Yang Mudik

Cahaya Ramadan KORAN MERAPI Minggu, 28 September 2008

Alhamdulillah, hari ke-28 puasa Ramadan. Bersyukur bahwa kami masih mendapat nikmat untuk mengalami jam demi jam bulan suci ini, sekaligus bersedih bahwa waktu akan bergulir ke bulan Syawal. Dan doa demi doa terlantun untuk dapat mengalami kembali Ramadan tahun depan.
Perasaan ini yang juga membuncah setiap kami mengantar teman-teman yang akan mudik ke kampung halaman. Siang ini di terminal Giwangan, Yogyakarta, kami mengantar beberapa teman: Mas Luji pulang ke Blora, Mas Rumawi ke Jepara, Bagus ke Lampung, dan Lik Prambudi ke Jakarta.
“Setahun di Jogja, sekarang saatnya bertemu kembali dengan teman-teman kampung. Seminggu cukup untuk mengobati rasa kangen. Juga kangen masakan mamak,” canda Bagus.

“Idem, Gus,” tambah Lik Prambudi. “Kita ‘kan turut menyukseskan barisan mudik nasional. Hitung-hitung jadi duta Jogja di desa.”

“Kata guru agama, doa seorang musafir merupakan salah satu di antara tiga doa yang pasti dikabulkan Allah. Ya banyak-banyaklah memperbanyak doa karena Allah Maha Mengabulkan doa,” kata Mas Rumawi mengingatkan.
Kami bercanda ringan di selasar terminal. Tidak terlalu padat. Lalu-lalang penumpang yang akan mudik berbaur dengan yang barusan datang.

“Inilah ziarah terbaik dalam peradaban Indonesia,” kata Mas Luji. “Dengan mudik kita hendak mencerap kembali masalalu untuk memperkuat fitrahnya masadepan. Untuk persaingan hidup yang semakin ketat, ritual ini kita butuhkan.”

Kami mendaulat Mas Rumawi untuk membaca hadits yang sangat indah, yang selalu kami baca saban mengantar teman-teman di terminal:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Mahasuci Allah yang menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, taqwa, dan amal yang Paduka ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Paduka adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada keluarga dan harta, dan ketika kembali dari perjalanan jauh panjatkan doa: Kami kembali, kami selamat, bertaubat, tetap beribadah dan tetap memuji Rabb kami,” (HR. Muslim).

Kami memang merasa lelah. Ketatnya jadwal Ramadan membuat kami tidak selalu mengikuti perkembangan kebijakan. Masalah transportasi, tatakelola kebutuhan pokok, pergerakan harga, lapangan kerja, juga yang lain. Kami justru menikmati kediaman dengan pemandangan di terminal. Wajah-wajah yang berharap untuk segera bertemu keluarga, tekad untuk memperbaiki nasib, juga tanggung jawab sebagai anggota keluarga. Tidak ada perbincangan dengan data dan statistik yang njelimet.

Ya Rabb, kabulkanlah doa kami. Kediaman kami adalah jeda ketika kata-kata dan pamflet sudah tidak mencukupi. Kami butuh perubahan, dengan satuan-satuan kecil. Kami butuh perubahan agar keseharian lebih terjaga dan kehidupan menjadi lebih baik. Bersama teman-teman yang akan mudik, kami sungguh berharap bahwa merekalah duta-duta perubahan di kampung halaman. Semoga pengalaman di Jogja menjadi pengalaman terbaik sebagai pembelajar kehidupan, dimanapun. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

2 responses to “Yang Mudik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: