Sepiring Nasi

Cahaya Ramadan KORAN MERAPI Senin 8 September 2008

Alhamdulillah, hari kedelapan puasa Ramadan. Sebagaimana kesepakatan dengan para sahabat, usai tarawih di masjid Mujahiddin, Karangmalang, kami berniat nyantri ke mas Agus Utantoro, di Condong Catur, Sleman. Mas Agus adalah budayawan muda yang selalu punya jawaban untuk kami. Kami ingin minta nasehat beliau sehubungan dengan masalah kedaulatan pangan. Isu yang sangat strategis memang.

Malam ini kami berenam: Mas Firdaus Rizqi Sugihartaka, Mas Elfiantara Sugiharjatma, Bang Sayun, mas Heri Winarto, Pak Andi Rudin Sitopan, dan saya. Demikian rangkumannya:
“Sebagaimana mandat konstitusi, bahwa ‘Cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.’ Demikian halnya dalam hal masalah pangan. Sehingga menjadi ironi bahwa negara agraris seperti Indonesia, dengan tanahnya subur dan gemah ripah loh jinawi, kok mengalami krisis pangan.”

“Telaah terhadap kebijakan Operasi Pasar dan impor beras pada 2007 membenarkan betapa kita tidak mempunyai kebijakan dan strategi. Setiap terjadi krisis pangan ya impor beras besar-besaran untuk menjaga stok nasional. Apa yang terjadi adalah akibat dari kebijakan dan praktek privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi. Para pakar menyebutnya sebagai akibat dari Konsensus Washington.”

“Kita juga mengkaji betapa krisis pangan di awal tahun ini membenarkan gagalnya kampanye pasar bebas untuk menjawab semakin banyaknya perut yang kelaparan. Sebutlah angka dari 800 (1996) menjadi 853 juta jiwa (2007). Ada sekitar 5 juta rakyat Indonesia yang makan kurang dari dua kali sehari dan sekaligus mengancam 19 juta keluarga miskin. Bukankah menurut Islam, karena pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok warga, maka negara wajib memenuhinya secara merata per individu?”

Bang Sayun menyegarkan ingatan kami dengan kisah khalifah Umar bin Khatab yang memanggul sekarung bahan pangan untuk diberikan pada rakyatnya yang kelaparan. Sangat kartatif sekaligus taktis.

Mas Elfi menyoal kebijakan standar ganda Bank Dunia dan IMF sebagai biang kerok kelangkaan pangan di Indonesia. Di Amerika Serikat dan Uni Eropa justru berswasembada pangan dan menjualnya ke Indonesia atas nama liberalisasi perdagangan. Sedangkan Mas Firdaus mempertanyakan tidak adilnya porsi keuntungan dari bisnis pangan. Semakin memiskinkan Indonesia, tegasnya.

Pak Andi Rudin membaca sabda Rasulullah Saw, “Janganlah kalian hadang kafilah-kafilah (orang-orang yang berkendaraan) dan janganlah orang yang hadir (orang di kota) menjualkan barang milik orang desa.” (HR. Bukhari-Muslim).

Mas Heri mengajak kami membaca secara serius salah satu hadits, “Tidak akan menimbun (barang) kecuali orang yang berdosa” (HR. Muslim). Beliau melanjutkan dengan hadits yang lain, “Sejelek-jelek manusia adalah orang yang suka menimbun, jika mendengar harga murah dia merasa kecewa, dan jika mendengar harga naik dia merasa gembira.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Mas Agus mengajak kami untuk membaca secara bijak tentang masalah kedaulatan pangan dalam hubungannya dengan perdagangan global. Di samping melibatkan sejumlah negara besar, juga menyangkut perusahaan raksasa yang lintas-nasional. Alih-alih berbicara dalam satuan besar, beliau meminta kami untuk mengarifi darimana sepiring nasi dapat terhidang. Juga, misalnya, untuk mengirim parsel lebaran dengan produk pangan yang ditanam di sekitar kita.
Malam ini, di Condong Catur, kami membaca kembali apa arti sebungkus nasi, segelas air, juga sepotong lauk-pauk. Kami merasakan butiran keringat para petani untuk menanam sampai memanen salak pondoh. Kami berhitung dengan ruang dan waktu untuk menikmakti secangkir kopi yang terhidang.

Ya Rabb, segala puja dan puji untuk negeri yang penuh barakah dan sekaligus membutuhkan jawaban: Jawabannya ternyata bukan dengan politik kata-kata. Ya Rabb, bimbinglah kami untuk sekecil apapun mampu mengawal kebijakan yang berpihak kepada para petani, pedagang, juga siapapun yang berikhtiar agar negeri ini tidak terpuruk. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: