Syawalan dan Silaturahmi

Cahaya Ramadan KORAN MERAPI Selasa 10 Oktober 2007

Ramadan berbilang akhir, Syawal membuka doa dan kerinduan. Kami memohon rejeki Allah agar kelak menjumpai kembali Ramadan.
“Tanpa shaum, tidak ada Idul Fitri. Makna terdalam lebaran hanya dapat dihayati oleh mereka yang berpuasa. Syawalan atau bakda atau istilah yang lain adalah kreativitas budaya. Tolong diperhatikankan, jika niat berpuasa adalah merebut taqwa, suatu posisi yang mulia di sisi Allah, maka halal bihalal adalah tindakan silaturahmi budaya.”

Kami mencatat kata demi kata pernyataan Pak Bambang Wisnu Handoyo, budayawan yang PNS Kepatihan, bahkan pada jeda dan penekanan bahasanya. Kami merasakan cepatnya malam Ramadan bergulir. Dan kami bersyukur, di tengah jadwal kerja yang nyaris tanpa henti di pengelolaan keuangan Propinsi DIY, beliau tetap berkenan menerima kami di rumah. Beliau meminta kami untuk bersama membaca Al Quran:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-Rum: 30).

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az-Zumar: 10).

“Berpuasa adalah laku prihatin, bagian dari jalan spiritual sepanjang hayat. Ini adalah pendekatan diri kepada Sang Khalik, penyucian diri, juga mengelola kesalehan sosial. Ini sekaligus kearifan menembus jasad-wadag atau dunia materi. Apalagi dengan tanda-tanda alam yang demikian lugas: Bencana, gempa, tsunami, banjir, kekeringan, dan sebagainya,” lanjut Pak Bambang Wisnu.

“Bukankah cara kita merayakan syawalan dan menyatakan silaturahmi semakin bergaya? Boleh saja pak Bambang bilang ’ora elok’ dan menegaskan berpuasa adalah praktik menahan atau mengendalikan diri,” tanya Mas Adib.
“Mengapa halal bihalal yang pernah mampu meredam konflik antar elit dan umat hanya menjadi seremoni?” tambah saya.

“Bagaimana memaknai syawalan sebagai kelanjutan laku berpuasa?” jawab Pak Bambang. “Syawalan bukan hanya ungkapan bahasa agama, tetapi juga fenomena budaya di Indonesia. Idul Fitri adalah upaya kembali kepada sesuatu yang suci, yaitu jati diri kita sebagai manusia yang bertakwa. Garansi Nabi, dengan berpuasa akan diampuni dosa-dosanya yang lalu. Nah, masalah dosa terhadap sesama, halal bihalal mempunyai jawaban.”

“Dihubungkan dengan penyelesaian konflik, bukankah pesan nyadran, takjilan, mudik, sungkem, dan yang lain layak dikembangkan menjadi teori yang menjawab masalah bangsa? Kearifan lokal tadi adalah satu hal, bahwa kemudian bisnis SMS hendak mengganti silaturahmi model kartu lebaran adalah hal lain.”

Kami mengamati data belanja telekomunikasi di Indonesia. Pak Bambang memang pakar jika memaparkan data serta menghitung belanja rupiah.

“Jika masyarakat sudah mempunyai tradisi syawalan yang teruji, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memfasilitasi pengembangan model silaturahmi yang saling memaafkan ini. Dengan dasar modal sosial inilah hukum dan peraturan niscaya ditegakkan,” tegas Pak Bambang. “Dan kita sudah ditunggu PBB dan Bank Dunia untuk menjawab Prakarsa Penemuan Kembali Kekayaan Yang Dicuri (STAR) tentang korupsi mantan presiden kita.”

Kami mencerap cahaya Ramadan yang mencerahkan silaturahmi. Bukankah hisab-rukyat terlalu klise untuk masalah bangsa yang lebih mendasar? Bukankah di negeri-negeri Mabims (Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Singapura) warga kita membutuhkan penghitungan dan penglihatan untuk mencari nafkah yang tidak lagi dikorupsi. Ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten sedaya kalepatan lan nyuwun tambahing pangestu. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: