Giliran Abdi Dalem Keraton Yogyakarta “Tapa Bisu” di DPRD DIY

Kompas, Jumat, 01 Agustus 2003

Yogyakarta, Kompas – Gedung DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kembali diramaikan ribuan pengunjuk rasa yang mempermasalahkan pemilihan kepala daerah DIY.
Massa tidak mengancam atau menuntut agar segera diadakan penetapan gubernur, namun sekadar mengingatkan agar anggota DPRD tidak lupa dengan sejarah Yogyakarta. Mereka mengawali dengan tapa bisu (bertapa dengan tanpa bicara), duduk di halaman DPRD selama 10 menit, dan kemudian melakukan protes dengan cara menyanyikan tembang Jawa serta menyerahkan geguritan (puisi berbahasa Jawa).
Demo unik yang berlangsung Kamis (31/7), itu diterima Ketua DPRD Surasmo Priyandono, anggota Fraksi Partai Golkar Ediyanto Abdullah, anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Agus Subayo, serta anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa Imam Samroni dan Rosoel Sodik.
Pendemo sebagian merupakan abdi dalem Keraton Yogyakarta, pedagang kaki lima di kawasan Malioboro, serta masyarakat umum yang datang dari Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul .
“Kami datang ke DPRD tidak hendak mengancam atau menuntut. Hanya ingin mengingatkan supaya anggota DPRD DIY tidak mengecewakan rakyat Yogyakarta dalam mengambil keputusan yang penting,” kata pranatacara (koordinator aksi) Budayawan Habib Bari, yang bergelar Raden Riyo Wiwoho Budya Yuwono.

Lupa sejarah
Baik tembang maupun geguritan yang dilantunkan dalam bahasa Jawa itu berisi tentang penjelasan, bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta sudah diberikan oleh Bung Karno pada 5 September 1945 ketika Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan kesetiaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pascaproklamasi.
“Nah, dalam perjalanan waktunya, mengapa DPRD DIY seperti lupa pada sejarah,” ujar Habib Bari.
“Kami mengingatkan mereka, dan cobalah jangan melukai hati rakyat Yogyakarta. Kami sama sekali tidak menyebut masalah penetapan atau pemilihan. Kami tidak memasuki jalur politik. Yang kami lakukan adalah cara kultural,” imbuhnya.
Semua yang ikut unjuk rasa mengenakan busana Jawa peranakan dan surjan, lengkap dengan blangkon dan keris.
Setelah tapa bisu, acara dilanjutkan dengan membacakan geguritan dan mocopatan dengan tembang Kinanthi oleh Nyi Condro Trini dan Dandanggula, yang menceritakan sejarah Yogyakarta oleh Romo Riyo Manggala Wijaya.
Yang agak menegangkan ketika kemudian dilantunkan sekar Durma Rangsang. Para pengunjuk rasa memindahkan posisi keris dari belakang ke depan, yang memudahkan keris ditarik dari sarungnya.
“Kalau sudah seperti itu, istilah Jawanya nyothe, siap perang,” ujar Habib Bari. (SIG)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: