Nikah Jawa

serambi-jumat134

Serambi Jumat KORAN MERAPI 9 Mei 2008

”Pernikahan itu bukan hanya ibadah, tetapi juga lembaga sosial. Dalam konstitusi Indonesia, individu dijamin hak-haknya secara sama dalam lembaga sosial. Baik laki-laki maupun perempuan. Artinya, jika ada hal-hal yang mengancam pernikahan, hukum menyediakan jawaban dan sanksi.”
Demikian pengantar Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian, ketika membuka diskusi rutin di serambi masjid tadi malam. Karena mendiskusikan tema pernikahan, kami mengundang Romo Sugiman, konsultan pernikahan, yang tinggal di Karangmalang, di bilangan kampus UNY. Romo Giman ”Kidang Alit” ditemani Pak Elfiantoro, seorang pengusaha dari Srimulyo Sleman.

”Bagi orang Jawa, pernikahan merupakan sesuatu yang suci dan agung. Pernikahan berkewajiban mutlak untuk meneruskan kelangsungan hidup dengan keturunan yang baik, berbudi dan saleh, serta meneruskan sejarah leluhurnya,” kata Romo Giman. ”Meskipun sudah jaman modern atau bahkan neoliberal, orang Jawa tidak akan membiarkan anak-anaknya, apalagi anak perempuan, berbuat suka-suka tanpa memperhitungkan martabat orang tua dan leluhurnya.”

Beliau lantas menyanyikan tembang Jawa, Luput pisan kena pisan, yen gampang luwih gampang, yen angel kalangkung, tan kena tinambak arta.

“Bagi orang Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, calon pengantin harus melewati tahapan pernikahan yang panjang agar bisa mencapai status sosial yang layak di mata masyarakat. Kami menyebutnya midang, yaitu prosesi arak-arakan pengantin dengan cara berjalan kaki, tradisi yang berlangsung sejak 1946,” komentar Pak Yusdani, peneliti PSI UII.

”Orang Jawa bilang suket godhong dadi rewang,” sambung Pak Elfi. ”Keputusan memilih pasangan hidup yang cocok akan bermanfaat untuk masing-masing pasangan, keluarga keduanya, serta lingkungan. Juga untuk keturunannya kelak agar berakhlak mulia. Repotnya, sekarang jaman ’pokoke,’ orang tidak peduli proses ini.”

”Lingkungan memang selalu berubah,” tambah Paklik Sriyono. ”Kita yang sudah tua dan sudah mengajarkan bagaimana menyiapkan dan mengelola pernikahan kepada kaum muda sering repot. Ini masalah pembelajaran. Dalam Islam, pada dasarnya pernikahan menganut asas monogami.”

“Kita punya khasanah yang sudah teruji, yaitu bobot (nilai), bibit (benih), dan bebet (jenis). Dengan mempertimbangkan ketiga hal tersebut, kita berharap agar rumah tangga kita kokoh, awet, dan penuh barakah dunia-akhirat. Jadi bukan semata-mata masalah fisik gonta-ganti pasangan,” lanjut Romo Giman.

”Mari kita mengarifi data Pengadilan Agama untuk mengkaji asas monogami yang disampaikan Paklik Sriyono,” kata Pak Yusdani. ”Pada 2004 dikeluarkan 809 ijin poligami dari 1.600 permohonan, 2005 ada 803 ijin dari 989 permohonan, dan pada 2006 ada 776 ijin dari 948 permohonan. Pada periode sama tercatat jumlah perceraian dengan alasan poligami 813, 879, dan 983 perceraian. Berdasar riset, poligami menyebabkan penelantaran istri dan anak-anak. Untuk itu, ajaran bobot,bibit, dan bebet harus diperbarui.”

”Setuju sekali, Bapak,” jawab Romo Giman dan Pak Elfi bersamaan.

”Pembaruan ajaran tadi sebenarnya untuk memperkuat bahwa pernikahan untuk mewujudkan visi baiti jannati (rumahku adalah surgaku), yang mawaddah, rahmah, dan sakinah. Kita mengimani bahwa pernikahan merupakan perjanjian berat yang akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah,” kata Pakde Adib Susilo. “Tujuan keluarga muslim adalah “li al-muttaqina imama”. Untuk itu, mari kita berkonsultasi kepada Allah tentang bobot,bibit, dan bebet tadi.”

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak, kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu benar-benar akan ditanyakan pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu),” (QS At Takaasur: 1-8).

Dari serambi masjid kampung, kami belajar bersama bahwa ada keterhubungan antara ajaran Islam dengan khasanah budaya Jawa dalam pernikahan. Sungguh, kami membaca kembali betapa ada kearifan yang sudah teruji dari khasanah Jawa dan tidak serta merta bertentangan dengan Islam itu sendiri. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: