“Gaji” Pengemis di Yogyakarta Lebih Tinggi dari UMP

Sinar Harapan Senin, 21 April 2003

Jika Anda dari luar Yogyakarta kebetulan singgah di Kota Budaya ini, jangan lupa sediakan uang receh seratusan rupiah di dashboard mobil. Bisa juga Anda mengantongi uang receh itu di saku celana bagi pengendara motor. Bukan itu saja, penumpang bus kota pun punya kewajiban mengantongi uang recehan tersebut.
Kenapa? Jangan kaget, di setiap perempatan jalan, Anda akan bertemu dengan para pengemis, mulai dari yang berumur 60-an tahun, hingga anak-anak balita. Mulai dari pemuda kumal, sampai gadis bergaya kaum gipsy.
Semua lengkap, komplit, akan merubung Anda. Maksudnya jelas, minta dikasihani sekadar uang receh. Rp 100 saja!
Cara mengemis itu pun dilakukan bermacam gaya. Ada yang hanya langsung mengacungkan tangan, meminta; ada juga dengan alat musik ecek-ecek dari tutup botol yang dirangkai dengan paku; ada pula yang dengan ukelele; ada juga yang dengan menjual jasa membersihkan kaca mobil dengan kain superkumal. Tujuannya satu: meminta sedekah cepekan.
Para pengemis di jalanan itu tidak banyak terlihat di Yogyakarta sebelumnya, tetapi setelah krisis ekonomi menerpa, barang-barang kebutuhan pokok menjadi mahal; secara perlahan namun pasti, jumlah pengemis di Yogyakarta meningkat tajam. Hampir di setiap perempatan jalan pasti ada pengemis, pengamen.
Mereka berebut lahan. Satu perempatan bisa dihuni empat sampai dengan 10 pengemis!
Runyamnya, para pengemis itu justru satu keluarga. Sebagai contoh di Perempatan Gramedia, di Jalan Jendral Sudirman. Di sana, pemandangan aneh terjadi.
Anak usia tiga tahun berebut mengemis bersama teman sebayanya dan kakak-kakaknya. Orangtua mereka cukup melihat dari sudut jalan yang lain. Anak-anak mereka yang berkarya.
Hal serupa juga terlihat di Perempatan Pingit. Dua orang gadis berkulit hitam dan—sebenarnya—berwajah cukup manis seusia 13 tahun, menggendong bocah sebagai sarana penambah iba untuk mendapatkan uang receh.
Kisah keluarga pengemis itu makin bertambah panjang ketika melihat suami-istri buta mengemis bersama tiga anaknya di Perempatan Pojok Beteng Wetan. Para keluarga pengemis itu mulai “berkarya” sejak tiga tahun silam!
Kenapa mereka mengemis? Apakah lapangan pekerjaan di Yogyakarta begitu sempit sehingga rela mengemis di tengah terik matahari dan guyuran hujan? Jawabannya satu yang pasti. Pendapatan dari mengemis lebih besar daripada bekerja di kantoran dan bidang jasa lainnya.
Rata-rata, pengemis di Yogya mendapatkan hasil Rp 25.000 per hari. Itu artinya, jika sebulan penuh tanpa libur ia mengemis, penghasilannya mencapai Rp 750.000. Sama dengan gaji awal sarjana S1 di perusahaan swasta menengah ataupun PNS!
Indikasi bahwa mereka memang sengaja memilih pekerjaan sebagai pengemis daripada kerja di sektor lain adalah dengan dilihat dari lama kerja mereka. Rata-rata mengemis selama tiga tahun berturut-turut, jelas merupakan pilihan; bukan sebagai keterpaksaan, apalagi setelah mengetahui penghasilannya yang besar.
Rata-rata pengemis satu keluarga itu kondisi kesehatannya bagus. Anak-anak usia balita, pipinya tampak gembul, sehat. Sementara itu, kakak-kakak perempuan mereka yang berusia 10 tahun wajahnya ceria.
Ketika sore tiba, mereka pun mencegat penjual bakso dan memesan bakso bersama. Acara “rehat” itu akhirnya menjadi pemandangan yang ganjil di tengah hiruk-pikuk Perempatan Gramedia.
Dari penelitian yang dialukan oleh Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga Ketua Tim Program Pengembangan Kecamatan (PPK DIJ) Dr Bambang Purnomo mengungkapkan anak jalanan dan pengemis yang ada di Yogya banyak yang berasal dari luar Kota Pelajar ini.
“Jumlah mereka terus bertambah. Mungkin karena pendapatan mereka melebihi Upah Minimum Provinsi, maka mereka memang sengaja menekuni pekerjaan mengemis itu,” kata Bambang.

Jangan Beri Uang
Untuk menanggulangi masalah tersebut, Pemprov DIY memberi masukan kepada masyarakat luas agar tidak memberikan uang kepada mereka. “Diharapkan dengan cara itu, lambat laun jumlah anak jalanan dan pengemis akan berkurang. Jika ada saran untuk merazia mereka, kami masih kasihan karena jelas kurang manusiawi,” tuturnya.
Mengenai PPK sendiri, kata Bambang, merupakan program nasional yang merupakan kerja sama internasional antara Pemerintah Indonesia dengan Bank Dunia. Tujuannya adalah mempercepat penanggulangan kemiskinan.
Menurut Bambang Purnomo, tujuan utama PPK tetap diutamakan untuk penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat dan kapasitas mereka dalam mencukupi kebutuhannya. Sasarannya tentu saja masyarakat pedesaan di lokasi PPK terutama kelompok penduduk miskin. Kategorinya didasarkan ketentuan masyarakat setempat melalui forum musyawarah desa dan atau antardesa.
Ditemui secara terpisah, anggota Komisi E DPRD DIY Imam Samroni membenarkan pendapatan pengemis bisa melebihi UMP (Upah Minimum Provinsi). “Kami pernah mengadakan penelitian pada tahun 2002. Pendapatan mereka bisa mencapai Rp 40.000 per hari,” katanya.
Imam menambahkan, selain pengemis satu keluarga itu, di Perempatan Gondomanan juga ada anak jalanan. “Jumlah anak jalanan di Yogya saya belum tahu pasti, namun anak jalanan di Malioboro ternyata mencapai 21 kelompok,” katanya.
Penanganan pengemis dan anak jalanan itu setidaknya sudah dilakukan oleh Didit yang memiliki LSM untuk mendampingi anak-anak Girli (pinggir kali Code). Lewat LSM-nya Didit berusaha mendidik para anak jalanan itu untuk mandiri, tidak menggantungkan diri pada belas-kasihan orang lain. Gerakan yang dilakukan Didit sudah membuahkan banyak hasil.
Akan tetapi, sejak krisis ekonomi dan carut-marutnya kondisi sosial-politik di negeri ini, tiba-tiba saja di Yogya memang terjadi “booming” pengemis. Jumlah pengemis itu kian lama kian banyak, dan kini belum ditemukan jalan keluar yang tepat untuk mengatasi hal itu. Wajah-wajah baru pengemis pun bermunculan. (sh/su herdjoko)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

One response to ““Gaji” Pengemis di Yogyakarta Lebih Tinggi dari UMP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: