Memakmurkan Bumi

Cahaya Ramadan KORAN MERAPI Sabtu 22 September 2007

Alhamdulillah, sehabis shalat tarawih kami bisa bersilaturahmi dengan Gus AF Junaidi, pendamping umat alumnus Riyadh University yang tinggal di Banguntapan, Bantul. Beliau menerima kami dengan keramahan seorang kyai Jawa Timur: Mengambilkan minuman dari nampan, menatanya sembari mempersilakan. Ah, siapa berani menolak secangkir kopi jahe dengan singkong rebus. Beliau tampaknya sudah “waskitha ngerti sadurunge di-SMS” (tahu kejadian sebelum di-SMS), bisik teman di sebelah. Dan inilah catatan ke-2 kami sebagai santri kalong:
Berita kemiskinan menceritakan tentang ketidakadilan, meskipun tidak selalu dengan air mata. Berita kemiskinan telah menjadi wajah milineum, walaupun bukannya tanpa ikhtiar. Dengan tindakan berpuasa, Allah menyelenggarakan proses asah-asih-asuh kita terhadap kemiskinan. Akhirnya kami mempertajam pembicaraan menjadi “panggilan Allah untuk memakmurkan bumi-Nya (ta’mir al-ardl).”

Perintah ibadah Ramadan adalah penghormatan terhadap kemanusiaan. Sore hari bersama mengkaji agama di masjid, lantas shalat maghrib dan berbuka puasa. Dilanjutkan shalat `isya, tarawih, tadarrus al-Qur`an setiap malam, dan tindakan yang lain. Ini masalah kesungguhan dan keprihatinan. Allah menghargai seseorang berdasar amal yang diperbuat dan bukan yang lain, serta dipertanggungjawabkan kelak.

Bukankah dalam ibadah puasa selalu disertai anjuran untuk bertindak baik sebanyak-banyaknya, terutama tindakan untuk menolong dan meringankan beban kaum fakir miskin, yaitu zakat, infaq, sedekah, dan sebagainya. Dengan demikian, keutamaan Ramadan adalah jika kita mampu membaca dan mengelola kemiskinan dan krisis ekonomi agar tidak memurukkan Indonesia dalam ”kutukan kemiskinan.”

Dengan membaca cepat gerak kolonialisme, sejarah pemiskinan umat bermula ketika Eropa mampu mengoptimalkan ilmu dan teknologi. Kuasa revolusi industri adalah penguasaan sumber daya alam dan umat. Hal ini terulang dengan beroperasinya neoliberalisme lewat perusahaan-perusahaan raksasa.

Lantas, bagaimana kita membaca data Bank Dunia, November 2006, bahwa 149 juta jiwa (49 %) dari total 200 juta penduduk Indonesia adalah miskin? Atau, data Susenas 2006, yang menyebut angka kemiskinan 35,10 juta (15,97 %) pada 2005 meningkat menjadi 39,05 juta (17,75 %) pada 2006? Standar garis kemiskinan Bank Dunia merujuk pendapatan US$ 1 dan 2 per hari. Dengan demikian, orang masakin (miskin) dan faqir (fakir) harus diajak dialog. Kita harus bersiap diri dengan kebijakan Organisasi Konferensi Islam yang menggulirkan dana sebesar US$ 10 miliar (Rp 8,7 triliun) guna memerangi kemiskinan, kebutaaksaraan, dan penyakit epidemis di 57 negeri muslim yang miskin.
Oleh karena itu, umat harus menjaga stamina untuk menegakkan agama yang berkeadilan sosial. Mengutip sahabat Ali bin Abi Thalib, “Andaikata kemiskinan berujud manusia, maka dialah musuh pertama yang akan kupancung kepalanya.”

Kita sungguh berharap, Ramadan mampu mencerahkan para pengambil kebijakan dengan merujuk,
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (QS Zalzalah: 7-8)

Dan berkali-kali Gus Junaidi menegaskan, kebijakan adalah hal memilih di antara pilihan yang tak menyenangkan, juga butuh kebijaksanaan dan ketegasan untuk memakmurkan bumi Allah. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: