Transportasi dan Keadaban Publik

Cahaya Ramadan KORAN MERAPI Selasa 18 September 2007

Selama Ramadan, sebagaimana sebelumnya, saya bersama beberapa teman mempunyai kebiasaan sowan ke sejumlah orang atau lembaga. Ada panggilan untuk menjadi santri kalong, mencari sepercik cahaya di bulan yang penuh barakah. Biasanya kami sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Dan alhamdulillah, malam ini kami bisa nyantri pada Mas Ahmad Subagya, analis kebijakan publik, di rumahnya di Sewon Bantul. Dengan laptop dan MP3 pinjaman, dengan niatan mencari ilmu, kami mencatatnya:

Ibadah Ramadan dan Idul Fitri merupakan perintah agama, tetapi dalam pelaksanaannya tentu tidak terpisah dengan unsur budaya. Misalnya budaya mudik (pulang kampung) saat lebaran yang sudah berkembang menjadi fenomena nasional. Saya berharap pemerintah lebih serius dan amanah untuk mengelola arus mudik dan balik.

Bacalah dari kepentingan warga yang membutuhkan transportasi, entah darat, laut, udara, maupun sungai. Setiap membaca berita kecelakaan lalu lintas, seakan-akan tidak ada hubungan antara disiplin berpuasa kita dengan berkendara. Saling serobot, mengidap buta warna nasional terhadap lampu merah, dan sebagainya. Lha, ini ’kan sudah menjadi tugas rutin pemerintah, kok menjadi tragedi sekaligus komedi. Ini masalah etika publik, dan ini keadaban kita sebagai muslim je.

“Keselamatan Transportasi Jalan” sudah dikampanyekan Presiden pada Senin 23 April 2007 yang lalu. Tetapi kampanye belum menjadi proses belajar sosial. Kampanye cenderung menghasilkan informasi daripada menerima, lebih suka berbicara daripada mendengar, dan kekuatannya ditentukan justru dengan tidak belajar dari pengalaman. Kita sudah dingatkan QS an-Nahl ayat 92,
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)-mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.”

Kondisi cerai-berai itu ya kesemrawutan di jalan raya. Perkembangan industri otomotif tidak diimbangi dengan perencanaan lalu lintas dan pembangunan infrastruktur. Masyarakat ’kan sudah membayar pajak ke pemerintah. Nah, mestinya dana itu dikembalikan menjadi fasilitas publik untuk mudik.

Kita mencatat, setiap tahun sebelas ribu nyawa dan dua puluh ribu kasus kecelakaan terjadi di jalan. Ini “prestasi” tertinggi di Asia Pasifik. Akibatnya, 2,17 % total pendapatan domestik bruto melayang, kebahagiaan dan kebersamaan dengan keluarga hilang, dan sebagainya. Bukan hanya korban kecelakaan yang merugi, tetapi kita semuanya menanggung akibat.

Kami yang muallaf dalam ilmu transportasi dan kebijakan publik terbengong-bengong dengan paparan beliau. Misalnya, sistem penjualan tiket bis ternyata masih merepotkan dan membingungkan. Umat yang mestinya terlayani malah teraniaya. Kondisi teraniaya juga terjadi manakala pihak bandara Adisucipto di dusun mBaduk tidak optimal melayani arus penumpang datang dan berangkat, yang mencapai 6.754 orang per hari, dari H-7 hingga hari Lebaran selama dua tahun terakhir. Lha, kondisi normalnya ternyata 5.000 orang per hari.

Mas Ahmad Subagya wanti-wanti, sebagaimana dalam kasus lain, mawas diri berlaku untuk kita semua, apalagi di bulan yang penuh berkah ini. Masalah transportasi terletak pada nilai keutamaan Ramadan sebagai keadaban publik, alat untuk menjadikannya sebagai sumber belajar sosial, serta lembaga yang amanah untuk mengupayakannya. Dan inilah tugas kita sebagai muslim dan warga. Itu artinya tidak sekadar menyalahkan Dinas Perhubungan. Kami yakin, Hari Perhubungan Nasional pada 17 September kemarin layak menjadi cahaya Ramadan untuk tatakelola transportasi publik yang lebih manusiwi. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: