Informasi dan Jaman

serambi-jumat131

Serambi Jumat KORAN MERAPI 4 Juli 2008

“Memimpin itu menderita, tegas H. Agus Salim yang tokoh pergerakan. Menjadi pemimpin harus tahu tanda-tanda jaman. Bukankah Islam sendiri adalah salihun likulli zaman wa li kulli makan (senantiasa relevan kapan pun dan di mana pun). Nah, kita mengalami suatu jaman di mana banyak informasi yang menegaskan tidak jujurnya pemimpin. Baik pemimpin formal maupun nonformal.”
Demikian pengantar Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian, ketika membuka diskusi. Sehabis shalat maghrib, sebagaimana biasa saya bergabung dengan teman-teman di serambi masjid kampung. Kami berbicara saur-manuk untuk bersama-sama mencari penyelesaian dan pencerahan.

Kami menjadi teringat ketika Pakde Adib Susila menjelaskan tentang masjid sebagai rumah Allah, rumah ilmu, dan rumah harta. Jika ketiga hal tersebut dapat berjalan baik, insya Allah masjid mampu menjadi jawaban terhadap permasalahan umat. Dan kami meyakini bahwa salah satu tugas pemimpin adalah menyeimbangkan ketiga hal tersebut.

“Saya juga mau menegaskan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab mengambil penderitaan rakyat. Dalam salah satu kesaksiannya, Ngarsa Dalem sudah membaca betapa zaman berganti mengikuti kala yang berganti. Rakyat sudah berganti, merubah atau dirubah jaman,” tambah Paklik Sriyono.

“Dalam kepemimpinan Islam, terdapat prinsip-prinsip dasarnya, yaitu al `Adalah (adil), al Musawah (persamaan), al Ta`adudiyyah (kemajemukan), al Hurriyah (kemerdekaan), dan Syura (musyawarah). Mari kita dialogkan dengan tanda-tanda jaman yang berganti, sehingga kita mampu memaknai Islam yang rahmatan lil `alamin,” ajak Pak Edi Safitri.

”Kanjeng Nabi Muhammad itu pemimpin agama, juga negarawan, pemimpin politik, dan manajer yang cakap. Sebelas tahun menjadi pemimpin, beliau berhasil memecahkan permasalahan rakyat di seluruh jazirah Arab,” saya urun rembug. “Setelah Nabi, pemimpin negara disebut Khalifah. Khalifah Rasyida adalah periode dari Abu Bakar sampai Ali, yang bergelar al-khulafa’ al-rasyidun (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk).”

“Ada kasus, Umar bin Khaththab menolak gelar Khalifat-u Khalifat-i Rasul-u `l-Lah karena terlalu panjang dan cukup dengan Amir-u `l-Mukmin-in. Istilah Amir ini menjadi populer di samping sebutan Sultan untuk menunjuk pemimpin negara,“ Pakde Susilo menambah. “Konon sebutan Sultan diberikan oleh Khalifah Harun al-Rashid kepada Wazirnya. Semasa kesultanan Seljuk, istilah Sultan adalah pemimpin politik dan militer tertinggi, sedangkan Khalifah lebih terbatas untuk pemimpin keagamaan. Dengan jatuhnya Baghdad pada 1258, Khalifah hanyalah gelar kehormatan tanpa wewenang politik.“

“Ringkasan tarikh ini bisa dibaca, bahwa umat semakin beragam dan umat telah bersikap terhadap merosotnya kekuasaan politik kekhalifahan. Umat dengan didampingi ulama muak dengan informasi yang itu-itu saja: Perebutan kekuasaan telah melukai hati nurani umat dan tidak barakah,“ tandas Paklik Yono.

“Informasi tentang pemimpin yang tidak jujur dan amanah, bukan hanya masalah suap-menyuap, dengan mudah bisa kita dapatkan di media massa. Jaman sudah berubah. Sayidina Ali berpesan, bahwa ’Siapa yang merasa aman menghadapi jaman, jaman akan menghancurkannya. Siapa yang tinggi hati menghadapi jaman, jaman akan merendahkannya. Siapa yang bersandar pada tanda-tanda jaman, jaman akan menyelamatkannya.’ Kita mengimani bahwa sejarah sebenarnya tetap mencatat daulat umat,” Dik Brahim menyahut pokok masalah yang saya sampaikan barusan.

“Siapapun yang menjadi pemimin, diingatkan oleh Mbah Maridjan, yang bergelar Raden Ngabehi Suraksohargo, bahwa ‘ajining diri saka lathi,’ (baik-buruknya diri, terpulang pada lidah). Kedua ulama tersebut sudah memberi amanah.”

Kami terhenyak ketika mendengar kebijaksanaan yang diyakini dan sudah diuji oleh Mbah Maridjan. Betapa dari lidah kita bisa menjadi kata-kata apapun, yang akan semakin dasyat pengauhnya ketika hadir di media massa. Media telah hadir dengan kepentingannya: Membesarkan, memerkuat, bahkan membunuh kita. Informasi sudah menjadi kriteria jaman di mana pemimpin semakin berat pertanggungjawabannya. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: