Kompetisi

serambi-jumat140

Serambi Jumat KORAN MERAPI 31 Oktober 2008

“Menurut catatan sejarah, dakwah Islam melalui jalur perdagangan antar-saudagar lintas-bangsa. Ada pertautan antara semangat dagang dan ukhuwah Islamiyyah. Dalam perkembangannya, pertautan inilah yang ditengarai melemah. Pengalaman krisis ekonomi mulai 1995 dan yang sekarang berlangsung mengajak kita untuk membaca apa kompetisi bagi ummat.”
Kami menyimak kata demi kata yang disampaikan Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, di serambi masjid. Slide laporan tahunan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia di tembok masjid semakin membuat suasana serius.

“Saya awam dalam kajian ekonomi. Yang saya tahu, jumlah pengangguran dan kemiskinan tidak menurun walaupun ada pertumbuhan ekonomi. Nah, yang dialami isteri saya, warung kelontongnya semakin sepi pembeli, apalagi lebaran kemarin. Saya mau bilang apa tentang kompetisi?” kata Pak Andi Rudin Sitopan.

”Kita mengalami dan kita dipaksa terlibat dalam kompetisi besar. Inilah yang menggerakkan perdagangan antar-saudagar lintas-bangsa. Ini bisnis besar, dengan uang yang sangat besar. Saya sepakat, kompetisi ya untuk menyelamatkan kemanusiaan,” tambah Pak Yusdani.

“Pengalaman 1995 bisa dibaca dari nilai tukar yen Jepang yang menguat terhadap dollar AS sehingga melemahkan Rupiah. Sederhana saja, kita banyak berhutang kepada Jepang tetapi cara kita menyelesaikannya tidak ke akar masalah. Nah, pemicu krisis sekarang adalah masalah kredit perumahan kualitas rendah nun jauh di Amerika Serikat sana,” komentar Kang Heri Winarto.

”Kok saya susah memahami, Kang? Makhluk ghaib apa itu” tanya saya.

”Laporan FSF (Financial Stability Forum, kumpulan pejabat bank sentral, menteri keuangan, dan pengawas keuangan dari berbagai negara) pada Februari 2007 mungkin bisa menjelaskan,” jawab Kang Heri Winarto.

Jadi, ada sekelompok orang kaya yang memberi kepercayaan kepada para pengelola untuk memutar uang agar mendapat keuntungan. Kisaran uangnya bisa mencapai 20-30 miliar dollar AS. Inilah bisnis spekulasi naik-turunnya harga komoditas minyak, logam mulia, dan komoditas pertanian, di samping soal kurs mata uang, harga saham, dan harga obligasi.

“Karena menyangkut uang sangat besar, apapun dilakukan. Persaingan menjadi tak terkendali dan menjurus keserakahan. Kompetisi menjadi ukuran dan kerusakan hanya menjadi konsekuensi,” simpul Kang Heri Winarto.
“Mari kita cerap makna surat al-Qashash ayat 77,” ajak Dik Brahim. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

“Mari kita juga pahami pesan an-Nisaa’ ayat 29,” pinta Paklik Sriyono. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

“Bisnis menurut Islam intinya adalah bila untung dinikmati bersama, bila buntung ditanggung semua. Yang paling besar menikmati keuntungan adalah mereka yang paling banyak menanggung kerugian,” simpul Pakde Adib Susila.
”Kita butuh suatu kontrak sosial baru, pengaturan bisnis yang membela masyarakat madani,” tegas Pak Edi Safitri.

”Jika tidak, masyarakat hanya semakin termiskinkan dan terkufurkan. Rasulullah SAW bersabda, mengkhianati kaum miskin hanya akan mengundang kemurkaan Allah. Keberkahan hidup akan dicabut dan berbagai bencana akan datang silih berganti. Kontrak ini menegaskan, bahwa tiap warga punya hak dasar yang harus dipenuhi negara.”

Kami sadar bahwa kami tergoda untuk memasuki kajian di mana slogan-slogan besar sudah terbukti klise. Tapi kami juga merasakan suasana hati yang gemas sekaligus cemas: Ketidakjelasan memahami gerak kompetisi bisnis global hanya semakin mengabaikan hak-hak dasar warga.

Ya Allah, betapa kami ingin melibatkan diri di belakang kompetisi antar-laporan statistika tentang kecukupan pangan, kualitas pendidikan, lingkungan dan gaya hidup sehat, serta keamanan fisik dan kohesi sosial. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: