Pengharapan Tahun Baru

serambi-jumat11

Koran Merapi SERAMBI JUMAT 19 Desember 2008

“Indonesia kaya sumber daya alam, tetapi kita belum mampu mengubah nasib. Kreativitas teknologi juga belum optimal untuk mendobrak ketertinggalan. Ambil kisah penenggelaman kapal-kapal nelayan kita oleh patroli negara asing atau tidak berdayanya petani saat panen. Untuk sejahtera, kita butuh fungsi negara yang melindungi warga. Kita ternyata butuh pertahahan dan keamanan dari negara secara layak.”


Kami menelaah pernyataan Pakde Adib Susila, takmir sekaligus pengasuh kajian rutin, di serambi masjid. Mas Brahim sudah menyalin laporan IFPRI (International Food Policy Research Institute) 2007. IFPRI melaporkan sulitnya perjuangan 600 juta warga Asia dari belenggu kemiskinan, karena pemerintahan makin menjauh dan makin tidak bermurah hati kepada petani. Modernisasi telah menyibukkan sekaligus tetap memiskinkan warga.

Mas Brahim juga mengutip pernyataan Kalliopi K Koufa, Pelapor Khusus PBB, di mana negara wajib mengatur dan mengawasi kegiatan tertentu dari aktor nonnegara guna menghindari, mencegah, dan melindungi warga dari pelanggaran HAM. Kegagalan negara ternyata dianggap tindak pembiaran).

“Menjadi jelas ketika ada upaya untuk membedakan wilayah perang (daarul harb) dengan Islam (daarussalam),” kata Pak Edi Safitri, aktivis al-Kautsar. ”Paparan data tadi membenarkan betapa berat mengelola negara yang menyejahterakan. Akibatnya adalah tumbuh kelompok masyarakat yang tidak sabar dan mengumumkan perang. Lha tentara nyatanya tidak berfungsi.”

“Saya sepakat,” lanjut Mas Agus Utantoro. “Apalagi kita dibentuk sejarah penjajahan sejak VOC, Republik Bataav Belanda-Perancis, India Timur-nya Kerajaan Inggris, Hindia Belanda-nya Nederland, dan Tentara Angkatan Darat XVI Kekaisaran Jepang.”

Kami saling pandang dan menunggu. Suasana serambi masjid hening.

“Penjajah mampu bertahan lama dengan tentara dan dukungan kekuatan pertahahan lainnya. Ada yang hilang karena fungsi ini belum tergantikan.” Mas Agus Utantoro melanjutkan, “Kita marah ketika nelayan Kupang yang mencari rejeki di laut sendiri kok diusir dan kapalnya dibakar kekuatan asing. Kita tertegun kok petani gurem semakin banyak dalam laporan BPS. Kita bengong kok banyak pasar terbakar. Ini masalah kebijakan negara dan keterlibatan warga.”

Pak Yusdani mengajak kami untuk bersama mengkaji pesan-pesan dari surat Baqarah ayat 11-12. “Apabila dikatakan kepada mereka jangan membuat bencana di atas bumi, mereka menjawab sesungguhnya kami berbuat baik. Tidaklah demikian, sesungguhnya mereka itu merusak, tetapi mereka tidak sadar akan hal itu.

“Kita berkonsultasi kepada al-Quran untuk menyikapi sejarah penjajahan,” lanjut Paklik Sriyono. Beliau mengajak kami untuk bersama membaca surat Yusuf ayat 3, “Kuceritakan kepadamu (hai Muhammad) kisah-kisah yang terbaik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya sebelumnya (engkau mendapatkan wahyu itu) engkau belum mengetahuinya.”

“75 % sumber minyak bumi dunia berada di negara yang berpenduduk mayoritas umat Islam. Tapi nasib umat sendiri amat memprihatinkan. Ini masalah distribusi,” kata Kang Heri Winarto. Bos Zenith Motor membaca catatan dari hp-nya. “Tidak adanya transparansi dan sistem pemerintahan yang tidak demokratis menjadikan hasil minyak bumi hanya dinikmati para elit.”

Kami menyimak betapa kemiskinan, keterbelakangan, juga ketidakadilan yang mendera umat hanya menjadi catatan lain selama perang dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet, 1945-1991. Kami terlibat ketika kemerataan kesejahteraan dan pendidikan umat hanya menjadi data. Senyampang dengan itu, semakin sering kami membaca penjarahan hasil laut oleh orang asing. Bukankah pemicu perang Kabeljau, 1973, adalah ketika Eslandia menembaki kapal-kapal nelayan Inggeris yang tidak hirau dengan batas laut? Memang tidak ada yang gratis di permukaan bumi ini.
Sampai akhirnya, Pakde Adib Susila mengingatkan bahwa pengurus takmir masjid sudah menyiapkan agenda pengharapan untuk menyambut tahun baru 1430 H. Wallahu a’lamu bishshawab.

Imam Samroni, staf Yayasan NUN-XXV, Yogyakarta

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: