Masih Ada Kemunafikan; Cantik dan Tampan Adalah Modal Sukses?

http://www.kr.co.id/article.php?sid=128197
Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta – Keluarga, Sunday, 24 June 2007,
Untuk menelisik lebih jauh soal ini, perlu dilihat hasil laporan program “Penguatan Pemahaman dan Sikap Keagamaan yang Berkeadilan dan Berkesetaraan Gender dalam Keluarga di wilayah DIY”. Program ini digelar Pusat Studi Islam (PSI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta bekerja sama dengan Cordaid.

Menanggapi hal ini, Dr Haryatmoko atau yang akrab dipanggil Romo Hary mengatakan, sangat jarang ada institusi yang meneliti perilaku secara serius sehingga menghasilkan data.

“Polling menunjukkan, banyak responden yang menolak jika cantik dan tampan jadi modal sukses. Tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan jika belanja kosmetik maupun aktivitas untuk kecantikan ragawi, begitu tinggi. Ini sebenarnya indikasi apa?, karena di sini terlihat ada sisi kemunafikan,” kata Romo Hary.

Ditambahkan, jika dulu, orang puasa untuk kebutuhan rohani. Bisa jadi, puasa pada masa kini memiliki tujuan ganda, juga untuk kemolekan tubuh. Jadi, apakah ada yang salah dalam kehidupan bermasyarakat, karena realitanya tidak sama dengan yang seharusnya seperti yang disampaikan responden. Apakah kemunafikan ini, memang ada kaitannya dengan apa yang seharusnya dan apa yang terjadi sesungguhnya?. “Di balik semua ini, menunjukkan jika sistem pengajaran tidak cukup hanya instruksi. Contohnya, untuk pelajaran moral misalnya bagi anak SMU, bisa jadi lebih mengena bila dilakukan secara live in seperti bertemu langsung dengan orang miskin, korban kekerasan dan lainnya,” jelas Romo Hary.

Sementara Prof Amir Mualim menilai, kecantikan juga ada korelasi dengan hubungan bisnis. Namun, agama dengan jelas mengajarkan prinsip keseimbangan. Kecantikan ragawi dinilai penting apalagi ada ungkapan, ‘Selama kamu masih cantik, aku masih cinta’. Semestinya, kecantikan istri adalah untuk kepentingan suami, begitu juga sebaliknya. Dalam tataran saat ini, urusan cantik dan tampan untuk publik sudah masuk pada dunia entertainment.

Sedang Pimpinan Program Imam Samroni mengatakan, PSI UII mengapresiasi sikap ini dalam konteks kuasa kapitalisme. “Artinya, meskipun responden cenderung menolak, kecuali pada identitas agama, hal kecantikan dan ketampanan sudah menjadi konstruksi budaya sebagaimana kepentingan pemilik modal dalam bisnis ini,” kata Imam.

Untuk program ini, jumlah angket yang disebar sebanyak 2.405 dan jumlah angket yang rusak 394 dan angket yang dimasukkan 2.011 lembar. “Pada beberapa diskusi yang kami lakukan, kecantikan itu ada kaitannya dengan budaya dan kapitalisme. Kalau ada kelompok yang anti hanya jadi anekdot. Namun, ketika mencari istri, ada yang menyebutkan kembali ke khittah,” tambah Imam.

Konteks program ini adalah sikap perhatian terhadap kondisi-kondisi ketidak dan ketidaksetaraan gender dalam keluarga, pembangunan dan pemberdayaan gender, serta relasi antara agama-agama, gender dan pembangunan.
Gender dipahami sebagai perbedaan peluang, peran dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki sebagai hasil konstruksi sosial dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Sehingga, capaian kinerja pembangunan dan pemberdayaan gender mampu mencitrakan dan memperkuat sikap keagamaan yang adil dan setara gender dalam keluarga.

PSI UII menegaskan bahwa doktrin agama-agama yang ternyatakan dalam teks suci adalah adil dan setara gender. Namun, ketika sudah berada pada wilayah pemahaman dan penyikapan, sebagai hasil interaksi antara umat beragama dengan teks suci, kerapkali ajaran itu terdistorsi. Hal ini terutama disebabkan pola pikir patriarki yang telah mengakar kuat dan ternyatakan sebagai sikap keadilan dan kesetaraan gender dalam keluarga. (Hanik Atfiati)-g

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: