Berbisnis

serambi-jumat129

Serambi Jumat KORAN MERAPI 1 Agustus 2008

”Berdasar pengalaman saya, bisnis adalah kepercayaan, kejujuran, serta loyalitas. Dengan berbisnis, kita sebenarnya mempunyai pilihan untuk memilih strategi bisnis, apakah dengan selalu merujuk ‘isme’ Allah atau sebaliknya. Inilah pilihan sikap keberagamaan dan keislaman kita. Pelaku bisnis senyatanya adalah pekerja keras yang berani mengambil resiko. Secara bijaksana, kita bisa melakukan beberapa hal sekaligus, yaitu dengan menahan hawa nafsu dan tidak konsumtif. Dan Islam menuntun kita untuk selalu mengendalikan langkah bisnis kita.”
Demikian pokok-pokok pikiran tentang Islam dan bisnis yang disampaikan mas Heri Winarto, SE, MM, selaku narasumber kajian rutin di serambi masjid semalam. Mas Heri, direktur Zenith Motor, yang tinggal di Jombor Sleman berkenan hadir untuk berbagi pengalamannya mengelola bisnis otomotif yang dirintis sejak 1994. Penampilan beliau yang bersahaja justru mempertegas wawasan, jaringan lobi, serta visi globalnya.

”Praktik bisnis pada dirinya merefleksikan permasalahan mendasar secara keagamaan, kesejarahan, dan struktur ekonomi di mana kenyataan bisnis bertumbuh, berkembang, dan melakukan peranan. Pertumbuhan, perkembangan, dan permasalahan bisnis dewasa ini semakin mempertegas pentingnya jawaban-jawaban kaum beragama, apalagi kita sebagai muslim. Kita berharap, jawaban-jawaban kita akan mengurangi kadar kekacauan dan kebingungan tentang berbisnis,” kata Pakde Adib Susila.

“Pengalaman mas Heri merupakan pembelajaran buat kita. Kekacauan kita tentang bagaimana berbisnis boleh jadi bersumber dari ketimpangan, ketidaksesuaian, atau bahkan pertentangan antara harapan, keinginan, dan kemauan untuk berbisnis yang selama ini dilakukan umat beragama,” tambah Paklik Sriyono.

“Kata bisnis senyatanya sudah menjadi rezim berbahasa. Menurut kamus, bisnis adalah kata serapan dari bahasa Eropa yang artinya perdagangan atau usaha komersiil,” komentar Pak Edi Safitri, dari Pengajian Bisnis al-Kautsar. “Bisnis mampu menggerakkan, mengakomodasi, dan sekaligus menghukum para pebisnis. Nah, berbisnis merupakan kenyataan kesejarahan dalam Islam.”

”Nabi Muhammad SAW dan sebagian besar para sahabat adalah pebisnis dengan entrepreneurship kelas global,” sela pak Yusdani. ”Etos entrepreneurship jelas melekat di dalam diri umat Islam. Ingat, Islam adalah agama kaum pedagang, dilahirkan di kota dagang, dan disebarluaskan oleh pedagang ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Kita bisa mengkaji fenomena sejumlah etnis seperti Banjar, Bugis, Gorontalo, Minang, dan Pidie. Kaji juga wilayah bisnis seperti Ceper, Kajen, Kotagede, Laweyan, Majalaya, dan sebagainya.”

”Kita sudah masuk pada situasi di mana praktik bisnis bukanlah untuk diri sendiri, melainkan berada dalam kepenuhannya dengan/bersama yang lain. Dan umat akan semakin menderita jika tatakelola bisnis justru memurukkan kehidupan umat. Bagaimana bisnis berkembang jika daya beli umat sangat kecil?” kata Mas Heri.

”Situasi inilah yang dianggap citraan bisnis umat: Serba kalah dan tidak mampu tumbuh,” tegas Dik Brahim.

”Kondisi umat kita sebenarnya tidak jelek-jelek amat,” kata Mas Fauzi, yang barusan datang dari perjalanan keliling Eropa. ”Saya optimis, dengan tatakelola yang baik, bisnis umat bisa berkembang. Kita butuh kepercayaan, kejujuran, dan loyalitas dengan ukuran sekarang serta selalu merujuk ‘isme’ Allah.”

Pakde Adib Susila meminta kami untuk bersama membaca surat At Taubah ayat 105, ”Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

“Tentang ‘isme’ (ajaran) Allah dalam berbisnis yang disampaikan mas Heri, saya berharap menjadi PR kita. Ternyata ragam bisnis yang menyangkut jenis, layanan, metode, dan model penyelesaian konflik bisnis yang digerakkan isme Allah justru lebih bermaslahat untuk umat manusia. Pebisnis butuh jawaban-jawaban ini,” tutup Pakde Adib Susila. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: