Situs Porno dan Bisnis Lain

serambi-jumat136

Serambi Jumat KORAN MERAPI 11 April 2008

”Sebagian besar dari 2.011 responden di DIY mempunyai kecenderungan sikap bahwa membeli media yang bergambar porno adalah hal yang tidak pasti, tidak pantas, dan menjadi tindak kekerasan. Hasil riset sikap keagamaan pada 2007 tersebut sudah kami sampaikan kepada publik.”
Demikian pengantar Pak Yusdani, peneliti PSI UII, ketika membuka diskusi rutin tadi malam di serambi masjid kampung. Alhamdulillah, diskusi semalam sangat berbobot dan sungguh bermakna bagi kami. Beberapa sahabat yang diundang Pakde Adib Susilo, takmir sekaligus pengasuh kajian, berkenan hadir. Di samping Pak Yusdani, hadir juga Pak Bambang Wahyu Nugroho dari UMY, Pak Dartoyo dari UPY, dan Pak Andi Rudin Sitopan dari Partai Gerindra.

”Data pak Yusdani sangat menarik,” kata Pak Andi Rudin yang politisi senior. “Kita mengetahui saat pembahasan RUU Informasi dan Transaksi Elektronik kemarin, bahwa pemerintah akan bekerjasama dengan perusahaan penyelenggara jasa internet untuk memblokir trafik situs-situs yang dinilai negatif di internet, termasuk situs porno.”

“Wah, saya sangat setuju sekali dengan kebijakan tersebut,” sela Mang Ucup. “Saya yang tidak dong dengan internet kadang khawatir dengan kegiatan anak saya ketika di warnet.”

“Benar, Bapak-bapak. Yang kita hadapi adalah bisnis besar yang bernama media situs porno. Data Mei 2007, kasus pembelian domain porn.com seharga lebih dari US$ 9,5 juta (sekitar Rp 83,83 miliar) atau sex.com yang terjual US$ 12 juta (sekitar Rp 105 miliar),” sambung Pak Bambang Wahyu yang dosen Hubungan Internasional. “Pengaturannya belum ada, hanya KUHP.”

“Kita memang belum menyiapkan peraturan untuk memasuki era global. Akibatnya kita lebih sering terkejut dan reaktif karena tidak siap,” lanjut Pak Dartoyo, sejarawan dari kampus Sonosewu.

“Di samping pengaturan dari pemerintah, juga dibutuhkan penguatan etis dalam otonomi moral warga. Kita harus memperkuat dasar moral yang pro-keluarga,” komentar Pak Yusdani.

Kami menjadi tahu dengan pokok masalah pemblokiran situs-situs porno yang jumlahnya ratusan ribu. Ternyata uang yang sangat besar dan belum ada peraturan.

Pak Andi Rudin menceritakan kasus-kasus razia terhadap warung internet, baik yang dilakukan aparat maupun laskar-laskar dari masyarakat. “Berdasar pengalaman lapangan, selalu ada kerusakan akibat razia. Saya khawatir jika oknum aparat memanfaatkan isu ini untuk memeras warnet. Atau karena persaingan bisnis, laskar digerakkan. Belum lagi peluang proposal penangkal situs porno dengan harga trilyunan rupiah.”

“Situs bisa diblokir, tetapi teknologi internet tetap memungkinkan kita untuk mengakses yang porno-porno,” dengan bijak Pak Dartoyo mengingatkan. “Kita amati saja di sekeliling. Mode berpakaian yang ketat dan mini telah menjadi seragam baru untuk pamer aurat. Inilah industrialisasi pertunjukan syahwat lawan jenis. Dan semakin dasyat di dunia maya. Apalagi dengan riset yang mahal, sejumlah situs menjadikannya sebagai komoditi bisnis.”

“Dan kita sendiri yang memutuskan, mau meng-klik OK atau keluar. Pemblokiran adalah fasilitasi untuk meminimalkan agar proses belajar umat terjaga,” kata Pak Bambang Wahyu.

“Sebagaimana di dunia nyata, di internet juga ada syariat untuk menjaga umat. Mari kita baca kembali surat An Nahl ayat 69,” tegas Pakde Adib Susila.

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu) dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”

Tadi malam kami membaca kembali model lalu lintas koloni lebah. Sebab akses situs porno hanya menghabiskan hak lalu lintas pengguna dan pebisnis yang lain. Bukankah tanpa kepercayaan koloni lebah akan kacau? Bukankah pengucilan cukup untuk memotong distribusi rejeki? Dan bagaimana mungkin Indonesia Raya dibangun dengan bisnis esek-esek? Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: