Tahun Baru 1429 H

serambi-jumat114

Serambi Jumat KORAN MERAPI 4 Januari 2008

“Bagi sebagian masyarakat, 1 Muharam 1429 H bukan sekadar datangnya tahun baru Hijriah, melainkan juga datangnya bulan Sura yang diyakini penuh berkah. Oleh karena itu, doa dipanjatkan, tirakatan dan lelaku diselenggarakan, juga beragam amalan lain dilakukan. Ini yang membedakan dengan perayaan datangnya tahun baru 2008 kemarin.”
Demikian pengantar Pakde Adib Susilo, takmir sekaligus pengasuh kajian. Kami duduk melingkar di serambi masjid kampung. Sebagaimana biasa selama seperempat jam, kami berdiskusi untuk bersama-sama mencari penyelesaian dan pencerahan. Malam ini kami menjamu tamu istimewa, Mas Bugie, yang lengkapnya Ir. Drs. Bugiakso, pencipta dan pelantun lagu-lagu spiritual Islam. Pada silaturahmi yang ketiga, Mas Bugie datang dengan dik Resi, si kecil yang sudah tumbuh besar.

“Istilah Sura (dari ‘Asyura) dalam kalender Jawa berasal dari penggalan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi ’Asyura yaumul asyir. Sura merupakan hari kesepuluh bulan Muharam. Banyak mukjijat keagamaan yang bersumber dari catatan sejarah. Misalnya, kapal Nabi Nuh As. mendarat di Gunung al-Judy pasca-banjir dasyat yang menenggelamkan daratan Mesopotamia, Nabi Ibrahim As. selamat dari kobaran api, juga Nabi Musa As. membelah Laut Merah untuk menyelamatkan kaumnya dari aparat Fir’aun,” kata Dik Yusni, santri digital karena rajin mengunduh data dari internet.

“Juga mitos waktu tentang runtuhnya Majapahit dan berdirinya Mataram Islam,” tambah Paklik Haji Sriyono. “Kita menghormati jasa Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang berhasil menyatukan dua sistem kalender pada 1633 M. Sejak itulah antara tahun 1043 Hijriah dan 1555 Saka datang bertepatan. Jika kalender Jawa merujuk perhitungan matahari dalam sistem saka Hindu-Buddha mulai tahun 78 M, sebaliknya kalender Hijriah berdasar perhitungan bulan sejak hijrah nabi Muhammad Saw. dari Mekah ke Maddinah pada 600-an M.”

“Ini peristiwa agama yang menyentuh budaya masyarakat, Bapak-bapak,” sela Mas Bugie. “Sultan Agung Hanyakrakusuma melanjutkan dakwah Walisongo yang sangat toleran di tanah Jawa. Penyatuan sistem kalender adalah puncak kebijakan Sultan Agung untuk mendialogkan budaya Jawa dengan Islam. Termasuk dalam tirakatan seperti bertapa, kungkum (berendam), dan puasa dalail (puasa setahun penuh). Demikian juga laku jamasan (mencuci) keris, akik, pusaka, dan sebagainya.”

“Jenang suran enak lho,” imbuh Mang Ucup. “Saya pernah dikirimi bulik Yono. Di Sunda juga ada tradisi, yang di sini disebut lek-lekan, yaitu berjaga semalaman sambil membaca doa-doa dari al-Quran. Nah, ini ’kan evaluasi spiritual, untuk memohon keselamatan dan kebaikan memasuki tahun baru 1429 Hijriah?”

“Itu namanya ritual budaya tanggap warsa, mang,” komentar Pak Edi Safitri. “Ada gunungan lanang dan wadon dari buah-buahan sebagai lambang kemakmuran, kesejahteraan, dan mencegah malapetaka. Ada juga mubeng beteng atau ritual tapa bisu yaitu berjalan tenang tanpa banyak bicara dan tanpa mengonsumsi makanan ataupun minuman.”

“Datangnya 1 Muharam bukan sekedar berlalunya waktu. Sebagai muslim kita diingatkan banyak hal tentang iman dan amal saleh kita,” tegas Pakde Adib Susilo. “Meskipun arloji kita semakin canggih, perubahan waktu kadang tak terencana. Tanpa belajar sejarah, kita bisa lapuk dan lumpuh di masadepan. Apa-apa yang tadinya tidak ada, tidak mungkin ada, atau malah tidak terbayangkan ada, kadang mempengaruhi iman dan amal kita.”

Sebagai penutup kajian, kami mendaulat Mas Bugie melantunkan lagu “Kalayung-layung” yang kerap ditayangkan TV. Bahkan Paklik Sriyono sempat menitikkan air mata, tersentuh syairnya yang mengingatkan pertanggungjawaban hidup sebelum dipanggil Allah. Apa artinya lek-lekan jika tidak mendapat barakah pencerahan? Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

2 responses to “Tahun Baru 1429 H

  • rioseto

    Kebetulan mendarat di blog sini karena mas Imam menyebut gunungan di dalam artikelnya; saya baru saja meluncurkan artikel gunungan, ya versi bebas saya saja, sebisa saya, menyalahi pakem… salam kenal..

    Suka

  • imam samroni

    Terima kasih, mas Rio Seto untuk pendaratannya. Menarik jika bisa berbincang tentang versi bebas tentang gunungan dan pernyataan kejawaan yang lain.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: