Haji yang Berkabar

serambi-jumat1

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 28 Nopember 2008

“Jika dihitung berdasarkan hari ini, hanya tinggal delapan hari untuk pelaksanaan wukuf di Arafah. Kita tahu, tujuan yang utama dari ibadah haji adalah mengingat Allah dengan kewajiban mengikhlaskan niat karena Allah semata. Dengan bekal yang halal, tahu tatakelola manasik sesuai contoh Rasulullah SAW., serta meninggalkan larangan-larangan yang bisa merusak ibadah, doa kita adalah agar bisa mencapai haji mabrur.”


Demikian pengantar Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, di serambi masjid. Sejumlah tayangan yang diunduh dari internet, yang disiapkan dik Brahim, mampu menghadirkan suasana ibadah haji. Di samping tayangan manasik haji, kami melihat suasana terakhir kota Madinah, yang sudah banyak ditinggalkan jamaah Indonesia.

“Ada salam yang senantiasa disampaikan oleh para jamaah haji usai shalat sunnah di Raudhah yang mulia, di masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwah: Assalamu’alaika ya Rasulallah, semoga Allah tidak menjadikan ziarah ini sebagai ziarah yang terakhir bagiku,” papar Paklik Sriyono. “Pengalaman menunaikan ibadah haji tahun kemarin sungguh menyentuh hidup saya.”

Mang Ucup dan Mas Fauzi lantas membagikan lembaran yang berisi tuntunan ibadah haji. Isinya sangat memikat. Tentang macam-macam ibadah haji dirinci haji ifrad, qiran, dan tamattu. Untuk rukun dan wajib haji dimulai penjelasan dan gambar tentang ihram, wukuf, tawaf, sa’i, tahallul, mabit, dan melontar jumrah. Penjelasan lain-lain adalah mengenai miqat, bacaan talbiyah, denda (dam), empat rukun ka’bah, dan Idul Adha.

“Menunaikan ibadah haji merupakan panggilan yang sangat dirindukan oleh setiap muslim, bahkan oleh mereka yang telah menunaikannya berkali-kali sekalipun. Inilah kerinduan terhadap puncak-puncak ibadah. Kita menyaksikan sendiri tayangan barusan,” tambah Paklik Sriyono. “Oleh karena itu, bagi yang berkesempatan, agar menggunakan kesempatan emas itu dengan sebaik-baiknya. Sebab, belum tentu kesempatan itu datang kembali.”

Kami merasakan ada getaran halus dalam pernyataan Paklik Sriyono. Ya kerinduan, ya pengharapan, juga doa dan doa yang senantiasa terlantun agar sikap keseharian senantiasa terjaga.

Saya membacakan SMS seorang sahabat, yang tengah menunaikan haji kepada teman-teman kajian: ”Ba’da shalat Isya di masjid Nabawi, saya berangkat menuju Mekkah. Dengan berpakaian ihram dan melafatkan niat umrah, dengan miqat di masjid Bir Ali, dengan terlebih dahulu melakukan shalat sunnah niat untuk berumrah 2 rakaat, Alhamdulillah saya melafalkan niat Labbaika Allahumma’umratan.”

”Sama dengan pengalaman saya,” cerita Paklik Sriyono. ”Dibutuhkan perjalanan darat kurang lebih lima jam untuk sampai Mekkah. Setelah shalat Subuh di penginapan, saya bersama rombongan langsung ke Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah, yaitu tawaf dan sa’i.”

”Tapi Paklik pernah cerita bahwa suasana Madinah lebih nyaman dibanding Mekkah,” kata dik Brahim. ”Lebih santun, tidak bergegas, juga penuh kekeluargaan.”

”Benar. Tetapi inilah rangkaian ibadah haji. Delapan hari di Madinah dan dua belas hari di Mekkah, merupakan persiapan dan pengalaman luar biasa untuk menyiapkan wukuf di Arafah,” jawab Paklik Sriyono.

Pakde Adib Susila mengajak kami untuk bersama membaca surat Ali Imran ayat 96-97, untuk mencerap peristiwa haji Wada’ (haji perpisahan): “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda nyata, (di antaranya) makam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baittullah itu) menjadi amanlah ia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.”

Kabar tentang haji dengan rangkaian ibadahnya merupakan sesuatu yang memanggil. Kami menyimak diskusi dengan doa, kapan kami berkesempatan. Haji yang berkabar menjadi proses belajar sosial beragama bagi kami. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: