Buku dan Kebangunan

serambi-jumat132

Serambi Jumat KORAN MERAPI 16 Mei 2008

”Dalam banyak hal, peradaban dunia adalah apa-apa yang dibangun dengan tulisan. Dengan piktograf, yaitu gambar simbolis untuk informasi tertentu, kita bisa memahami peristiwa di Sumeria (Iran-Irak sekarang) 5000 tahun yang lalu. Dengan hiroglif Mesir, piktograf Cina, dan terutama fonetik dari Fonesia 3000 tahun yang lalu, peradaban Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara, Etiopia, serta Korea semakin menyempurnakan huruf latin warisan Romawi. Sejarah mencatat buku-buku yang ditulis sarjana Muslim untuk menjembatani lintas peradaban ini. Sejarah juga merekam peran pergerakan Islam di Indonesia.“
Kami menyimak pengantar diskusi Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian, di serambi masjid semalam. Kami menyegarkan kembali lapisan-lapisan peristiwa 100 tahun kebangkitan nasional. Alhamdulillah, diskusi saur-manuk berlangsung mat-matan dan sangat menggugah. Bertindak sebagai narasumber adalah Bapak Mukalam yang dosen UIN Yogyakarta. Juga Bapak R. Totok Sugiarto dari Jogja Writing School dan Mas Satmoko Budi Santoso yang aktivis jejaring sosial.
”Para pendiri republik ini dibesarkan oleh aura politik pergerakan. Nafas intelektual Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Ki Hajar Dewantoro, dan yang lainnya dibangun dengan membaca buku. Tradisi membaca buku turut mengantarkan kemerdekaan ini,” kata Pak Mukalam.
“Buku selalu menawarkan kritisisme dan keberpihakan intelektual untuk mendobrak kejumudan berpikir. Orang membaca untuk mencari pegangan hidup beserta alternatif penyelesaian masalah. Buku juga menawarkan perlawanan dan pembebasan,” tambah Pak Totok.
Dengan kalem dan runtut, Pak Totok menceritakan bagaimana Eiji Yoshikawa menulis Musashi untuk menandingi Shogun yang ditulis James Clavel. Singkatnya, roman Musashi mampu melawan novel Shogun yang dianggap memanipulasi filsafat samurai Jepang.
“Masalahnya adalah bahwa buku bukan kebutuhan primer. Lebih baik membeli pulsa HP daripada buku. Ini masalah budaya yang memanipulasi pencarian ilmu. Ini harus kita lawan,” ujar Mas Satmoko bersemangat.
Mas Satmoko meyakinkan kami betapa budaya membaca adalah untuk membangun pemikiran, perilaku, dan budaya para pencari ilmu. Ajaran iqra mampu membawa kebangunan bagi kaum Muslimin untuk mengembangkan tradisi keilmuan. Mengutip al-Hadits “Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari ilmu, ia berada di jalan Allah. Dan tinta seorang pandai adalah lebih suci daripada darah seorang syahid.”
“Sejarah dinasti Abbasiyah di Baghdad, yaitu Khalifah Abu Jafar Al-Mansyur (755-758), Harun Al-Rasyid (786-809), dan Al-Makmun (813-833) mencatat penerjemahan karya-karya para filsuf Yunani. Pemikiran Aristoteles, Galen, Phythagoras, Euclides, Plato, atau Hypocrates pun terselamatkan dan dapat dibaca kembali sekarang,“ sambung Pak Mukalam.
“Sebagian karya yang terselamatkan di atas mampu menggerakkan kaum pergerakan untuk membangun Indonesia Raya. Membaca karya-karya Bung Karno, Bung Hatta, Pak Natsir, dan sebagainya mempertegas adanya keberagamaan yang membangkitkan keindonesiaan,” sela Paklik Sriyono.
“Para nabi dan rasul berjuang menegakkan risalah Tauhid agar umat manusia dapat berfungsi sebagai khalifatullah fil ardhi, yaitu kewajiban untuk memelihara dan memakmurkan bumi demi kemanfaatan bersama. Ini adalah amanah untuk memelihara, mengelola, sekaligus mengoptimalkan bumi. Bukankah kebangunan peradaban dimulai dari pandangan ini? Bukankah kebangkitan nasional butuh saling berkenalan (ta’aruf), berkomunikasi, dan bekerja sama (ta’awun) dalam kebaikan dan taqwa:
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal,” (Al-Hujurat:13).

Dari serambi masjid kampung, kami belajar memahami dan mencerap kembali peristiwa pergerakan yang menyatakan Indonesia Raya. Sebagai bagian dari peradaban besar, tindak lanjut setelah perintah membaca (al-’Alaq) adalah menuliskannya (al-Qalam), agar mampu menyingkap selimut-selimut yang meninabobokan (al-Muzzammil). Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

One response to “Buku dan Kebangunan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: