Bur Rasuanto Raih Doktor Ilmu Filsafat

Jakarta, Kompas, Sabtu, 10 April 1999

http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/9904/10/dikbud/bur09.htm

Keadilan sosial bukanlah suatu keadaan mahasempurna, final, selesai. Masyarakat berkeadilan sosial seyogianya tidak dipahami sebagai gambaran masyarakat di surga yang tanpa masalah, tanpa tak kesamaan, tanpa konflik kepentingan dan karena itu tanpa politik. Masyarakat berkeadilan adalah masyarakat manusia biasa dengan segala masalahnya, kecuali bahwa mereka masyarakat berdaulat tidak terbelenggu dalam sekapan oppresif di bawah kekuasaan represif, dan karenanya memiliki kaki langit.

Demikian dikemukakan budayawan Bur Rasuanto (62) dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor ilmu filsafat dari Program Pascasarjana Universitas Indonesia di Depok-Jabar, Jumat (9/4). Bur Rasuanto dihadapan para penguji mempertahankan disertasi berjudul Keadilan Sosial, Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas: Suatu Studi Filsafat Politik, dengan predikat sangat memuaskan.

Lebih lanjut tentang keadilan sosial, menurut mantan Direktur Taman Ismail Marzuki tersebut, seperti kehidupan, keadilan berkembang. Bagaikan kaki langit keadilan sosial dapat luas tanpa batas. Thin theory adalah kaki langit minimum masyarakat berkeadilan, tetapi di balik kaki langit ada kaki langit. “Memperluas kaki langit bukan dengan mengejarnya, melainkan dengan terus mempertinggi posisi kemanusiaan kita,” tutur Bur.

Keadilan sosial dipilih menjadi tema kajian setelah Bur Rasuanto merasakan kegelisahan lama yang diaktualkan peristiwa historis, runtuhnya salah satu negara adi kuasa dunia, Rusia. Sukar dipercaya negara berlandaskan idiologi tunggal marxisme-leninisme yang diklaim pendukungnya sebagai idiologi universal, dengan organisasinya yang solid dan dikendalikan oleh kekuasaan pusat yang amat kuat dan canggih, secara dramatis mengalami disintegrasi, lenyap dari peta, tercerai berai menjadi sekitar selusin negara baru berdasar etno-nasionalisme.

Menurut Bur Rasianto, bagi rezim otoriter kejadian itu ditunjuk sebagai bukti betapa berbahayanya gagasan perubahan demokrasi bagi keselamatan bangsa, seperti gerakan reformasi glasnost dan prestroika Gorbachev dan dijadikan alasan untuk bertindak makin represif terhadap rakyatnya.

Sebaliknya, bagi tokoh politik Barat dan pemikir liberal, kejadian itu ditanggapi sebagai kemenangan Barat dalam perang dingin.

Dua pemikir
Bur kemudian melanjutkan, pertanyaan radikal yang relevan adalah apa yang dapat mengikat suatu bangsa pluralistik modern agar tetap bersatu, stabil dan langgeng? Pertanyaan ini mempertemukan kita dengan teori keadilan John Rawls dan Jurgen Habermas yang dikaji dalam disertasinya tersebut.

Kesimpulan promovendus atas kajian dua teori deontologi Rawls dan Habermas antara lain menyatakan, teori keadilan kedua pemikir tersebut menekankan, penataan bangsa pluralistik modern agar bersatu, stabil dan langgeng, tidak boleh didasarkan atas suatu pandangan hidup atau doktrin tertentu, melainkan harus didasarkan atas prinsip yang mendukung dan mengekspresikan kepentingan bersama. Prinsip itu adalah keadilan sosial.

Masalah pokok keadilan sosial adalah memposisikan dua prinsip dasar, yakni kemerdekaan dan kesamaan, yang menggambarkan perbedaan antara paham liberalisme dan sosialisme, individualisme dan kolektivisme yang pernah identik mewakili titik api konflik ideologi perang dingin.

Konsepsi keadilan deontologis, lanjut Bur Rasuanto, merupakan konsepsi politik yang netral, tidak diturunkan dari suatu pengandaian metafisik atau doktrin komprehensif tertentu, melainkan merupakan konsensus rasional yang dicapai melalui prosedur tertentu. Pada Rawls melalui prosedur kontrak berdasar fairness yang melahirkan dua prinsip keadilan substanstif, sedangkan pada Habermas melalui diskursus praktis intersubyektif sebagai prosedur pengambil putusan untuk menentukan apa yang disebut adil.

Lagipula keadilan sosial deontologis tidak mengklaim hendak menghapuskan tak kesamaan, melainkan hendak memastikan terjaminnya kesamaan kesempatan. Sehingga kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh pilihannya. “Keadilan sosial mentoleransi ketidaksamaan apabila hal itu menguntungkan semua, khususnya golongan paling tertinggal,” katanya. (tri)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: