TKP

serambi-jumat133

Serambi Jumat KORAN MERAPI 13 Juni 2008

”Di dalam sejarahnya, Indonesia adalah TKP (Tempat Kejadian Perkara), gelanggang besar yang selalu mengundang siapapun untuk datang. Sejarah mencatat siapa yang mau dan mampu bertempat tinggal serta membangun keindonesiaan. Ada saat kita gemas sekaligus cemas dengan perkembangan yang berlangsung. Bulan-bulan ini kita terus bermunajat kepada Allah, semoga sejumlah peristiwa yang tengah berlangsung mampu mendewasakan kita sebagai warga negara.”
Demikian pengantar Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian, ketika mengawali pembicaraan. Sehabis shalat maghrib, sebagaimana biasa saya bergabung dengan teman-teman di serambi masjid kampung. Dan selama seperempat jam, kami ngobrol saur-manuk untuk bersama-sama mencari penyelesaian dan pencerahan.
Perhatian kami tertuju ke rentetan foto dan narasi yang disorotkan di tembok masjid, hasil riset internet dari Dik Brahim. Peristiwa Monas, konflik terbuka antar-kaum beriman, listrik yang byar-pet, juga demo-demo menolak kenaikan BBM.

”Pro-kontra antar ormas yang menyoal duduk-perkara Ahmadiyah, boleh jadi merupakan kelanjutan data kesejarahan kita. Butuh pemahaman yang lebih mencerahkan,” Pakde Adib Susilo melanjutan. “Di serambi masjid ini kita pernah membaca kembali konsekuensi al-fitnat al-kubra (ujian besar), yaitu peristiwa wafatnya Utsman ibn Affan dan Husayn yang cucu Nabi. Kita mengapresiasi peristiwa Khawarij, Syi`ah, Sunnah, juga yang hadir belakangan, yang terjadi di sana dengan pandangan yang di sini.“

“Bukankah Islamisasi Jawa dan Nusantara oleh juru dakwah China pada abad ke-14 sampai 16 bertautan dengan peristiwa yang lebih luas di daratan China?” tegas Paklik Sriyono.

”Benar jika kita mengapresiasi peristiwa-peristiwa tersebut dengan kategori tempat,” sambung Pak Yusdani. ”Masalahnya adalah bagaimana proses dialektika tersebut memajukan sintesa yang lebih mencerahkan. Jika tidak, kita hanya mengulangkan kesalahan.”

”Ini hal yang baru buat saya,” kata Pak Edi Safitri. ”Peristiwa yang terjadi nun jauh di sana ternyata berdampak dan kita diskusikan di sini agar lebih bijak. Benar, kita pernah berdiskusi tentang Revolusi Iran pada 1979 dan program nuklir Mahmoud Ahmadinejad beserta sikap kita di serambi sini.”

“Jadi, konflik terbuka antara FPI dan AKKBB merupakan sebagian dari peristiwa yang lebih luas yang berlangsung di Indonesia?” tanya saya.

“Lebih tepat jika pertanyaannya adalah bagaimana kita mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut,” jawab Mang Ucup.

”Bukankah sudah ada Surat Keputusan Bersama di tingkat menteri?” tanya saya lagi. Saya memang bingung dengan sudut pandang yang disampaikan Pakde Adib Susila.

”Pada akhirnya kita saling bergantung dengan yang lain, bahkan dalam peristiwa-peristiwa kecil. Ada pertautan dan hubungan yang sering tidak kita duga. Sejarah penjajahan Belanda adalah praktik manajemen kolonialisme untuk memperdagangkan rempah-rempah, perlawanan bumiputra, sekaligus catatan kerugian Indonesia sebagai TKP,” kata Paklik Sriyono.

”Wah, jika demo hanya rusak-rusakan, ya menutup pintu-pintu rejeki,” sela Mang Ucup. ”Saya ’mah sudah tidak bisa menghitung untung-ruginya. Lha hanya memecah-belah agama. Dialog kok hanya untuk membanggakan diri dengan meniadakan pihak lain. Kartu merah saja.”

”Mari, Bapak-bapak kita membaca bersama surat ar-Rum ayat 32,” kata Pakde Adib Susila. ”Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik yaitu mereka yang memecah-belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte, setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka.”

Kami mencerap huruf demi huruf dalam helaan nafas panjang ketika membaca dan menerjemahkan maknanya. Dan kami melanjutkannya dengan al-An`am ayat 169: “Sesungguhnya mereka yang memecah-belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte, engkau (Muhammad) tidak sedikit pun termasuk mereka.”

Diskusi tentang Indonesia sebagai TKP sungguh menggugah pemahaman kami. Sebagai umat beriman, kami harus menjaga harapan saban membaca berita. Jika kata tak berjawab, andaikata gayung tak bersambut, maka konflik terbuka antar ormas hanya membuka luka lama yang sampai sekarang belum seluruhnya tersembuhkan. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: