Malpraktik Portofolio

Kedaulatan Rakyat, Rubrikasi 01/10/2007 08:30:39

LANGKAH pemerintah melakukan sertifikasi untuk meningkatkan profesionalitas guru, sebenarnya merupakan keharusan seperti diamanatkan dalam UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD). Hanya saja, karena waktu pelaksanaannya yang begitu pendek dikhawatirkan hasil yang diperoleh tidak maksimal. Apalagi dengan jumlah guru yang harus mengikuti program tersebut sampai 2,3 juta guru di seluruh Indonesia.

“Semangatnya memang bagus, tapi pihak penyelenggara sepertinya kurang siap, apalagi jangka waktu yang begitu mepet. Ini proyek besar dengan biaya mencapai Rp 3,45 triliun,” ujar pemerhati profesi guru dan pendidikan H Imam Samroni SPd menanggapi program sertifikasi guru yang kini sedang dilakukan pemerintah.

Pihaknya melihat, pemerintah seolah-olah hanya mengejar target dan keinginan agar peringkat dunia pendidikan di Indonesia naik di mata dunia. Tapi di sisi lain, menurut Imam Samroni yang mantan anggota Komisi E DPRD DIY yang antara lain menangani masalah pendidikan ini, pemerintah tidak menyiapkan perangkat yang matang dan terencana untuk melakukan sertifikasi tersebut.

Direktur Eksekutif Indonesian for Education Development (INFED) ini pesimis, dengan waktu yang relatif singkat itu mampu melaksanakan tugas dengan hasil maksimal. Walaupun untuk keperluan tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran yang tidak kecil.

Pihaknya juga mulai menengarai adanya praktik-praktik yang serba instan dari para guru demi mengejar sertifikasi tersebut. Tak sedikit pula yang kemudian mengambil jalan pintas, yakni mengejar lembaran-lembaran prestasi demi memenuhi persyaratan portofolio. Kalau di lingkungan kedokteran ada malpraktik, maka sebut Imam, kini juga ada kecenderungan para guru melakukan mal praktik portofolio. Kalau itu yang terjadi, hasil yang diinginkan diyakini tidak seperti yang diharapkan.

Kinerja Guru
Sertifikasi guru merupakan program positif dari pemerintah. Dengan sertifikasi ini maka diharapkan muncul tenaga pengajar yang memiliki kualifikasi bagus, sehingga mampu mendongkrak kualitas murid didikannya. Namun demikian, program yang bagus ini tidak menutup kemungkinan melebar dari tujuan.

Menurut anggota Komisi D DPRD DIY, R Heru Wahyukismoyo, iming-iming tunjangan besar hingga Rp 2,5 juta per bulan untuk guru yang lulus sertifikasi, dikhawatirkan justru menjebak guru pada tujuan meningkatkan pendapatan semata.

Iming-iming tambahan pendapatan yang besar ini memang ibarat hujan di musim kemarau. Bagaimana tidak, nasib guru yang bergaji rendah masih menghiasi dunia pendidikan nasional. Jika hanya mengejar pendapatan yang lebih baik, maka sertifikasi guru hanya menjadi ajang meraih target tersebut.

Menurut anggota Komisi D lainnya, Basuki AR melihat bahwa sertifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru. Secara tidak langsung, kegiatan ini akan mendorong guru berupaya meningkatkan kemampuan untuk mengajar, sehingga mampu lulus dalam proses sertifikasi. Namun demikian, perlu diingatkan pula bahwa kualitas kontrol juga diperlukan, baik dalam proses sertifikasi maupun tahapan berikutnya. Selain itu, tambah Basuki, untuk mendapatkan sertifikasi, mestinya perlu melihat jam terbang, termasuk di antaranya kredit poin yang dikumpulkan. q -b

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

3 responses to “Malpraktik Portofolio

  • panca

    profesionalitas guru? bosen komentar sebab kebijakan pemerintah selalu tertegun-tegun. awal tahun ada “money politic” terbesar terhadap jajaran guru! kenaikan gaji kok merusak semangat untuk meningkatkan profesionalitas guru indonesia.
    bosen … bosen …

    Suka

  • ina

    Sst, jangan kecewakan bapak-ibu guru. kenaikan gaji guru kok disebut mo ney politic. Ya ndak apa-pa, yang penting sejahtera. baru omong profesi. gitu lho …

    Suka

  • Ryan AZ

    UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen kok keren. Tetapi pelaksanaannya tidak terlaksana kayaknya. … saya membaca, kok tidak pro-guru dan dosen ya?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: