Kembali Berbuka

serambi-jumat123

Serambi Jumat KORAN MERAPI 3 Oktober 2008

“Yang kita alami, praktik berlebaran telah menciptakan bahasa bersama. Bahasa lebaran lebih daripada kosakata ’mohon maaf lahir-batin,’ tetapi ada latar agama dan budaya. Kita terus berikhtiar bagaimana memaknai ’Min-al-’Aidin wa-’l-Fa’izin,‘ semoga kita tergolong mereka yang kembali ke fitrah dan menang atas nafsu-egoisme kita.“
Dengan pelan dan santun, Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, memulai pembicaraan tentang memaknai lebaran. Kami duduk melingkar di serambi masjid. Tidak ada hingar-bingar sebagaimana citraan pesta lebaran di televisi. Pun, tak ada kemeriahan atribut Idul Fitri. Bahkan dalam undangan lewat SMS, teman-teman takmir menuliskan pesan: Another Lebaran is possible, sebagaimana pernyataan aktivis World Social Forum tentang another world is possible.

“Para ulama selalu menegaskan, bahwa salah satu hikmah ibadah puasa adalah pembelajaran praktik solidaritas sosial. Kita juga mencatat betapa Ramadan adalah bulan perbuatan baik dalam bentuk tindakan menolong untuk meringankan beban kaum fakir miskin serta mereka yang berada dalam kesulitan hidup, yaitu dengan menunaikan zakat, infaq, sedekah, dan sebagainya,” tambah Pakde Adib Susila.

“Sebagaimana hubungan manusia dengan Sang Khalik, ada pertautan antara praktik taqwa dengan akhlak yang mulia (al-akhlaq al karimah). Ramadan adalah kanal bersama untuk memaknai puasa, zakat, sekaligus shalat Id dan saling bersilaturahmi kepada sanak sahabat. Dengan pemahaman yang ugahari, Idul Fitri menjadi model terbaik bagaimana kembalinya fitrah atau kesucian asal manusia melalui puasa,“ sambung Pak Yusdani.

“Budaya berlebaran memperlihatkan segi-segi sosial dari hasil ibadah puasa. Ada kegembiraan yang harus terbagikan bahwa sekarang sudah berbuka, tidak berpasa lagi. Bukan hanya kita, tetapi siapapun, terutama yang kurang beruntung, tanpa berlebihan dan melewati batas,” kata Paklik Sriyono.

“Masalahnya adalah kegembiraan yang harus terbagikan, Paklik. Orang bisa menyalahkan diri karena belum belanja lebaran. Bermula dari peristiwa agama, lebaran telah menjadi hiruk-pikuk pasar yang nyaris sempurna. Saya berharap kajian ini bisa menjadi oase, bahwa ada cara berlebaran yang lain dan itu mungkin,” tegas Pak Edi Safitri.

Dik Brahim mengajak kami untuk membaca bersama surat Luqman ayat 33: “Wahai sekalian umat manusia! Bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu, dan waspadalah terhadap hari ketika seorang orang tua tidak dapat menolong anaknya, dan tidak pula seorang anak dapat menolong orang tuanya sedikitpun jua. Sesungguhnya janji Allah itu benar (pasti terjadi), maka janganlah sampai kehidupan duniawi (kehidupan rendah) memperdayamu sekalian, dan jangan pula tentang (wajib patuh kepada) Allah itu kamu sekalian sampai terpedaya oleh apapun yang dapat memperdaya.”

“Lantas, bagaimana kita memaknai kembali berbuka?” Tanya saya ke teman-teman.

“Semoga perayaan berlebaran tidak menenggelamkan makna siklus fitri tahunan ini. Nun jauh di lubuk hati, kita mungkin merasakan kata-kata berlebaran semakin menjadi pepesan kosong. Rutinitas yang hampa dari kedalaman arti maaf itu sendiri. Menjadi tugas kemanusiaan, betapa kita diminta untuk merayakan lebaran adalah berbuka tidak berpuasa lagi. Inilah lebaran yang bersahaja, sederhana, atau apa adanya menjadi mungkin. ” kata Pakde Adib Susila.

Ya Allah, betapa berat tugas kemanusiaan yang menjadi risalah diskusi malam ini. Kami sadar sepenuhnya bahwa hidup dalam jaman pemaknaan adalah ikhtiar tanpa henti untuk menghadirkan bahwa yang fitri tidak cukup dengan belanja baju baru atau sekedar menyelenggarakan syawalan bersama. “Kembali fitri” kami simpulkan menjadi agenda pemaknaan bersama. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: