Rakyat Yogya Harapkan Gubernur Perempuan

SUARA PEMBARUAN DAILY 12 April 2007
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/04/12/Nusantar/nus03.htm

[YOGYAKARTA] Berdasarkan riset yang dilakukan Pusat Studi Islam (PSI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang bekerja sama dengan Cordaid, rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagian besar mengharapkan gubernur perempuan. Dari 2.011 responden yang dipilih secara acak di seluruh kabupatan/kota di Yogyakarta, lebih dari 60 persen menjawab bahwa perempuan dinilai pantas dan kuat menjadi gubernur di DIY.

Wakil Tim Periset PSI UII, Drs Yusdani Mag, di Yogyakarta, Rabu (11/4) mengatakan, rangkuman penelitian terhadap indikator ‘Perempuan sebagai Gubernur’ tersebut merupakan bagian dari riset ‘Sikap Keagamaan yang Berkeadilan dan Berkesetaraan Jender dalam Keluarga di Wilayah DIY’.

Penelitian dilakukan sebelum ada pernyataan dari Sri Sultan Hamangku Buwono (HB) X bahwa dirinya tidak bersedia lagi diangkat menjadi gubernur. Penyebaran angket berlangsung 21 Desember 2006-26 Januari 2007. Penelitian ini tidak terkait dengan pernyataan Sultan tersebut.

“Riset ini dilakukan bukan karena pesanan atau kepentingan tertentu, kami memasukkan dalam riset karena ingin melihat bagaimana tanggapan masyarakat jika perempuan menduduki jabatan publik,” ucapnya.
Dikatakan, tim tersebut menggunakan lima identitas responden dalam indikator “Perempuan sebagai Gubernur” yaitu identitas agama, jenis kelamin, tempat tinggal, umur dan pendidikan.

Sebagian besar responden menilai perempuan adalah pantas dan kuat menjadi gubernur. Dari pengelompokan agama yang dianut, responden dengan persentase terbesar adalah Kristen Protestan sebesar 70 persen, Katolik 55 persen, Hindu 51,1 persen, Islam 41,3 persen dan Budha 40 persen. Dari jenis kelamin, responden laki-laki sebanyak 44,1 persen dan perempuan 52,8 persen yang menilai pantas dan kuat.

Sementara itu, dari sudut lokasi tempat tinggal, responden yang berdomisili di Gunung Kidul 59,1 persen menjawab perempuan layak menjadi gubernur. Setelah itu disusul Sleman (57,4 persen), Yogyakarta (46 persen), Bantul (41,5 persen) dan terakhir Kulon Progo (34,2 persen).

Dari sisi pendidikan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki pendidikan tinggi yang paling banyak mendukung perempuan layak menjadi gubernur. Responden dengan latar sarjana 57 persen menjawab pantas, mahasiswa (51,7 persen), SLTA (43,2 persen) dan SLTP hanya 32,6 persen.

Imam Zamroni, mantan anggota DPRD DIY mengatakan, jika riset itu ditindaklanjuti oleh calon perempuan, hal tersebut tidak melanggar aturan jika seorang perempuan mencalonkan menjadi gubernur termasuk jika terpilih nanti.
Dosen Tata Negara Fakultas Hukum UII, Ni’matul Huda menyatakan, pernyataan Sultan HB X merupakan cerminan sikap seorang negarawan, dan membuka pintu bagi siapa saja warga negara untuk mencalonkan diri sebagai gubernur termasuk perempuan. [152]
Last modified: 11/4/07

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: