Epistemology of Critical Theory

jh72

Transkrip Diskusi Epistemologi Ke-9
Tema :“Epistemology of Critical Theory”
Pembicara : Fransisco Budi Hardiman
Moderator : Sunaryo
http://www.dilibrary.net/

Moderator: Assalamu ‘alaikum Wr. Br. Selamat siang kawan-kawan dan yang saya hormati Pak Franki, pada siang hari ini kita akan berdiskusi tentang Epistemologi Teori Kritis. Dan perlu kami informasikan pula bahwa diskusi kita kali ini adalah diskusi epistemologi yang kesembilan. Terakhir kita berdiskusi tentang epistemologi Islam Liberal. Berikut ini, saya akan bacakan CV pembicara kita kali ini. Nama fransisco Budi Hardiman, lahir di Semarang, Juli Tahun 1962. Pekerjaan sebagai Dosen di beberapa Universitas.


Epistemologi teori kritis yang akan kita diskusikan pada saat ini lebih banyak berbicara pada metodologi penelitian. Pada tulisan yang ada pada kita, Pak Franki akan mengangkat kritik teori kritis terhadap positivisme. Kita tahu bahwa positivisme diangkat oleh August Comte. August Comte terinspirasikan oleh keberhasilan ilmu alam dengan positivismenya. Sehingga ia berkeyakinan bahwa hal ini pun dapat dilakukan pada masyarakat atau sosialbudaya. Dan kita akan banyak bicara tentang hal itu, untuk mempersingkat waktu maka saya persilahkan saja kepada Pak Franki.

Pak Franki : selamat siang saudara-saudara sekalian, senang untuk kedua kalinya saya berbicara di sini. Yang pertama saya berbicara tentang seberapa individualkah seorang individu. Saya sudah diperingatkan oleh saudara Sunaryo untuk tidak terlalu berbicara filosofis padahal epistemologi adalah bagian dari diskusi filosofis. Untuk mendamaikan itu saya akan membuat beberapa contoh. Namun sebelum itu saya akan berbicara tentang latar belakang teori kritis dalam konstelasi teoritis yang berkembang di Eropa. Sejak awal zaman modern ketika munculnya ilmu pengetahuan dan munculnya teori kritis ini. Kalau kita perhatikan apa yang mendasari ilmu-ilmu sosial di Eropa, itu tak lain dari pada suatu sikap, pertama optimistis terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua sebuah sikap romantis, dalam arti kritis terhadap perkembangan ilmu alam itu sendiri. Nah, sikap yang pertama ini berkembang sampai pada puncaknya pada abad 18, yaitu zaman pencerahan.

Pencerahan di tiga wilayah, Jerman, Prancis dan Inggris itu mempunyai satu kesamaan di samping juga perbedaanya yaitu melawan metafisika. Termasuk di dalam metafisika, tahayul-tahayul, mitos-mitos, agama dan segala macam bentuk abstraksi yang tidak mempunyai dasar empiris. Perbedaannya kalau di Prancis amat didasari oleh John Locke yang sangat empiristis, begitu juga di Inggris, namun ia sebenarnya mengembangkan pencerahannya sendiri yakni pengembangan tentang mekanisme. Maka di Inggris lebih mengacu pada paham deisme. Suatu paham yang mengatakan bahwa Tuhan setelah menciptakan alam semesta ini, dia menganggur, membiarkan dunia bergerak menurut mekanismenya sendiri. Sedangkan di Jerman, motif pencerahan juga berbeda, ide yang tak pernah hilang dari filsafat Jerman adalah ide mentalitas. Oleh karena itu, menjadi mentalitas yang merasuki filsafat dan juga sastra di Jerman adalah bagaimana mengintegrasikan segala sesuatu. Dalam hal ini juga, ilmu, mitos, iman dan seterusnya.

Bagaimana itu menjadi bangunan yang koheren dan utuh. Oleh karena itu, pencerahan di Jerman tidak mencabik-cabik agama, melainkan memberikan pendasaran yang kokoh, rasional tentang apa itu agama.

Nah tapi apa yang menang dalam pencerahan itu. Yang menang adalah, tendensi-tendensi yang kuat empiristis. Yang dimaksud menang itu adalah yang dominan. Dan malah juga cenderung nihilistis. Hal ini seperti yang ditampilkan oleh Nietzshe misalnya yang lahir pada abad ke 19 dan merupakan titik kulminasi dari abad modern itu sendiri. Dimana kalau orang mau konsekuan untuk menaklukan alam baik alam eksternal yaitu alam material yang kita lihat ini, maupun alam internal yaitu alam psikis manusia, bagian dalam dari diri manusia, pikirannya, instingnya, sikap batinnya, kepercayaannya, semua mau ditolakkan menurut mekanisme. Maka kalau itu semua bisa diketahui secara mekanistis, objektif, maka nilai pun diusir keluar. Karena nilai itu tidak obyektif. Ia masuk dalam lingkup kebebasan manusia. Seperti menafsirkan misalnya. Nah maka sebenarnya tendensi nihilistis boleh dikatakan jadi muara dari aufklarung.

Karl Marx tentu saja salah seorang yang cukup kritis terhadap aufklarung. Ia hidup pada abad ke 19. tetapi ia juga berdiri pada tradisi aufklarung. Kritis dalam arti apa. Ia melihat aufklarung itu terlalu memusatkan perhatiannya pada pencerahan individu yang universalistis tentu saja. Pengetahuan yang universal itu diraih secara individual. Dan apa yang secara invidual diraih secara mendalam itu merupakan sesuatu yang universal yang juga dipikirkan oleh individu-individu yang lain. Pencerahan ini adalah pencerahan borjuis. Seseorang bisa menjelaskan dengan teori ekonominya, teori sejarahnya, tapi ini semua berakar dari epistemologi Marxist itu sendiri yang sangat anti terhadap sebuah pemikiran epistemologis bahwa pengetahuan itu lepas dari konteks sejarah. Universalistis, transendental, yang dimaksud dengan transendental itu metahistoris, yang dimaksud metahisroris itu adalah, na ya kalau pada hari ini saya memberikan kepada anda semua mata Tuhan maka mata Tuhan itu kita-kira akan melihat akhir dunia dan awal dunia dalam satu keutuhan. Tidak dalam suatu dinamika melainkan dalam suatu keutuhan total. Nah itu adalah corak pengetahuan borjuasi. Epistemologi universalistis, individualistis yang dikritik oleh Marx. Orang yang mewakili cara pandang ini tentu saja Immanuel Kant, dengan pandangannya tentang rasio murni.

Lalu apa yang dilakukan oleh Marx. Yang dilakukan oleh Marx adalah sebagai anak zaman pencerahan juga yang kritis tentu saja. Ia ingin melakukan pencerahan jilid kedua. Yaitu memperlihatkan bahwa ada wilayah-wilayah kehidupan yang bisa dicerahkan bukan alam misalnya saja seperti yang dilakukan oleh kaum borjuasi. Seperti Kant misalnya, atau banyak juga orang borjuasi pada masa itu bahkan memandang manusia oleh Hobbes. Memandang manusia secara alamiah dengan segala kepentingannya.

Menurut Marx, wilayah lain yang harus dicerahkan adalah hubungan-hubungan sosial. Dan hubungan sosial ini tidak melulu bersifat alamiah. Itu terdapat di dalam Marx muda. Terjadi kemerosotan tentu saja setelah Marx semjadi matang. Dia condong tidak filosofis lagi, melainkan menjadi sangat ilmiah dan positivistis. Nah ia ingin menjelaskan proses hubungan antar manusia itu, sebagai proses-proses yang bisa dirumuskan menurut hukumhukum alam. Maka dari itu, mekanisme-mekanisme sosial yang bersifat struktural itu bekerja seperti pada misalnya biologi dan ilmu-ilmu alam lainnya bisa ditekan dan diprediksi. Katakanlah sebuah revolusi dapat diprediksi dengan ketepatan matematis. Kita dapat menganalisa tingkat kematangan kontradiksi pada basis ekonomi yang akan memuncak seperti air yang akan mendidih ada 100 derajat selsius dan kemudian akan menguap. Maka niscaya jika suhu itu dicapai akan mencapai pula titik orgastiknya. Nah ini seperti gerhana matahari yang bisa diramalkan oleh Tales misalnya. Persis terjadi sesuai dengan ramalan.

Dan itu menarik, Karl Marx yang semula humanis yang melihat manusia tidak sepenuhnya dapat dirumuskan, terakhir menjadi seorang ilmuan yang percaya akurasi dan objetivisme di dalam ilmunya. Dan akibatnya juga, ilmu yang disebut ilmu ekonomi politik dan marxisme ortodoks yang dianut oleh penganut-penganutnya itu tidak menghasilkan perubahan sosial karena pretensi hanya merumuskan hukum-hukum sosial. Padahal hukum sosial itu apa? Itu bukan hukum-hukum an sich yang ada di luar sana dan hanya tinggal ditemukan. Bukan, bukan seperti melainkan merupakan hasil rekonstruksi masyarakat. mungkin Marx menyadari itu pula bahwa itu merupakan hasil rekonstruksi masyarakat. Tetapi Marx melihat walaupun rekonstruksi individu di dalam suatu masyarakat tidak bisa lepas dari determinisme ekonomi misalnya.

Hal itu tampil misalnya di Bali. Dulu di Bali ketika turisme belum berkembang, ritus seperti barong, lalu keca itu kan murni ritual religius. Begitu pula sabung ayam yang diteliti oleh Clifford Geertz. Itu merupakan ritus murni juga sama seperti katarsis di dalam mekanisme pelepasan dari beban hidup manusia. Yang menurut Geertz kemudian ditafsirkan salah oleh pemerintahan orde lama karena dianggap judi. Yang sesat sebetulnya adalah polisi-polisi itu. Nah lalu terjadi perkembangan kapitalisme, turisme berkembang dan terjadi komersialisasi. Individu menjadi tidak berdaya dalam situasi seperti itu. Tidak ada kekuatan individu di dalamnya. Hendak protes bagaimana, itu hidup(eksis) kok! Lalu akhirnya agama Bali perlahan-lahan juga ditransformasikan menjadi sesuatu yang bersifat kapitalistis. Memang orang Bali masih patuh pada agamanya tetapi perlu dicek apakah di Kuta, Legian masih ada orang Bali yang cukup murni di dalam menghayati agamanya ketika mengadakan tari keca misalnya. Apakah performance murni ataukah yang sudah hilang nilai sakralitasnya. Nah itu bisa menjadi tema riset yang menarik melihat efek kapitalisasi pada agama.

Dan dalam konteks seperti itu, Marx sebenarnya telah memberikan sumbangan yang menarik, deterministis memang tertalu keras seperti hukum baja, seolah-olah yang sosial itu menentukan yang individual. Nah saudara-saudara kalau melihat konstelasi semacam ini lalu orang didorong oleh hukum Marx seperti Das Kapital, untuk menunggu revolusi. Tentu saja membuat tidak sadar orang-orang kritis. Yaitu di kalangan murid-murid Marx sendiri yang mengaguminya. Pengagum Marx itu ada dua, yang satu yang ortodoks yang justru memegang ajaran Marx yang deterministik tapi ada juga yang lebih moderat yang lebih kritis seperti di berbagai agama kan juga sering terjadi seperti itu. Seperti di katolik misalnya ada orang-orang seperti Opusdei misalnya di Roma, ultra-ortodoks, fundamentalistis, nah mereka itu memegang kitab suci itu tidak lebih. Tapi ada yang menafsirkan lebih supaya kehidupan beragama itu lebih enak dan cocok dengan situasi.

Orang-orang ini juga kadang-kadang mencari buku-buku yang dilarang oleh vatikan misalnya. Seperti Injil Yudas, Injil Thomas. Sehingga orang menjadi kaya dengan penafsiran. Nah di kalangan marxisme ada tendensi seperti itu. Buku yang menjadi tabu di kalangan marxisme yang semakin dominan yang dominasinya juga didorong oleh Marx sendiri untuk mempublikasikan Das Kapital dalam internasional kedua dan seterusnya. Yaitu buku dari manuskrip itu sendiri yang jarang disentuh sebetulnya. Ketika Marx masih muda, idealis dalam merumuskan pemikirannya.
Buku itu menjadi penemuan intelektual yang sangat berharga untuk kalangan marxisme kritis, maka muncul orang-orang seperti Gramschi, Lukacs dan akhirnya juga mazhab frakfurt ini, di sana Adorno dan Khorkheimer. Jadi intinya begini, orang-orang ini yang membaca manuskrip, apa yang mereka temukan disana. Yang mereka temukan disana adalah sebuah inspirasi yaitu bahwa apa yang disebut revolusi itu harus dibuat. Revolusi itu hasil dari suatu kehendak demikian juga apa yang disebut kesadaran kelas itu sangat penting, karena kalau tidak ada niscaya revolusi juga tidak terjadi. Justru orang-orang seperti Lukacs, Lukacs ini melihat permasalahan utama di dalam dunia perburuhan yang menjadi keprihatinan para penganut marxsisme adalah mengapa kaum buruh itu pasif, mereka tidak bertindak transformatif itu karena mereka mengalami reifikasi kesadaran.

Katakan reifikasi itu semacam alienasi. Jadi sebetulnya, dasarnya juga dari Marx tentang pertisisme komoditas. Jadi bagaimana produk-produk itu juga menjadi berhala. Nah demikian juga pada buruh, kesadaran mereka itu bisa dipesonakan oleh sesuatu.

Sedemikian rupa sehingga kesadaran itu tidak lagi kritis, tumpul. Nah hal ini tidak jauh berbeda dari Gramschi yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang beroperasi dalam masyarakat. Yaitu suatu struktur kognitif tertentu yang membuat individu-individu di dalamnya merasa nyaman dengan struktur kognitif itu, struktur yang plausibel yang kita memang hidup dalam universum seperti itu. misalnnya ambil contoh seni, pementasan drama, kemudian juga hukum lalu juga media masa, cara berbahasa, semuanya. Semua ini kan memuat dimensi-dimensi kognitif. Nah dimensi-dimensi kognitif ini dianggap kebenaran oleh individu-individu. Itu sudah pasti benar, plausibel, di situ kita hidup dan di situ kita berenang. Tapi menurut Gramschi, tanpa disadari oleh individu-individu, bahkan mereka membelanya. Itu sebetulnya hasil reproduksi kognitif dari borjuasi itu sendiri yaitu kelas yang dominan dalam kelas suatu masyarakat. Sedimikian rupa sehingga kedudukan mereka justru didukung oleh orang-orang itu. Bukan hanya didukung, bahkan pola hidup mereka itu dikehendaki oleh yang lain. Maka tidak ada revolusi karenanya.

Hegemoni reifikasi lalu kemudian teori kritis masuk, sebetulnya hal yang tidak jauh berbeda. Orang-orang ini sebetulnya membalikkan epiatemologi marxis yang mengatakan bahwa basis menentukan suprastruktur. Marxisme kritis termasuk di dalamnya teori keritis itu memperlihatkan bahwa determinisme seperti jelas tidak memadai untuk mesyarakat. Yang terjadi pada masyarakat adalah korelasi antara basis dan suprastruktur, bahkan kadangkala peranan suprastruktur juga amat besar dalam memberi format pada basis, basis ekonomi.

Nah Adorno, Khorkheimer, Marcuse adalah tokoh-tokohnya. Masing-masing memiliki minat yang berbeda-beda tapi semua dilihat dalam satu kesatuan minat. Apakah itu, tidak lain dari pada ingin membangun sebuah teori dengan maksud praktis. Lantas apa yang dimaksud dengan praksis. Selama ini, bahkan di dalam marxisme sendiri seperti yang ada di dalam das Kapital, teori itu mau menjadi demi teori itu sendiri. Jadi teori untuk teori. Atau praksis tanpa teori, tetapi diam-diam ada ideologi di dalamnya. Itu tidak dikehendaki.

Kalau mau mengubah masyarakat, kita harus menemukan sebuah konstruksi teoritis tertentu. Sungguh-sungguh ilmiah dalam arti mereka bukan ilmiah dalam arti posotivisme. Sedemikian rupa sehingga kalau seseorang memandang teori tersebut dengan analisisanalisisnya sehingga mencapai suatu insight kepada masyarakat. Nah inilah proyek mereka (teori kritis).

Proyek itu tidak selalu berhasil, misalnya apa yang dilakukan oleh Frans Neuman, dia memang terkenal di Indonesia ini. Bukunya De Hemot yang merupakan counter terhadap Leviathan. Dalam bukunya itu ia melukiskan bagaimana Nazi itu menurutnya bukanlah negara melainkan penindasan satu kelompok terhadap kelompok lain. Ia lukiskan semuanya dengan penuh analisa dan sangat ilmiah sampai pada kesimpulan yang cukup koheren. Kalau orang membaca itu semua, orang bisa tahu bahwa penulisnya bukan bersenang-senang dengan teorinya itu melainkan mempunyai sebuah keprihatinan yang besar dengan menantang sebuah rezim. Maka buku setebal ini De Hemot merupakan kritik terhadap Nazi yang hingga saat ini menjadi bahan diskusi untuk fasisme. Apa sebetulnya fasisme. Wacana ini disumbangkan oleh buku semacam itu. dalam hal ini Hanna Arendt banyak dipengaruhi juga oleh Frans Neuman. Tesis-tesis Hanna Arendt banyak bertumpu pada Frans Neuman. Setelah membaca Neuman ia membaca Heidegger yang juga kekasihnya. Walaupun bangunan teorinya agak lain tetapi sikap keritisnya tetap sama.

Atau buku yang dihasilkan oleh mazhab Frankfurt yang sangat teoritis tetapi sebetulnya juga sangat praksis. Dialektika der Aufklarung, suatu buku klasik yang cukup monumental di abad 20 ini. Ditulis oleh dua orang, Adorno dan Khorkheimer, hanya esai-esai sebenarnya. Ada macam-macam teks di sana. Dan ditampilkan kurang lebih dengan gaya sastra, ada cerita, narasi kemudian juga ada analisa. Orang juga perlu membaca mitos misalnya mitos Odisei untuk mengerti sedikit apa yang dibicarakan disana. Mitos itu menceritakan tentang Odisei dari Ulises yang pulang dari perang di Troya ke kampung halamannya Itaka. Dalam perjalanannya ia digoda oleh bermacam-macam mahluk, misalnya Sirena, Siklop. Terutama Sirena mahluk cantik berupa ikan yang suaranya merdu sekali. Kemudian Odesei ini minta diikat supaya tidak menoleh karena bila menoleh ia akan menjadi batu. Tetapi apakah yang dimaksud dari cerita ini, ini adalah cerita tentang subjektifitas modern. Jadi untuk mempraktekkan ilmu pengetahuan itu harus objektif, tidak ada perasaan sedikitpun. Dalam cerita tadi ada Sirena yang suaranya mendayu-dayu, maka ia tutup telinganya dengan lilin panas dan diikat. Dan praktek ilmu pengetahuan modern berasal dari situ.

Kalau anda ingin menjadi dokter yang mau membedah dan masih berpikir bahwa manusia yang dibedah adalah juga manusia seperti saya, maka ilmu dengan begitu tidak dapat berkembang. Semuanya dilihat sebagai alam objektif mekanisme. Dengan begitu ilmu pengetahuan berkembang. Bahkan dalam meneliti seksualitas, gairah seks jangan muncul. Karena bila muncul sangat berbahaya sekali. Itu terjadi ketika kemampuan orgasme diukur. Dengan menggunakan kabel-kabel dan ada monitornya. Diukur ketinggiannya, semakin tinggi temperaturnya maka denyut jantung pun semakin meninggi. Mereka melakukan seks secara sungguh-sungguh tapi cukup dingin. Prosesnya biasa, tapi diharapkan sungguh-sungguh agar nanti orgasme dapat dihasilkan. Nah ini dilakukan secara dingin, coba bila ada pemikiran bahwa ini porno, ini dehumanisasi saya tidak tega melakukannya. Maka dari sini dapat disimpulkan bahwa pada saat orgasme detak jantung sekian kali banyaknya. Suhu badan meningkat sekian, dan inisemua dijelaskan secara detail. Dan itu dilakukan tanpa rasa. Nah itu seperti Odises yang menahan diri dari subyektivitasnya. Tetapi, yang merupakan inti dari dialektika pencerahan, menahan diri semacam itu dia percaya pada mitos tertentu. Yaitu mitos tentang objektivitas, bahwa yang objektif itu yang benar. Sebagaimana dengan mitos yang lain tentu ada ritusnya. Misalnya dapat kita lihat pada tulisan Khorkehimer dan Adorno, ketika ada orang yang berpikir matematis dan ada orang yang berpikir ritualistis. Yaitu mengulangi itu-itu terus, misalnya satu tambah satu hasilnya tidak bisa lain. Mengulangi lagi hanya repetisi, kemudian juga yang lain, misalnya partisipasi. Ini semua merupakan bagian dari mitos.

Bahkan bila kita bicara tentang aufklarung, maka itupun merupakan metafora mitologis.

Dulu ada mitos tentang dua kekuatan, kekuatan terang dan kekuatan gelap. Nah sekarang yang menang adalah kekuatan gelap misalnya. Dan di akhir zaman akan dimenangkan oleh kekuatan terang. Sebetulnya aufklarung juga bergerak dalam skala mitologis semacam itu. Nah sekarang tibalah aufklarung, ketika zaman terang mengalami kemenangan. Ketika banyak penemuan dan aufklarung masuk di dalamnya. Adorno dan Khorkheimer hidup dalam zaman kegelapan. Perang I dan II membuktikan bahwa aufklarung pencerahan tidak menghasilkan sesuatu yang positif. Malah akhirnya objektivisme itu akhirnya dipakai oleh Nazi untuk menguasai. Apa yang disebut nazisme itu tanpa ilmu dan positivisme sulit dibayangkan keberadaannya. Karena mereka berkuasa lewat ilmu. Kebudayaan barat itu baru bisa percaya kalau sudah diyakinkan oleh ilmu. Maka segalanya harus dilakukan dengan tehnik. Membunuh manusia (seperti yang dilakukan oleh Nazi) harus dikerjakan dengan cara tehnik dan industrial serta efisien. Penembakkan secara konvensional itu masih menimbulkan suara. Dan teriakannya masih menimbulkan perasaan tak tega. Itu sama seperti Odises yang merasa terganggu dengan suara. Maka karena itu untuk mengantisispasi segalanya kemudian ditemukanlah siklon B, suatu gas yang cukup efisien sekali. Orang-orang dimasukan ke dalam suatu ruangan, gas dimasukan, tidak ada teriakan, beribu-ribu orang sekaligus bisa mati. Lalu tidak ada orang yang tahu. Sehingga identitas orang Yahudi betul-betul hilang. Mayat pada umumnya memiliki jenazah bahkan mayat biasa yang dikremasi masih dikelilingi oleh keluarga kemudian diletakan dan lalu dilarung. Identitas hilang namun ingatan masih ada. Namun pada orang-orang Yahudi semuanya hilang karena sejak awal mereka hanya diberi nomor bukan nama. Dan semuanya digunduli sehingga tidak ada perbedaan satu sama lain. Tidak ada individualitas. Dibuang, dibakar manjadi abu, hilang, hilang kenangan. Semuanya betul-betul hilang. Dan itu tehnik.

Orang-orang seperti Marcuse itu bergerak lebih jauh lagi. Bukan hanya nazi yang totaliter, di sana juga ada Amerika dengan budaya massanya. Ini juga salah satu bentuk totaliarisme yang patut diwaspadai. Caranya lebih halus karena ada demokrasi, ada kebebasan berbicara, toleransi, tapi toleransi yang represif. Karena dengan memberikan toleransi kekuasaan mereka semakin kuat. Nah lalu mengkritik tentang tehnik, cara berpikir yang monodimensi. Ia juga cukup terkenal dengan freudianismenya, dengan memperlihatkan libido pada masyarakat. Di mana terjadi erotisasi di dalam masyarakat.

Nah buku-buku semacam ini bukan sekedar ilmu untuk menjelaskan tentang masyarakat, melainkan di dalamnya ada semacam anjuran untuk mengubah masyarakat. Tapi anjurananjuran seperti ini masih kedengaran moralistis. Hendaknya begini dan begitu kalau mau.

Untuk masyarakat barat dan masyarakat ilmiah sulit menerima kalau anjuran itu bersifat moralistis. Hal seperti itu bukan bagian dari tugas seorang ilmuan melainkan seorang ulama, pastor, kyai dan seterusnya. Namun bagi seorang ilmuan apalagi ilmuan sosial yang harus dimiliki adalah ketajaman analisis.

Dan disitulah muncul Jurgen Habermas yang bertolak dari kemacetan teori kritis itu sendiri dengan dialektika pencerahan bahwa ternyata pencerahan itu adalah mitos. Menurut Habermas tidak seperti itu. pencerahan harus jalan terus. Masalahnya pada teori kritis yang lama, mereka juga terobsesi dengan paradigma positivistis. Yaitu bahwa rasio itu adalah penaklukan atas alam maka sebetulnya apa yang disebut ktitik oleh mazhab Frankfurt yang lama itu bahwa kritik itu sebetulnya adalah penaklukan atas yang dikritik tentu saja. Seperti di manakah tempat kritikus sosial dalam suatu masyarakat. kalau menurut Adorno dan Khorkheimer, dia adalah pemegang kebenaran karena dia adalah yang paling tahu. Inilah jalan yang benar. Kalau menurut Adorno, teruslah berpikir dialektis, negasi secara terbuka terus menerus. Dan itu namanya kritis. Apakah semua orang mau berpikir seperti itu belum tentu.

Orang-orang ini berpikir bahwa seorang kritikus adalah seorang pemegang kebenaran. Itukan mewarisi kesalahan orang yang dikritik juga yakni melakukan dominasi. Nah Habermas menunjukkan bahwa bukan hanya persoalan moralitas melainkan juga kedudukan kritikus itu. Haruslah ditemukan sebuah ilmu kritis menurut dia, kritikusnya tidak lebih penting dari pada yang dikritik. Dia berada dalam kedudukan yang sama dengan orang-orang yang dikritik. Jadi bagaimana mewujudkan kesamaan. Jadi semacan demokrasi. Caranya adalah dengan membedakan praksis menjadi dua. Yakni komunikasi dan kerja. Nah kalau praksis kerja itu disebut dominasi. Seorang pencangkul itukan mendominasi atas tanah. Kita tidak bisa mencangkul manusia yang lain. Dan komunikasi maksudnya adalah adanya saling pemahaman timbal-balik. Dalam komunikasi harus ada kesejajaran di mana kritikus itu hanya memberikan sumbangan pada momen komunikasi tertentu, agar komunikasi itu bisa berjalan secara terus-menerus. Sumbangan itu tentu bisa diterima juga bisa ditolak. Tentu saja pada permulaannya Habermas sempat terperosok di dalam gaya-gaya seperti pendahulunya. Kenapa proyek Knowledge and Human Interest tidak diteruskan, ia hanya diam. Dan itu menarik karena bila seorang teoritikus membungkam itu bisa ditafsirkan dengan beberapa kemungkinan. Misalnya bungkam karena merasa sudah benar, kemungkinan yang kedua karena terdapat kekeliruan di dalamnya. Dan saya melihat kebungkamannya dikarenakan ada yang keliru di dalamnya.

Kekeliruannya disini ketika Ia memakai paradigma psikoanalisis untuk teori kritis. Dan itu memang sudah dilakukan oleh mazhab Frankfurt sebelumnya. Apa itu psikoanalisis, orang sakit jiwa datang kepada seorang terapeutis dan menyatakan bahwa saya punya masalah semacam ini dan saya ingin sembuh. Nah keinginan untuk sembuh adalah kehendak emansipatoris dari penindasan, penindasan internal. Lalu terapeut melakukan dialogdialog sokratis. Yaitu pencerahan. Sekarang persoalannya adalah model semacam itu.

Apakah hak seperti seorang terapeut itu dimiliki oleh seseorang di dalam masyarakat.

Kalau dalam konteks klinis itu dimungkinkan, tapi bagaimana bila seorang kritikus sosial disamakan dengan seorang terapeut. Dan ini problematis karena konsekuansinya adalah bahwa kita semua adalah orang gila hanya terapeut yang sehat.

Ini adalah prioritas bagi seorang terapeut atau kritikus-kritikus. Maka menurut Habermas ini tidaklah konsekuen. Dalam buku pertamanya, Habermas masih cukup demokratis namun dalam buku keduanya kok dia masuk kesini. Ia terpukau oleh para pendahulunya.

Nah setelah ini ia masuk dalam analisa bahasa, teori ekonomi dan juga hukum. Maka dari situ dia berada di jalan yang cukup simpatik. Disitu dia mengintegrasikan dari cara berpikir. Mungkin saja di dalam masyarakat ada yang disebut sakit. Tapi boleh ko berkomunikasi asal mau berkomunikasi. Kaum fundamentalis di dalam masyarakat dengan mengatakan bahwa inilah yang paling benar. Oh tapi tunggu dulu mari kita berkomunikasi.

Karena menghilangkan berkomunikasi sangat berbahaya bagi masyarakat. Nah lalu mereka berkomunikasi. Maka yang disebut ilmu kritis lama-kelamaan berkembang dari keinginan untuk membangun konstruksi teoritis dan konstruksi itu transformatif untuk berubah lama-kelamaan berubah menjadi teori tentang diskursus. Jadi merumuskan bagaimana tipe-tipe diskursus yang ada di dalam masyarakat dapat menentukan proses legitimasi institusi sosial masyarakat. Dan bagaimana dengan legitimasi semacam itu maka konstruksi total masyarakat dimungkinkan. Nah itu bermuara ke sana.

Dan kebetulan di tangan kita sudah ada contoh kasus-kasus yang saya buat. Pengantar teori kritis tadi mungkin ada gunanya untuk memberi tahu bahwa teori kritis itu sangat kompleks. Tetapi supaya kita tidak dipusingkan oleh hal itu, sekarang saya sodorkan sesuatu yang praksis. Ada tiga kasus di sini, kasus pertama sangat terkenal yakni kasus Pavlov dengan anjingnya yang dibuat lapar kemudian dimasukan di dalam kotak.

Dipancing dengan makanan maka keluar air liur dari mulutnya dan dimediasi dengan lonceng. Dan ini dilakukan beberapa kali sehingga satu waktu lonceng dibunyikan tanpa makanan dan air liur tetap keluar. Kasus yang kedua adalah tentang riset seorang psikolog untuk meneliti bagaimana mekanisme pasar. Perilaku konsumen terhadap buku anak-anak. Bagaimana reaksi mereka, buku manakah yang lebih menarik, yang ada gambarnya atau yang tidak. Tentu saja yang ada gambarnya. Lalu divariasikan dengan bonus-bonus dan yang tidak, tentu saja mereka cenderung dengan yang ada gambar dan bonusnya. Nah menanjak lagi dengan variasi diadakan forum bersama mereka dan yang tidak maka mereka akan memilih yang plus forum. Oleh karena itu kesimpulan dari riset ini adalah bahwa buatlah model yang terakhir itu. Perhatikan baik-baik dalam dua kasus ini ada kesamaannya atau tidak? Nah pada kasus ini sebetulnya bertolak dari sebuah ide yakni mekanisme. Bahwa perilaku dari organisme dapat diprediksi. Lalu juga bisa ditingkatkan kira-kira reaksinya seperti apa. Tentu pada mediasi seperti bel yang terjadi pada anjing. Bel pada anjing, pada manusia dapat dimediasi dengan makna, gambar, interaksi dengan teman-teman yang lain lalu manisnya acara dalam forum itu. Jadi sebetulnya analisa pasar itu tidak mungkin bila manusia itu unpredictable. Manusia memiliki lapisan-lapisan yang dapat diduga, yaitu nalurinya, hasrat, kebutuhan. Ini nyaris mekanis dan oleh karena itu juga sukses. Karena kapitalisme dengan ilmu pengetahuan borjuasi itu adalah sebagai ide alam. Yakni menaklukan alam. Nah riset yang kedua ini adalah salah satu contoh bagaimana penaklukan alam internal itu dalam model kecil berhasil dan terjadi. Dan inilah yang disebut ilmiah. Tanyalah kepada profesor-profesor di Indonesia atau ahli pengajar bila kita menulis disertasi. Mereka kalau menulis tanpa statistik tapa angka atau determinasi lalu tidak ada kesimpulan yang bersuat objektif, impersonal maka karya ini bukan dianggap penelitian ilmiah. Karena dalam penelitian ilmiah jangan sekali-kali mengatakan “saya berpendapat”, itu merupakan pelecehan akademis.

Anda bisa bayangkan bila suskes-sukses dari kasus yang saya berikan itu diaplikasi dalam semua bidang kehidupan. Bagaimana bila diterapkan dalam bidang konsumsi, sosial, agama, tentu sangat mengerikan sekali. Kalau anda perhatikan kasus yang ketiga menimbulkan alergi bagi para profesor-profesor positivistis. Di sebuah negara bagian India ada sebuah perkampungan kumuh yang berdampingan dengan real estate. Anak-anak dari perkampungan ini berpenyakit dan angka kematian di daerah ini cukup tinggi. Orang-orang dewasa bersikap pasif dengan keadaan dan hanya tinggal menerima nasib. Sementara orang-orang kaya yang ada disampingnya ingin berbuat sesuatu. Maka kemudian dibuatlah sebuah riset objektif. Riset pertama menyimpulkan bahwa ini adalah masalah fasilitas.

Maka kemudian diubah namun kemiskinan tetap tidak berubah. Meskipun orang diberi dana secara tetap. Nah sekarang muncul orang LSM. Membuat metode wawancara, agak terlibat dengan keprihatinan mereka sedikit, ada kepentingan juga untuk mendongkel partai politik tertentu. Tapi demi membebaskan situasi yang buruk dari masyarakat di sana.

Maka disimpulkan bahwa masalah kemiskinan di sana adalah masalah weltanschauung, cara berpikir masyarakat yang ada di sana. Bukan hanya soal fasilitas, oke mungkin soal fasilitas juga benar. Tapi sikap fatalistik, dan taraf pendidikan yang sangat rendah juga faktor-faktor asing yang menyebabkan kemiskinan di kampung itu dan partai-partai politik di sana juga senang dengan kondisi seperti itu. Karena dengan begitu mereka tetap memperoleh suara. Hasilnya dipublikasikan dan ternyata menimbulkan kontroversi. Kalau ada riset seperti itu ia masuk dalam kategori ilmiah atau tidak.

Kalau hal ini dilihat dari metodologi yang tradisional (positivistis) maka riset ini tidak ilmiah. Dan ini patut dicurigai. Karena ada kepentingan di dalamnya. Jelas, tetapi riset yang kedua ini tentu juga sangat mencurigai riset yang pertama. Dengan mengatakan bahwa yang obyektif adalah seperti itu sebetulnya dia sedang melestarikan status quo. Berarti ada kepentingannya juga walaupun dia mengatakan bahwa tidak ada kepentingan di dalamnya. Kehendak untuk menghilangkan kepentingan adalah sebuah kepentingan demikian kata Fichte. Fichte adalah filusuf idealis yang mempengaruhi juga Jurgen Habermas dan Hegel. Oleh karena itu sulit untuk mengatakan sebuah riset ilmiah tanpa kepentingan. Lalu apakah sebuah riset harus dengan kepentingan atau membiarkan diri diseret dengan kepentingan-kepentingan, tentu saja tidak. Nah disinilah teori kritis masuk. Anda bisa lihat teks saya. Teks ini berbicara bahwa kalau anda hendak mengenal epistemologi dari teori kritis, epistemologinya itu begini, epistemologi klasik tradisional, yang disebut tradisional adalah positivisme, itu adalah pengetahuan yang dipeoleh secara kontemplatif, memandang, memotret kenyataan maka teori kebenaran yang ada di dalamnya adalah teori kebenaran sebagai korespondensi bahkan juga sebagai koherensi.

Sedangkan teori kritis mempunyai epistemologi yang lain. Dia mengatakan kita tidak bisa mengetahui sesuatu kalau tidak menyadari kepentingan kita. Tidak mungkin kontemplasi tanpa kepentingan. Kontemplasi mempunyai kepentingan. Tatapi untuk mencapai “objetivitas” ia tidak mau mengatakan ini namun inilah yang disebut keilmiahan, nyatakanlah sejujurnya kepentingan itu bahkan capailah kepentingan itu lewat konstruksi teoritisnya. Nah kepentingan dalam riset sosial adalah kepentingan praksis untuk membebaskan masyarakat dari penindasan, ketidakadilan dan sebagainya. Sedangkan kepentingan dalam ilmu-ilmu alam, walaupun objektif ada kepentingannya yaitu menaklukan. Apa yang salah dilakukan oleh positivisme adalah (seperti behaviorisme) mencampur adukan bahkan mengganti kepentingan untuk saling memahami dengan kepentingan untuk menguasai. Jadi kepentingan untuk menguasai itu kan ada pada ilmu ilmu alam sekarang dipakai secara metodologis di dalam ilmu-ilmu sosial. Akibatnya apa, ya rekayasa sosial. Ini sebetulnya adalah wilayah untuk kepentingan praksis untuk saling pamahaman, kok diganti dengan kepentingan untuk saling menguasai seperti yang dilakukan oleh ilmu-ilmu alam. Jadi dengan menerapkan metode ilmu-ilmu alam dalam ilmu sosial suatu kepentingan untuk menguasai itu luar biasa dahsyat dan efektifnya secara sangat tersembunyi merasuk dalam bentuk keilmiahan tertentu. Itulah positivisme dan bahayanya. Mungkin kita akan memperdalam lagi tentang epistemologi teori kritis di dalam diskusi.

Moderator : saya persilahkan kepada teman-teman yang mau lebih memperdalam lagi tentang epistemologi teori kritis.

Pak Trisno : saya dari latarbelakang sosiologi, dalam meneliti dengan cara positivistik biasanya adalah yang kuantitatif. Walaupun dia tidak ingin menyebut dirinya kuantitatif namun dia harus mengeluarkan tabel dalam risetnya. Kalaupun tanpa tabel ia akan memberikan deskripsi dan itu juga merupakan metode positivistik. Nah cara itu sangat biasa sehingga saya belum pernah menemukan seorang akademisi melakukan penelitian dengan metode yang disebut tadi. Hal ini mungkin dikarenakan begitu kuatnya positivistik, kuatnya ukuran yang jelas, objektif sehingga tidak dapat diragukan lagi. Maka karena itu ketika kita hendak menulis sebuah konstrusi penelitian yang bukan positivistik maka karya saya akhirnya menjadi model-model cerpen sangat sulit diukur oleh seorang dosen apakah ini sebuah cerpen yang fiksi atau pikiran yang ilmiah objektif. Karena tidak ada ukuran itu.

Jika verstehen terhadap orang lain apakah verstehen saya benar atau salah terhadap orang lain. Nah sementara kalau survei itukan dapat diukur. Sehingga dengan demikian saya cenderung mengatakan bahwa teori kritis tidak mempunyai strik metode yang memiliki karakter objektif yang diakui oleh orang banyak. Sebutlah verstehen yang tadi dengan metode yang jelas. Kemudian ada sebuah buku yang sudah diterjemahkan judulnya “critic of the critic sociological classic” di dalamnya mengkritik atas orang yang mengkitik Marx, khususnya tentang kesadaran seperti yang disinggung.

Sementara yang kritik teori kritis terhadap basis dan suprastruktur justru semakin mengacaukan bukan malah memberikan solusi yang jelas.

Max: menurut saya untuk membumihanguskan postivistik itu adalah tugas yang sangat berat. Karena hidup tanpa ada kepastian maka akan menimbulkan kecemasan oleh karena itu apa lagi di dalam dunia bisnis, sebelum mereka memunculkan sasuatu produk, mereka biasanya melakukan sebuah riset. Dan itu tidak bisa dinafikan dan lantas apa yang bisa ditawarkan oleh teori kritis dari ketidakpastian. Saya sepakat bahwa data bukanlah segalanya, tapi kemudian apakah landasan bagi manusia untuk berpijak bagi manusia untuk bertindak lebih jauh jika bukan dari data.

Misalnya riset tentang perilaku minum Bir. Mungkin ketika seseorang ditanya mengapa anda minum bir tertentu maka dapat diberikan alasan rasionalnya, mungkin karena rasa dan lain sebagainya. Seperti juga halnya seorang perokok mengapa dia merokok merek tertentu. Pasti jawabannya adalah hal-hal yang fisik juga. Riset ini dilakukan dengan blind test misalnya. Ia diberikan tiga minuman bir yang merknya sudah dicopot, kemudian dilakukan perankingan manakah yang paling enak. Mereka bingung kemudian dilakukan test kedua kali ini diberikan merk. Mungkin bagi orang yang biasa minum vodka maka vodka adalah yang paling enak. Nah sini kita dapat katakan bahwa kapitalisme telah memanipulasi kesadaran. Sementara untuk menyelesaikan ini, apa yang dapat disumbangkan oleh teori kritis. Karena ketika seseorang sudah masuk dalam budaya massa maka ia akan kehilangan jati dirinya. Ketika manusia kehilangan jati dirinya maka munculah problem-problem kehidupan.

Pak Franki : izinkanlah saya untuk menjawab yang terakhir dahulu. Sebetulnya ada menjelaskan yang menjadi kritik-kritik Marcuse. Jadi manusia itu dalam masyarakat massa yang kapitalistik itu tidak kehilangan selera apa yang hakiki di dalam benda-benda. Melainkan dia dipikat oleh nama-nama. Dalam arti ini adalah merk padahal merk adalah konstruksi, konstruksi media dan seterusnya. Nah di situ jelas sebetulnya apa yang anda katakan persis seperti yang di perihatinkan oleh Marcuse. Dan kapitalisme hidup dari itu.

Nah sekarang permasalahannya bahwa kalimat anda yang pertama cukup menarik sebenarnya. Apa yang ditawarkan oleh teori kritis untuk bisnis. Bukankah teori kritis sebetulnya merugikan bisnis. Jadi malah tidak ada yang ditawarkan. Jawabannya ya dan tidak. Justru kalau teori kritis dibaca oleh orang pebisnis maka ia akan menemukan hal yang sebaliknya yang dilakukan oleh teori kritis.

Tapi dalam arti tertentu sebuah teori itu netral dalam arti bahwa ia dapat dipakai oleh setan atau malaikat. Teori kritis itu adalah suatu spektrum, kalau anda membacanya, tokohtokohnya juga banyak dan masing-masing tokoh memiliki perkembangannya sendiri.

Perkembangan terakhir ada pada Habermas. Sampai pada tahap pemikiran Habermas itu yang merupakan ahli waris teori kritis melihat para pendahulunya terlalu radikal dalam mengkritik kapitalisme. Dalam arti, ya bolehlah hal itu dilakukan dalam momen-momen tertentu. Tapi apakah masyarakat itu sebodoh yang dikatakan oleh Marcuse di mana cara berpikirnya satu dimensi. Lihat saja konsumen apakah betul seorang konsumen yang dipengaruhi oeh produk baru itu tidak bisa berpikir lain. Mereka juga akan membeli bila memang harganya cocok. Jadi ada pertimbangan. Bukan hanya naluriah belaka. Oleh karena itu Habermas membuat semacam peta, kompleks-kompleks rasionalisasi yang dapat dirasionalisasikan. Misalnya bidang-bidang alamiah objektif dan intersubjektif juga bidang subjektif. Mengobjektifkan diri juga bisa seperti juga mengobjektifkan interaksi sosial dan mengobjektifkan alam. Dari diagram seperti itu, manusia memiliki macam-macam lapisan. Ada lapisan yang memang bisa diteliti secara positivistis. Dan itu hak dari ilmu-ilmu sosial positivistis. Jadi Habermas yang menjelang tua sebetulnya tidak sangat anti positivistik. Bahkan dia juga mengadopsi teori sistim. Melainkan menempatkan teori postivistis dalam lokasi tertentu dalam masyarakat dan manusia. Yaitu digunakan hanya untuk meneliti bidang-bidang yang objektif dan naluriah pada manusia sampai pada batasbatas tertentu. Dalam konteks ini maka sebetulnya, bisnis dengan segala macam iklannya itu boleh-boleh saja. Tetapi wilayah itu harus memiliki batas-batas yang jelas. Bagaimana kemudian menjelaskan batas-batas ini, tak lain melalui hukum. Seuatu produk hukum yang menjadi bendungan agar supaya wilayah-wilayah yang instrumental ini tidak menjadi berlebihan sehingga tidak melakukan dehumanisasi manusia. Dan hukum ini haruslah hasil diskursus.

Lalu ada bidang-bidang lain yang tidak positivistis tentu saja. Lalu dalam arti itu ada sumbangan teori kritis untuk bisnis. Bisa memberikan semacam isi menyeluruh, terhadap pertama masyarakat. Dan kalau membaca teks mereka semua mungkin ada inspirasi untuk bisnis, itu yang kedua. Dan yang ketiga bahwa bisnis yang dilakukan adalah juga adalah bisnis yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Jadi ada batasnya. Batas itu tidak sukarela, ia ditetapkan oleh hukum. Sebab kalau sukarela terus maka tidak selesai-selesai lalu yang menang nanti ya kapitalis. Jadi yang hendak dituju oleh teori kritis bukan melenyapkan kekuasaan. Hal itu sulit dalam arti bahwa kekuasaan ada di mana-mana. Melainkan pembatasan kekuasaan. Dan menjinakkan kapitalisme bukan melenyapkan kapitalisme.

Kemudian tentang riset kuantitatif. Ya memang kalau kita lihat teori kritis awal banyak ciri eksperimentalnya. Kalau kita melihat Adorno dalam “Kritische und Tradisionel Teori” itu semacam kanon untuk menggempur positivisme. Dan cirinya juga pamfletis dan berupaya untuk merobohkan sesuatu. Tapi bagaimana secara konkrit dapat diejawantahkan dalam riset praktis. Dia tidak memberikan caranya, juga apa yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih muda dengan macam-macam teorinya yang dipraktekkan oleh mereka sendiri.

Banyak usaha-usaha yang bersifat eksperimental dalam hal ini. Tapi pengaruhnya memang besar. Dalam sosiologi yang ada di Amerika dan Australia misalnya itu juga dicoba dipraktekkan dengan perhitungan juga atau kuantifikasi. Kuantifikasi itu menjadi semacam basis kerasnya untuk meniliti “fakta” sosial. Teori kritis lalu beroperasi di dalam interpretasi dari fakta itu. Jadi yang sebetulnya yang tidak diterima oleh Khorkheimer dalam bukunya, itu bukannya kuantifikasi dan sebagainya. Masalahnya adalah orang terpikat dengan itu. Dan merasa bahwa itu adalah fakta. Nah teori kritis maju lebih jauh setelah membuat kuantifikasi statistik bahwa itu faktanya. Sekarang ia mencurigai fakta itu. Sebetulnya fakta ini bisa sampai kesini asal-usulnya bagaimana. Jadi ada proses pembentukan kesadaran diri dari fakta itu. Sehingga menjadi fakta. Sebagai contoh kita ambil sampel dari fakta itu adalah sukses KB di Lampung. 2000 memakai spiral dan 2000 memakai kondom, dan hanya 50 yang tidak memakai. Lalu disimpulkan dari fakta itu bahwa ini adalah sukses KB. Riset positivistis berhenti dengan melukiskan fakta itu karena ada sebuah kriteria untuk sukses misalnya.

Nah dimensi kekuasaan tidak disentuh atau secara implisit disembunyikan. Di dalam riset teori kritis mungkin saja mulai dengan itu dulu untuk mengenal secara lahiriah. Tapi dia harus melangkah lebih lanjut bagaimana bisa sampai kepada fakta itu, caranya bagaimana?

Misalnya dipaksa atau tidak. Karena harganya murah atau tidak dan lain sebagainya. Dan yang belum samapai pada kesimpulan yang sangat kritis kalau teori kritis sampai pada kesimpulan bahwa atau sampai pada usaha untuk menempatkan konteks sukses di lampung. Bahwa misalnya konteks yang ada di Lampung tidak bisa dilepaskan dari koteks kekuasaan, itu yang pertama. Kemudian yang kedua, teori kritis tidak puas dengan penjelasan yang besifat deskriptif misalnya tentang fakta sosial itu. Dia juga ingin menunjukkan proses kesadaran dari pemakai KB itu. Adakah kesadaran di dalamnya. Untuk riset positivistik, hal ini tidak terlalu penting, yang penting bagaimana kuantitasnya dan suksesnya dimana. Dan teori kritis mencoba subjektivitas juga. Ada kritik dalam arti freudian. Apakah ada semacam pendangan-pandangan hidup. Proses-proses pendidikan tertentu yang mempengaruhi atau ideologi. Atau yang mempengaruhi secara halus sehingga memakai KB ini plausible, lalu juga agak memaksa mereka sebagai sesuatu yang plausible. Dan itulah yang menyebabkan suksesnya. Nah ini harus ditunjukkan juga. Nah hasil akhirnya mungkin adalah sebuah anatomi tentang ketimpangan sosial dan ketimpangan struktural. Di mana sukses KB yang ada di Lampung itu, salah satu cermin sukses, dan bukan hanya itu ia juga merupakan sebuah cermin propaganda. Nah ini harus ada basis ilmiahnya juga. bukan hanya sekedar menuduh karena bila hanya sekedar menuduh maka keilmiahannya juga hilang. Lalu ia berusaha ilmiah tapi harus lebih dari sekedar positivisme. Jadi intinya begini, ia harus berusaha ilmiah, tapi harus lebih dari sekedar positivisme. Sebab dia juga tidak mau diejek bahwa ini hanya sekedar cerita.

Dia itukan saintis. Bahwa ilmu agak lain dari cerita. Ciri ilmu adalah kemampuan untuk mengantisipasi sesuatu. Positivisme tidak sepenuhnya keliru memang. Walaupun jangan kemudian secara objektif pasti terjadi, Saya hanya mengantisipasi.

Misalnya ada ilmu sosial Islam, maka dia juga diharapkan masuk dalam dimensi formal. Sehingga ia dapat menjadi ilmu. Ilmu kritis demikian juga bahwa saya tidak setuju bila hanya dianggap sebuah cerita. Karena pada tulisan seperti yang dilakukan oleh Khorkheimer juga menulis dengan sangat ilmiah. Marcuse dengan bangunan teori kritisnya. Mereka merefleksikan itu semua dengan cara yang cukup serius. Dialektika pencerahan betul-betul menjadi fashion pribadi mereka yang mau mendobrak peradaban barat.

Lalu kritik menjadi ketiadaan, kritik bisa menjadi tidak bermakna dalam beberapa konteks. Misalnya karena kurang tajam, dangkal. Dan kritik juga menjadi tidak bermakna bila ia berada di dalam sebuah rezim yang berlaga toleran yang memandang kritik hanya sebagai sublimasi saja. Nah bagaimana menghadapi hal semacam ini. Teori kritik mempunyai suatu kunci supaya kritik itu betul-betul menancap pada yang dikritik. Yaitu dengan membuka kedok yang dikritik.

Lalu soal basis dan suprastruktur ini memang masalah yang cukup sulit. Orang-orang strukturalis masih percaya ada determinasi kesadaran,sementara yang posstruturalis memperlihatkan itu pada dimensi bahasa. Tapi orang-orang dari mazhab Franfurt itu jelas sangat menekankan prisip kesadaran. Bahwa kesadaran itu bisa mengubah masyarakat.

Agak herois memang. Tetapi kalau dipikir baik-baik bahwa apa sih yang ada dalam sejarah, bukankah itu hanya orang-orang yang berpikir. Kemudian hasil pikirannya mampu mengubah sesuatu. Seperti juga Marx mengatakan bahwa para filsusuf hanya manafsirkan sementara yang penting menurutnya adalah bagaimana mengubahnya. Lalu Heidegger mengatakan bahwa bagaimana mengubahnya kalau kita tidak mengetahui lebih dahulu sudut pandang dunia kita. Mau mengubah ke arah mana. Jadi aktivisme yang ada pada Marx. Dan jadi sebetulnya kesadaran itu sangat penting dalam sejarah umat manusia.

Hal ini dapat kita lihat pada orang seperti Hegel misalnya, yang kesadarannya begitu tinggi. Namun ia dengan kesadarannya itu juga merupakan anak zamannya. Jadi tak bisa disangkal bahwa ide-ide besar lahir dari kesadaran.

Moderator: Kita masih punya waktu sedikit lagi, mungkin masih ada yang bertanya saya persilahkan.

Hudri : saya ingin menanyakan tentang yang diutarakan oleh Habermas dalam komunikasinya. Dalam penangkapan saya komunikasi seperti itu mengandaikan adanya kesetaraan. Sementara dalam kenyataan, suatu komunikasi tidak lepas dari adanya kepentingan atau penguasaan satu pihak terhadap yang lain. Sehingga bentuk ideal adanya kesetaraan ini amat sulit terwujud karena sejak awal kemampuan beberapa pihak yang berkomunikasi mungkin sudah tidak seimbang. Itu yang pertama. Dan yang kedua tentang relevansi mazhab Frankfurt dalam sosiologi. Seperti yang sudah dikatakan tadi bahwa mazhab frankfurt sangat mengkritik positivisme dengan berbagai argumentasinya. Namun dengan kritiknya ini bukankah telah menjadi sumbangan yang sangat berharga. Dan dengan kritik maka sosiologi dapat dibaca dengan lebih reflektif.

Pak Agus Supriyanto: secara metodologis teori kritis dapat menghasilkan sebuah relitas seperti juga positivisme telah menghasilkan realitas atau fakta. Bahkan menurut saya, realitas yang dihasilkan oleh teori kritis ini lebih tinggi atau lebih mendasar tingkatannya dibandingkan realitas yang dihasilkan oleh positivisme. Pertanyaan saya apakah teori kritis bisa dipahami seperti itu. Kemudian pertanyaan saya adalah apakah teori kritis ini merupakan moderasi dari marxisme. Karena seperti yang diungkapkan oleh banyak kalangan, bahwa teori kritis ini tidak menganjurkan adanya revolusi atau aksi.

Agus Syafi’i: menurut pemahaman saya agak berbeda dari yang disimpulkan oleh pak Agus tadi tentang revolusi. Karena menurut yang saya tangkap justru seorang intelektual itu dituntut untuk melakukan revolusi. Maka kalau dilihat dari sisi ini, mazhab frankfurt terlihat lebih idealis, cuma menurut saya yang agak kurang adalah bagaimana kemudian mengkomparasikan mazhab Frankfurt ini dengan yang berkembang di Inggris, Prancis dan Amerika. Seperti di Prancis dengan fenomena Postmodern lewat Foucault. Kemudian yang berkembang di Amerika, yang saya ketahui itu merupakan kelanjutan dari filsafat idealis yang ada di Jerman. Dan bagaimana posisi seorang intelektual yang ikut serta dalam proses rekayasa sosial.

Pak Franki: tentang kesetaraan, kalau anda membaca discourse ethic dari Habermas itu formal tidak dalam arti birokratis. Jadi hanya formal di mana yang dilihat adalah strukturnya saja. Kemudian pemahaman tentang equality itu juga formal bukan melulu pada hal-hal yang material. Tapi tentu saja kesamaan ini juga tidak lepas dari hal-hal yang material,seperti membaca koran, buku dan lain sebagainya.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: