Kompor dan Konversi

Cahaya Ramadan KORAN MERAPI Selasa 2 Oktober 2007

Ini bukanlah kebetulan, ini jawaban Tuhan. Saat memesan bakmi di bawah jembatan layang Janti, Jogja, kami bertemu mas Agus Utantoro. Tidak lama berselang, Gus Junaidi dan Mas Ahmad Subagya datang hampir bersamaan. Sungguh, Ramadan mereunikan kami.

Mas Agus Utantoro adalah budayawan yang tinggal di Condong Catur, Sleman. Beliau selalu berbagi jawaban jika kami punya masalah. Gus Junaidi adalah dosen FIAI UII, yang juga pendamping umat.

Sedangkan Mas Ahmad Subagya adalah analis kebijakan dari Prajatama Consulting.
“Panggil saya Kang! Memperindah nama, sebagaimana sabda Nabi, terutama adalah dengan menjaga sikap dan perilaku. Dan bukan karena saya berdarah biru. Yang asli Gus itu mas Gus Utantoro,“ canda Kang Jun ketika saya mengenalkan mas Adib Susila.

“Saya idem, panggil saja Mas. Lebih humanis,“ tambah Mas Bagya.

Lezatnya mi jakarta dan magelangan mengakrabkan perbincangan. Ketika saya memperhatikan seorang penjajanya memompa tabung kompor minyak tanah, Mas Agus komentar, “Masih ingat teori Hartingh, pejabat kepercayaan Gubernur Jendral Mossel yang menggantikan van Hohendorff, bahwa ’tiap-tiap kerusakan dan kekalutan Mataram merupakan keuntungan bagi VOC’?“

Kami menggelengkan kepala. Mas Agus melanjutkan, “Setelah terjadi 111 kontrak dagang antara VOC dengan Mataram sampai 1705, terjadi pengrusakan sistematis di Mataram. Itu yang menggerakkan rakyat bersama kraton melawan kompeni. Sejak Mei 2006 pemerintah menyiapkan skema konversi (penggantian) dari kompor minyak tanah ke kompor elpiji. Kita bisa belajar apa arti kerusakan dan kekalutan Mataram dulu. Kita merasakan, betapa vital minyak tanah saat ini.”

“Sampai 2009, pemerintah akan mendistribusikan 25 juta kompor dan tabung gas. Untuk DIY, ditarget 240 ribu kompor gas gratis hingga Januari 2008. Ini proyek besar membebaskan minyak tanah dan menggantinya dengan elpiji (liquified petroleum gas) untuk keperluan rumah tangga. Lebih murah di harga, lebih ramah di lingkungan,” tambah Mas Bagya.

“Kok bisa lebih murah di harga?” tanya Mas Adib.

“Jika harga satu liter minyak tanah Rp 2.500, itu setara Rp 2.422,5 untuk elpiji. Ada penghematan Rp 25.000/rumah tangga/bulan. Masih hitungan pemerintah, itu penghematan subsidi BBM Rp 22 triliun/tahun. Tahun ini subsidi energi mencapai Rp 94 triliun,” jawab Mas Bagya.

“Kesannya memang pro-rakyat, tapi kebijakan yang tergesa-gesa,” sela kang Jun. “Ini masalah kebiasaan, juga ketergantungan. Untuk mandiri energi kok berat. Ingat, ini kepercayaan untuk menyelesaikan defisit anggaran pemerintah.“

“Saya tidak menyalahkan pemerintah. Naif. Ini masalah kita bersama. Defisit anggaran disebabkan masalah kelembagaan, yaitu korupsi serta inefisiensi lembaga pemerintah dan swasta. Bukan karena kesalahan rakyat. Untuk itu, bagaimana mencegah dan menghentikan tatanan yang tidak adil,“ kata Mas Agus. Kami semua terdiam.

“Belajar dari pengalihan subsidi BBM kemarin, kita butuh garansi bahwa kebijakan konversi nyata-nyata lebih hemat dan mampu mengurangi kemiskinan,“ lanjut Mas Agus. “Mengapa tidak mengembangkan kompor yang lebih hemat minyak tanah atau batubara? Bisa tidak rumah tangga ngecer elpiji? Kita semua rindu Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang dalam tiga tahun mampu menghapuskan kemiskinan.”

Kami mencerap cahaya Ramadan yang mencerahkan perbincangan di kolong jembatan layang janti. Bukankah anggaran publik niscaya diambil dari masyarakat yang berpunya untuk kemashlahatan kaum yang tertindas. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: