Imlek dan Mengganti Musim

serambi-jumat111

Serambi Jumat KORAN MERAPI 8 Februari 2008

“Sejumlah tradisi lokal dan kesaksian para pengembara asing mencatat dakwah muslim China di Jawa mulai abad ke-14. Proses itu saling memberi dan menghormati serta menjadi akulturasi budaya China, Islam, Jawa. Hal itu terbaca pada masjid-masjid kuno di Jakarta, Banten, Semarang, Jepara, Demak, dan sebagainya. Juga pintu makam Sunan Giri di Gresik, arsitektur kraton dan taman Sunyaragi Cirebon, serta kontroversi beberapa kelenteng di Jakarta, Cirebon, Semarang, Tuban, dan Surabaya yang bekas masjid .”
Demikian pengantar Pakde Adib Susila ketika membuka kajian tadi malam. Sebagaimana biasa sesudah shalat Isya, kami menyelenggarakan lingkaran diskusi di serambi masjid kampung. Atas usulan Mang Ucup, tema yang dipilih adalah Islam China. Untuk itu, kami mengundang Mas Agus Utantoro, budayawan yang yang tinggal di Condong Catur Sleman, sebagai narasumber.

”Hari ini saudara-saudara kita yang China tengah merayakan imlek yang ke-2559. Imlek semula untuk memperingati pergantian musim di China, dari musim dingin ke musim semi. Nah, kita mengapresiasi apa arti musim semi itu,” alasan Mang Ucup.

”Data tentang dakwah muslim China di Nusantara sepertinya tidak disukai sejumlah pihak. Yang lebih dimunculkan adalah peranan Arab dan India. Hal ini lebih menyangkut politik sejarah,” kata Mas Agus.

”Akarnya adalah kebijakan kolonialisme Belanda yang memisahkan China dari pribumi. Pecinan dibangun, profesinya dibatasi, dan dokumen dibakar. Kita masih merasakan pengaruh Inpres No. 14/1967 yang melarang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China, meskipun Inpres No 6/2000 sudah mencabutnya. Imlek pun sudah diresmikan sebagai hari libur nasional,” lanjut Mas Agus Utantoro.

”Pengaruh imlek dalam skala global memang dasyat. Selama dua minggu ini praktis bisnis terhenti. Dan betapa kita sudah tergantung dengan buatan China,” sambung Paklik Haji Sriyono. ”Sungging Badar Duwung alias Cie Gwie Wan adalah muslim China yang meletakkan dasar seni ukir di Jepara. Bahkan sajadah, tasbih, baju muslim, Alquran digital, ya made in China.”

”Itulah gerak global yang menjadi ciri khas muslim China. Hubungan itu sudah berlangsung sejak Wangsa Syailendra pada abad ke-9. Babad Tanah Djawi, Serat Kandaning Ringgit Purwa, Carita Lasem, Babad Cerbon, Hikayat Hasanuddin, dan yang lain menyebut keberadaan Muslim China. Termasuk Raden Patah, penguasa Demak,” sela Mas Fauzi.

”Dengan sejarah panjang ini, bagaimana kita membaca muslim China dan Indonesia. Saya ini orang bisnis, Bapak-bapak,” tegas Pak Edi Safitri. “Apa kita mau boikot produk China? Mengapa kita masih menganggap aneh ketika orang China masuk masjid dan baca Alquran?”

“Muslim China cukup berperan ketika bersama Demak, Jepara, dan Tuban mengusir Portugis yang telah mencaplok Malaka pada 1511. Meskipun gagal, ini menjadi pembelajaran umat tentang strategisnya posisi Malaka sebagai lokasi bisnis,” jawab Dik Brahim. “Menjadi aneh jika kita masih menyoal muslim China. Xin chun gong xi, selamat memasuki musim semi, mari kita tinggalkan dinginnya komunikasi politik kita selama ini. Kita semikan sikap tawassuth, tasamuh, tawazun.”

“Pergantian dari musim dingin ke musim semi senyampang dari gelap menuju cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur). Hal itu merupakan inti dakwah Islam, yaitu membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang (petunjuk atau kebenaran),” simpul Mas Agus.

“Mari kita bersama membaca surat al-Baqarah ayat 257,” kata Pakde Adib Susila. “Allah pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Fenomena Imlek yang mendunia, sejarah dakwah muslim China di Nusantara, dan naiknya harga tempe menyadarkan kami. Kami butuh fikih sosial baru untuk mengganti kemiskinan dan keterbelakangan umat. Sistem zakat, infak, dan sedekah lebih dari sekedar bantuan sosial kemanusiaan semata, sebagaimana yang dipraktikkan muslim China. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: