan publik tentang sepiring nasi untuk Aco. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

One response to “Aco dan Sepiring Nasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: