Belanja dan Ramadan

serambi-jumat121

Serambi Jumat KORAN MERAPI 14 September 2007

”Ali ibn Abi Thalib, dalam Nahj al-Balâghah, menulis ’Tuhanku, aku beribadah kepada-Mu bukan karena takut akan neraka-Mu, bukan karena rakus akan surga-Mu. Aku beribadah kepada-Mu semata-mata karena aku tahu, hanya Paduka yang berhak disembah.’ Dalam kaidah hukum Islam, ibadah –termasuk ibadah selama Ramadan– adalah cara manusia menghadap Tuhan. Alhamdulillah kita bisa melaksanakan ibadah di bulan yang penuh berkah ini.”
Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian, membuka pembicaraan. Kami duduk melingkar di serambi masjid kampung. Sesuai kesepakatan, selama Ramadan pertemuan dijadwalkan pukul 20.30-21.00. Bertindak sebagai koordinator adalah dik Yusni, termasuk merancang materi, buku rujukan, lembar penugasan dan penilaian, juga mengisi-ulang spidol jika habis.

Saya sendiri baru bergabung setengah tahun. Maklum warga baru. Yang saya alami, peserta harus aktif membahas dan menyimpulkan pokok masalah, yang beranjak dari keseharian.

”Shiyam atau shaum pada hakikatnya adalah menahan serta mengendalikan diri. Tetapi ingat sabda Nabi Muhammad SAW, ’Betapa banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga.’ Juga, ’Betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam (tarawih dsb.), tetapi hanya mendapatkan capai dan begadang,” tambah Paklik Sriyono.

”Selama sebulan penuh, bersama-sama kita mengalami dahaga dan lapar. Tujuannya adalah mendidik jiwa agar mencapai derajat takwa, yaitu pribadi yang mampu menahan diri dari berbagai godaan yang merugikan diri sendiri dan yang lain,” kata Mang Ucup. ”Tetapi seiring dengan berubahnya jaman, beribadah Ramadan menjadi semakin berat.”

”Kok semakin berat, Mang?” tanya saya.

”Iya, Dik. Meskipun perintah ibadah ramadan adalah wilayah agama, dalam pelaksanaannya tentu tidak terpisah dengan unsur budaya. Saya mohon nasehat tentang budaya jaman yang serba belanja,” komentar Pak Edi Safitri.

”Apa yang salah dengan berbelanja, Pak? Bukankah hadits Rasulullah menegaskan betapa besar pahala seseorang yang mau memberi makan atau minum kepada orang beribadah di bulan Ramadan?” tanya saya lagi.

“Untuk memberi makan-minum butuh berbelanja. Jumlah belanja tertentu berakibat inflasi, tapi bukan karena bersedekahnya,” sambung Dik Brahim. “Belum lagi pengeluaran selama sebulan lebih di luar anggaran. Ibu saya bilang kalau belanja selama bulan puasa lebih besar. Ya untuk minyak tanah, minyak goreng, daging dan telur ayam ras, jeruk, dan lain-lain.”

”Semoga kita termasuk orang yang beribadah karena bersyukur kepada Allah dan bukan karena menghendaki keuntungan. Soal haus dan lapar, saya sudah biasa prihatin,” lanjut Mang Ucup. ”Apa yang disampaikan pak Edi dan di Brahim merupakan permasalahan kita bersama, yaitu menahan diri dari berbelanja yang tidak perlu.”

”Para ulama selalu mengingatkan pesan ibadah puasa, yaitu tidak konsumtif, tabah, juga menolong sesama. Jadi berkah Ramadan adalah hadirnya Allah lewat perilaku seseorang untuk jujur dan mengajak kebaikan serta menolak kemungkaran,” kata Paklik Sriyono. ”Bagaimana mungkin kita berbelanja yang tidak perlu di tengah bencana dan kemiskinan yang harus ditanggung keluarga dan masyarakat?”

Iya, mungkinkah pesan hidup sewajarnya mendapat jawaban di tengah sambutan keranjang belanjaan, gumam saya. Dan saya telah bersiap menyisihkan sebagian kepentingan dunia untuk mempertebal iman serta memperbarui pemahaman. Marhaban ya Ramadan di kampung kami, semoga ketakwaan itu menjadi kuasa pencerahan budaya berbelanja. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

One response to “Belanja dan Ramadan

  • Iklan Gratis

    memang konsumtif seolah sudah menjadi bagian dari kaum muslimin saat ini. suatu hal yang sangat ironis dengan fungsi dari Ramadhan itu sendiri. hikmah supaya dapat berempati dengan yang hidup berkekurangan menjadi amat mahal ditemui, terkalahkan oleh nafsu syahwat yang hanya mengingunkan kepuasan diri.
    Iklan Gratis

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: