Pencurian Sistematis

serambi-jumat138

Serambi Jumat KORAN MERAPI 19 Februari 2008

PENGURUS’ Takmir Masjid di wilayah Kasihan Bantul, akhir-akhir ini gusar menyusul beberapa masjid di daerah itu disambangi maling alias pencuri. Mereka bukan hanya ‘nyolong’ sandal, tetapi ‘ngembat’ ‘sound system’ atau pengeras suara berupa speaker dan tape recorder. Peralatan itu bagi sebuah masjid tentu sangat vital, karena menjadi sarana untuk mengumandangkan azan atau panggilan salat lima waktu.

“Kurang ajar banget maling sudah berani mengambil ‘speaker’ masjid,” ucap Takmir Masjid Darussalam, Pak Aan bersungut-sungut saat melaporkan ke sesama pengurus takmir lainnya.
Ia bersama Pak Harry dan sejumlah pengurus takmir kemudian meneliti pintu ruangan sound system yang dicongkel pencuri. Pintu dan kunci ternyata tidak rusak. Itu menandakan pencurinya profesional.

“Ini jelas sudah dipelajari lebih dulu, terbukti maling itu tahu di mana kita menyimpan seperangkat sound system,” komentar Pak Harry yang saat magrib tak bisa lagi azan secara lantang. Ia juga sangat geregetan, karena saat lohor dirinya masih bisa mengumandangkan azan menggunakan pengeras suara tersebut.

“Ada kemungkinan, saat lohor itu maling tersebut ikut salat atau memang sejak lama maling itu sudah mengincar masjid ini,” kata Pak Dede, setengah menganalisa.

Saya yang dari tadi hanya diam pun mencoba angkat bicara, “Bagaimana kalau kita laporkan ke polisi.”
“Boleh, saja, tetapi apa polisi mau menindaklanjuti,” timpal Pak Aan yang merasa sanksi.

Gagasan saya untuk melaporkan ke polisi pun muncul setelah sebelumnya telepon Pak Mustofa, takmir masjid di kampung sebelah yang sebulan lalu masjidnya juga baru saja kehilangan seperangkat pengeras suara beserta kipas angin. Pak Mus, juga merasa geram begitu saya beritahu kalau di masjid saya juga kehilangan sound system.
“Ini pencurian sistematis,” kata Pak Mus. Suaranya di HP terdengar meninggi.

Pak Mus menduga sistematis, karena setelah di masjid saya, beberapa hari kemudian masjid Al Azis di sebelah dusun juga kehilangan pengeras suara. Padahal di masjid yang dikelola Pak Edy Susila, anggota DPRD Bantul itu terdapat penjaga. Namun, sang maling tampaknya pandai membaca kelengahan, yakni saat penjaga masjid tertidur lelap, mereka mulai beraksi.

***
Seusai kajian malam Jumat, Pak Aan memutuskan untuk mencoba menelusuri keberadaan sound system merk TOA yang kini harganya tiga kali lipat dibanding sepuluh tahun silam yang hanya Rp 400 ribu di Pasar Klithikan dan di lantai atas Pasar Beringharjo. Hasilnya, sungguh mengejutkan. Pak Aan bersama Pak Herry bisa menemukan speaker mirip dengan yang hilang.

“Merk dan kekuatan suaranya memang sama, tetapi ini bukan speaker yang hilang, saya hafal, Pak, tetapi tak mengapa. Apalagi sudah dua hari kita ‘nggak’ pakai sound system,” komentar saya begitu disodori bentuk speaker yang ditebus dari seorang pedagang di Pasar Beringharjo itu.

“Wah, lega, kita bisa melakukan syiar lagi,” timpal Pak Aan membiaskan senyum.

“Kita sudah kangen dengan suara Pak Herry,” sela Pak Dede, sambil membenahi kabel dan menata kembali speaker tersebut di tempatnya.

Pak Herry memang selama ini dikenal sebagai muazin (bertugas mengumandangkan azan). Suaranya khas, keras dan menjadi ciri khusus di masjid kami. Pak Herry pun hanya ‘nyengir’ sambil geleng-geleng kepala.

“Nanti, kalau maling itu ‘kecekel’, bisa remuk!” ucap Pak Aan.

Karuan saja, saya kaget. Mungkin, karena Pak Aan mangkel dan geram, apalagi pencurian itu menimpa sejumlah masjid.

“Janganlah, Pak. Kita doakan, agar dia sadar dan mengembalikan barang tersebut. Mungkin, saat itu mereka membutuhkan uang karena tak ada jalan lain, maka dia ambil speaker. Kalau tidak ketemu, ya sudah,” kata saya datar.
“Tapi, ‘kebangeten’ mencuri kok di masjid, kuwalat dia,” ujar Pak Aan lagi.

“Namanya mencuri tidak pandang tempat, Pak. Mungkin dengan memilih barang-barang di masjid dia berpikiran orang-orang masjid lebih memaklumi dan ikhlas. Dia juga mungkin berharap barang yang dicuri itu bisa membawa berkah,” kata saya setengah berkelakar.

Berkah yang saya maksud, siapa tahu sound system itu memberi penyadaran rohani. Bisa jadi, pengeras suara itu tidak dijual, tetapi justru untuk didengarkan sendiri. Apalagi di dalam tape recorder tersebut terselip kaset berisi ayat-ayat Quran yang biasa menggema menjelang Salat Jumat. Semoga, pencuri itu menjadi beriman, bertakwa dan mengakhiri profesinya yang merugikan pihak lain,” doaku dalam hati sembari membantu rekan-rekan takmir yang sibuk membenahi pintu ruangan pengeras suara itu agar tak lagi dijebol pencuri. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, Staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: