I’tikaf

Cahaya Ramadan KORAN MERAPI Minggu 21 September 2008

“Ada saat kita berdiam diri, mengambil jarak, dan memperkuat pengharapan untuk sesuatu yang lebih baik. Ada sunnah dari Kanjeng Rasul Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam yang akan kita lakukan yaitu i’tikaf. Secara syar’i, kita berdiam diri di masjid, sebagai bentuk ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan Ramadan –khususnya sepuluh hari terakhir– dengan mengharapkan Lailatul Qadr.”
Ramadan ke-21, alhamdulillah sehabis shalat malam, kami bersilaturahmi ke Gus Harun Purwanto, di Mlangi Sleman. Saya bersama Mas Firdaus Rizqi Sugihartaka, Mas Elfiantara Sugiharjatma, Bang Sayun, Mas Heri Winarto, dan Pak Andi Rudin Sitopan. Gus Harun melanjutkan penjelasannya:

“Ada hubungan antara i’tikaf dengan Lailatul Qadr, satuan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Inilah praktik kesungguhan untuk menghidupkan Ramadan, saat-saat yang penuh kebaikan, keutamaan, juga pahala yang melimpah, sebagaimana pernyataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.’” (HR. Muslim)

Kami mencamkan kata demi kata yang disampaikan Gus Harun. Kami juga berkomunikasi dengan bahasa hati apa arti memperbanyak dzikir, membaca dan membaca Alquran, ber-istighfar, juga berdoa serta menyelenggarakan shalat-shalat sunnah selama Ramadan.

“Di sejumlah perkumpulan eksklusif, prinsip i’tikaf juga diberlakukan. Ada saat orang mematikan handphone, tanpa listrik, mengambil jarak dengan rutinitas, sekaligus menyegarkan kedirian dengan bernyanyi sunyi. Untuk bergabung, orang harus membayar mahal,” komentar Mas Firdaus.

“Jalan spiritualitas modern, kata orang, diniatkan untuk mereguk kembali keterarahan batin,” sambung Bang Sayun.
“Penekanannya memang kesibukan diri untuk menyambut datangnya Lailatul Qadr, dengan kerinduan dan pengharapan yang sepenuh hati,” tambah Mas Elfiantara. “Jadi bukannya kesibukan untuk berfoya-foya. Ini masalah perimbangan, ya dengan praktik kebersahajaan.”

Kami kembali mencerap kediaman, jeda di antara kata-kata, di antara tanya-jawab.
“Kuasa pencerahan i’tikaf adalah meningkatnya rasa imaniyah kepada Sang Khalik di mana kita tawadlu’ sebagai ciptaan-Nya yang lemah. Inilah pembelajaran terbaik dengan mengalami sendiri. Jadi bukan berteori,” tandas Pak Andi Rudin.

Selanjutnya Gus Harun mengajak kami membaca bersama Alquran surat Ad Dukhan ayat 3-4 dan Al Qadar ayat 3-5,
Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (QS. Ad Dukhan: 3-4).

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (QS. Al Qadar: 3-5)

Insya Allah, sehabis shalat Subuh nanti, kami berniat untuk mencerap dan mengalami kesungguhan, keberkahan, juga kebersahajaan dengan ber-i‘tikaf di masjid Mlangi Sleman. Ya Allah sesungguhnya Paduka adalah pemaaf, maka maafkanlah aku. Ya Allah, semoga pembelajaran kerohanian ini mampu mendidik kami apa arti suci dan bersih. Ya Allah, berkatilah niatan kami untuk membaca kembali ruang-ruang negeri kami agar kembali putih. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: