Belajar dari Fitna

serambi-jumat135

Serambi Jumat KORAN MERAPI 18 April 2008

”Secara pribadi, saya sebenarnya malas untuk membicarakan film ’Fitna’ bikinan Geert Wilders. Suatu saat politisi Belanda itu bilang bahwa ia tak membenci Muslim, tetapi tak suka kepada Islam. Dan ketidaksukaannya disebarkan ke seluruh dunia melalui situs liveleak, YouTube, Google Video, dan fasilitas internet yang lain. Berdasar protes dan demo umat Islam dan kaum beriman, ’Fitna’ telah sukses menjadi fitnah itu sendiri.”
Demikian pengantar Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian, ketika membuka diskusi rutin di serambi masjid. Atas permintaan teman-teman, kami mendiskusikan film “Geert Wilders – Fitna the movie (Official English).” Alhamdulillah, meskipun dengan undangan SMS, Pak Bambang Wahyu Nugroho dari UMY dan Pak Dartoyo dari UPY berkenan hadir sebagai narasumber.

”Bahkan Menkominfo Mohammad Nuh telah mengirim surat edaran tanggal 2 April kepada APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) –yang terdiri 146 ISP (Internet Service Provider) dan 30 NAP (Network Access Provider)– serta IIX (Indonesia Internet Exchange). Intinya, dengan segenap daya dan upaya, para pihak diultimatum untuk memblokir situs maupun blog yang melakukan posting film tersebut,” tambah Pak Bambang Wahyu, yang dosen hubungan internasional.

“Pak menteri menulis bahwa ‘Fitna’ berpotensi menimbulkan gangguan hubungan antar umat beragama dan harmoni antar peradaban tingkat global. Menurut saya, film tersebut hanyalah kampanye politik kecil-kecilan dari Wilders. Jadi, bukan omong kosong benturan peradaban! Apalagi Islam melawan Barat,” tegas Pakde Adib Susilo. “Pemerintah Belanda, PBB, Uni Eropa, serta semua negara mengecam Wilders dan filmnya.

“Liveleak.com mencabut berkas film tersebut dari servernya karena adanya ancaman terhadap para karyawan. Situs video YouTube.com menyusul. Kita masih ingat ketika pemerintah Pakistan menyuntik YouTube pada Februari 2008 dan mematikan akses 2/3 penggunanya,” kata Pak Dartoyo, sejarawan dari kampus Sonosewu. “Tanggal 3 April siang, ketika saya membuka YouTube, pengunjungnya lebih satu juta orang.”

“Pemblokiran, apalagi didahului dengan tekanan internasional, justru menggoda orang untuk mencari. Wilders tentunya paham itu,” sela dik Brahim.

“Saya sudah menonton Fitna yang asal comot sana-sini,” kata Pak Edi Safitri dari Yayasan Al-Kautsar. “Mari kita bikin dan cemplungkan film kajian di masjid kita ini ke YouTube. Wush, wush, dan semua warga dunia bisa menonton kita. Lebih barakah karena tidak ada yang marah dan protes.”

“Persepsi Wilders mencerap bahwa kenyataan Islam hanyalah praktik teror. Jyllands-Posten, koran Denmark, ketika memuat 12 kartun Nabi Muhammad SAW pada 30 September 2006 juga sama. Akibatnya adalah demo dan pendudukan bersenjata disertai perusakan dan pembakaran terhadap yang serba Denmark dan Barat. Dengan kecepatan pemberitaan global, konfrontasinya justru berdarah-darah,” kata Pak Bambang Wahyu.

“Akar masalahnya adalah kesiapan untuk berdialog,” komentar Pak Dartoyo. “Ada suasana Islamophobia yang diwariskan budaya Kerajaan Belanda (Koninkrijk der Nederlanden). Bagaimana mengatasi kesalahpahaman dan permusuhan melalui dialog yang tidak saling memfitnah?”

“Jika Wilders mempunyai kebebasan berbicara, kita juga mempunyai kebebasan untuk mendengar atau tidak mendengar. Termasuk tidak membeli dagangannya,” ucap Pak Edi Safitri. “Semoga fitnah Wilders dilemparkan ke tempat sampah sejarah dan tak seorang pun mengingatnya.”

“Dan semoga kita tidak larut di dalam provokasi. Sebab orang yang menghinakan orang lain pada hakikatnya menghinakan dirinya dengan berlipat ganda,“ tegas Pakde Adib Susila. “Sunah kanjeng Nabi Muhammad, carilah keluhuran dengan salah satu dari tiga hal, yaitu menyayangi orang yang membenci kita, berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita, dan mempersaudarakan orang yang memusuhi kita. Wilders mungkin baru mengetahui Islam yang terpotong-potong.”

Dari serambi masjid kampung, kami belajar untuk tidak terpancing ulah Wilders, karena kami memang bukanlah ikan. Ada hal yang lebih mendasar buat kami, yaitu membangun Islam sebagai jamiah yang mandiri dalam pendidikan, kesehatan, dan pendapatan. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: