Yang Mengaku Kalah dengan Kampanye Terbuka

Kompas, Kamis, 11 Maret 2004

MASALAH dana yang teramat kritis menjadi keluhan partai-partai baru di wilayah Yogyakarta. Karena itu, mereka memilih strategi kampanye yang irit dana, tetapi efektif dan kreatif untuk menarik massa. Di samping itu, banyak partai yang masih minim persiapan meskipun hari pertama kampanye telah tiba.

DEMIKIAN hal-hal yang muncul ke permukaan pada uji coba Karnaval Kampanye Damai di wilayah Yogyakarta, yang dirangkum dari pendapat beberapa pemimpin partai baru yang dihubungi Kompas, Rabu (10/3). Pantauan Kompas di lapangan, jelas terasa ada ketimpangan yang begitu mencolok antara partai baru dan partai lama, khususnya partai besar.
“Ngapain kami mengadakan kampanye terbuka, di samping pertimbangan dana, dalam kampanye terbuka jelas kalah penampilan kami dengan partai-partai besar,” kata Jimmy Setiawan, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD). Pernyataan Jimmy itu bukanlah pengakuan kalah sebelum berperang, namun realitas itu dipandang dengan sikap kedewasaan berpolitik.
“Partai kami didominasi anak-anak muda yang memang sedang mempersiapkan diri untuk digembleng menjadi negarawan yang penuh kedewasaan politik. Inilah kemenangan kami,” kata Jimmy.
Partai ini dalam kampanye lebih menekankan kampanye in door. Dalam bentuk sarasehan, program dijelaskan secara detail kepada para simpatisan yang dipersiapkan tim sukses partai itu di desa-desa. “Kami sudah lama mempersiapkan partai ini. Kami sudah mengampanyekan ke desa-desa jauh sebelum pemilu. Karena itu, dalam kampanye ini, kami menekankan pada penyebaran brosur-brosur yang berisi prioritas program yang diperjuangkan oleh partai kami,” kata Jimmy.
Apakah karena sudah lama kampanye di desa-desa itu lantas untuk kampanye kali ini PBSD belum merespons dengan persiapan yang signifikan? Kompas yang datang ke kantor partai di Notoprajan sama sekali tidak menemukan pengurus partai. “Kami malam ini (Rabu malam-Red) baru akan rapat untuk membahas kampanye besok, formatnya seperti apa. Yang pasti kami akan menyebar brosur,” papar Jimmy.
Minimnya persiapan PBSD tergambar di Sekretariat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDSB Sleman. Rabu siang kemarin di Kantor Cabang PBSD suasana sangat lengang. Tak ada massa yang berkumpul untuk menyiapkan kampanye, padahal PBSD mendapat giliran kampanye pertama hari Kamis ini.
Bendera partai atau sekadar papan nama partai pun tak ada. Hanya seekor anjing yang menyalak keras ketika Kompas datang ke kantor yang berada di kompleks perumahan Sleman Permai, Tridadi, Sleman. Di dalam kantor yang sekaligus menjadi rumah tinggal itu hanya ada Sutaryono, calon anggota legislatif (caleg) PBSD nomor satu di wilayah Sleman I, serta istri dan anaknya. “Persiapan kampanye masih amburadul Mas. Bendera saja belum ada. Masih menunggu kiriman dari dewan pimpinan daerah. Saya mau bikin sendiri takut salah warnanya,” katanya.
Di dalam surat izin yang diajukan ke Kepala Kepolisian Resor Sleman pun, PBSD Cabang Sleman hanya mendaftarkan empat peserta kampanye dengan media kampanye brosur yang akan disebarkan dengan empat motor.
Di Kantor PBSD yang jauh di Dusun Sempu, Danarto Putro, caleg PBSD nomor 1 wilayah pemilihan Sleman II, mengatakan, “Teman-teman sudah pulang sejak tadi siang. Tidak banyak yang perlu dilakukan, kok. Kami besok hanya akan menyebarkan pamflet kepada kelompok-kelompok tani binaan kami.”
Hal yang sama dialami Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme Kota Yogyakarta. Untuk lima daerah pemilihan di Yogyakarta yang akan menjadi ajang kampanye PNI Marhaenisme, hanya tiga daerah pemilihan yang diisi. “Kami hanya pawai sepeda motor diikuti 50 orang dan temu simpatisan,” kata Hadi Supoyo, Sekretaris PNI Marhaenisme Kota Yogyakarta.
Dikarenakan keterbatasan dana, partai ini sama sekali tidak mencetak kaus atau gambar-gambar partai. “Ya, hanya para calon anggota legislatif dari partai kami yang membuat selebaran atau kaus. Itu pun jumlahnya tidak banyak,” paparnya.
Sebenarnya bantuan Pemerintah Kota Yogyakarta diharapkan cukup berarti untuk dana kampanye. “Tapi nyatanya kami hanya disumbang Rp 500.000, untuk kampanye sekali sudah habis,” kata Hadi Supoyo.

UNTUK menyiasati minimnya dana, Partai Sarikat Indonesia (PSI) Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, justru telah siap tampil berkampanye dengan konsep yang agak unik, genit, dan nyeleneh. Partai itu menyiapkan stiker-stiker gaya pelesetan, gaya kaus Dagadu yang menghibur, seperti “Bahaya! Jangan mandi di laut. Kalau tak percaya, tanya aja yang sudah kelelep”.
Pesan-pesan kampanye seperti itu sepertinya di luar konteks politik yang cenderung didominasi bahasa jargon, tetapi para kader PSI yakin pesan itu justru lebih mudah diingat warga Bantul. Stiker lucu itu telah dibuat sekitar 1.300 lembar dan akan dibuat lagi sekitar 1.800 lembar.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang PSI Bantul Imam Samroni mengatakan, di PSI Bantul ada kesepakatan membuat stiker yang lucu-lucu saja. “Biar kampanye kami menghibur dan membuat orang tertawa,” katanya.
Imam mengaku, partainya tidak mungkin mengadakan kampanye seperti partai besar yang mengandalkan massa. “Selain massa kami tidak banyak, modal kami juga cekak. Tetapi, kami ingin mencuri perhatian dengan cara lain,” kata Imam.
Inilah nasib partai baru. Tak ada dana untuk menjalin akses ke masyarakat dan waktu kampanye memperkenalkan partainya hanya diberi tiga minggu. Namun, kompetisi harus berjalan, apa pun hasilnya. (K10/BSW/TOP)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: