Menjaga Isra’ dan Mi’raj

serambi-jumat128

Serambi Jumat KORAN MERAPI 1 Agustus 2008

”Ingatan manusia memang bersifat kolektif. Tetapi karena keterbatasannya, juga dengan banyaknya peristiwa yang silih berganti, ingatan menjadi selektif. Untuk itu, proses belajar sosial untuk menjaga isra’ dan mi’raj, peristiwa agung 14 abad yang lalu, menjadi penting. Dalam hal ini, ingatan menyangkut kebermaknaan iman. Di dalam keberimanan inilah, kita mengalami peristiwa-peristiwa yang sungguh bermakna, misalnya, pengalaman kita sewaktu shalat.”
Kami mencamkan pengantar Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian, semalam. Kata demi kata ternyatakan dengan bersahaja dan sepenuh hati. Ada yang menggugah hati dan selalu ada pemahaman baru yang kami rasakan dari kajian rutin di serambi masjid.

”Di sekolah kita belajar memahami isra’ dan mi’raj sebagai peristiwa agung dalam sejarah hidup Rasulullah SAW. Kuasa Allah yang memperjalankan beliau (isra’) dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Jerusalem. Allah selanjutnya memperjalankan beliau ke atas (mi’raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju Sidrat Al Muntaha (akhir penggapaian), untuk kembali lagi ke Makkah. Peristiwa yang berlangsung semalam inilah yang menjadi basis keimanan lahirnya peradaban Islam,” tambah Pakde Adib Susila.

“Saya tidak bisa membayangkan moda transportasinya. Tetapi saya terganggu dengan penggambaran tentang buraqru’yatullah (kendaraan Rasul ketika mi’raj) menjadi kuda berwajah manusia. Dulu pernah popular,” tanggap Mang Ucup.

“Saya meyakini isra’ dan mi’raj sebagai peristiwa sakral-transendental. Tetapi saya mengusulkan kajian pada akibat peristiwa tersebut di dalam keseharian. Bukankah shalat, yang diperintahkan Allah dalam peristiwa ini, merupakan kekuatan permanen untuk melawan praktik korupsi?” kata Pak Edi Safitri bersemangat.

“Apa maksudnya, pak Edi?” tanya Dik Brahim.

“Bukankah dengan shalat kita diminta meniaga kesucian? Bukankah amar ma’ruf nahi munkar juga ditegakkan dengan shalat kita sehari-hari, yang dengan demikian sangat-sangat anti praktik korupsi?” jawab Pak Edi. “Dengan demikian, membumikan pesan-pesan isra’ dan mi’raj adalah mengembangkan jejaring jamaah shalat untuk menemukenali dan melawan korupsi sebagai praktik keseharian.”

Kami membenarkan alasan-alasan Pak Edi. Data yang disampaikan dik Brahim pada kajian terdahulu membuat kami marah. Betapa korupsi sudah menjadi pengingkaran kemaslahatan yang bersifat sosial. Korupsi menjadi tindakan sehari-hari sebagaimana perintah shalat sebagai tatakelola keseharian.

“Lho, berarti korupsi menciderai pesan-pesan dari peristiwa agung yang sedang kita kaji. Kita ‘kan menjaga peristiwa sakral-transendental isra’ dan mi’raj dan senyampang dengan itu kita justru mendiamkan hal-ihwal yang sebenarnya bertentangan?” tanya Paklik Sriyono.

“Itulah, Bapak-bapak. Dari peristiwa yang sama kita sebenarnya mempunyai banyak jawaban untuk banyak permasalahan kemanusiaan. Kita baru membincangkan sebagai energi yang potensial untuk melawan korupsi. Menjaga pesan isra’ dan mi’raj adalah mengelola jawaban terhadap permasalahan kita. Agenda lain adalah kemiskinan, pembodohan, ketidakadilan, dan sebagainya” kata Pak Yusdani.

“Dengan isra’ dan mi’raj, Rasulullah melanjutkan jejak para nabi pendahulunya untuk menemui Allah di Sidrat Al Muntaha (Mustawa). Puncak pencapaian rohani inilah yang dirindukan para pencari Kebenaran, tetapi Rasul justru kembali ke bumi. Sebagai penjaga pesan, kita tentunya mengimani tentang kembalinya Rasul di bumi secara cerdas,” Mas Fauzi.

Kami menutup kajian saur-manuk tadi malam dengan bersama membaca surat al-Isra ayat 1:
“Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: