Yogya Bukan Kota Pendidikan, tapi Kota Jasa Pendidikan

Bernas, Danurejan, Jumat, 15 Juni 2001


http://www.indomedia.com/bernas/062001/15/UTAMA/15pel3.htm

Banyaknya institusi pendidikan di Yogyakarta, menurut pengamat pendidikan Prof Dr Djohar MS, tidak otomatis menjadikan slogan Yogyakarta sebagai kota pendidikan, melainkan sebagai kota jasa pendidikan. Banyaknya institusi pendidikan di Yogyakarta juga bukan jaminan sebagai kota pendidikan.
Alasan krusial yang mendukung penilaian tersebut adalah bahwa banyak momen-momen di luar pendidikan yang justru mendesak matrik pendidikan itu sendiri. Peredaran napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) di masyarakat termasuk di kalangan pendidikan, menurut Djohar seperti dikutip anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPRD DIY Imam Samroni SPd, telah merusak citra pendidikan.
“Artinya bahwa pendidikan itu sendiri sampai sekarang masih belum memiliki kemanfaatan langsung pada masyarakat,” ujar Imam Samroni kepada wartawan, Kamis (14/6).
Djohar mengatakan hal itu kemarin di hadapan jajaran anggota FKB DPRD DIY di ruang loby lantai I. Pakar pendidikan itu memang diundang oleh FKB dalam rangka fraksi mencari masukan untuk menilai laporan pertanggungjawaban (LPJ) Gubernur DIY mendatang.
“Ukurannya bahwa Yogya bukan kota pendidikan, keunggulan komparatif dan kompetitif DIY sudah kalah dengan provinsi yang lain,” tutur Djohar.
Kesenjangan pendidikan dengan masyarakat itu, kata Djohar, sebagai akibat dari sistem pendidikan yang sentralistik yang berbasiskan pada sekolah dengan Metode Belajar Siswa (MBS). Sistem itu diakui tidak mampu melakukan fungsi transformasinya bagi peserta didik, apalagi masyarakat.
Untuk itu, lanjut Djohar, memang Undang-undang Nomor 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) yang sentralistik itu sudah waktunya untuk direvisi.
Sementara di sisi lain, seiring dengan otonomi pendidikan, masih menurut Djohar, Pemda DIY ke depan diharapkan mengubah sistem pendidikan yang selama ini menggunakan Metode Belajar Siswa (MBS) menjadi Metode Belajar Masyarakat (MBM). Bagaimana secara riil itu bisa diterapkan dan bagaimana menyangkut alokasi anggarannya, justru hal itu merupakan formulasi baru yang harus dipikirkan bersama. (sun) _

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

One response to “Yogya Bukan Kota Pendidikan, tapi Kota Jasa Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: