Dunia Kehidupan dan Sistem: Tugas Teori Kritis Masyarakat (Juergen Habermas)

jh6

Oleh: Maqbul Halim
NPM : L2G04026

BKU Ilmu Komunikasi Program Master (S2)
Pascasarjana Universitas Padjadjaran
Bandung 2005

http://www.geocities.com/maqbulhalim/Course/teorisosial2.html
Tugas Ujian Akhir Semester (UAS)
Mata Kuliah: Teori Ilmu-ilmu Sosial


Bab I. Pendahuluan

Latar Belakang
Awalnya, teori-teori masyarakat muncul akibat penelitian-penelitian sosial tentang masyarakat, terutama masyarakat feodal sebelum modernisme atau kebangkitan Eropa. Modernisme ditandai oleh rangkaian momentum: revolusi industri Inggris, revolusi Perancis atau Revolusi Bolsevhik, yang telah mengubah wajah mayarakat Eropa ke rasionalisasi sektor-sektor kehidupan sosial: tampak menonjol secara struktural dan fungsional.

Lebih lanjut lagi, perubahan itu terus bergulir dan juga terus menciptakan paradoksnya sendiri. Sembari modernisme terus membenahi diri, struktur dan fungsi sosial masyarakat tergiring ke model masyarakat sosial pasca liberalisme. Sementara liberlisme telah mempatron ekonomi modern ke puncak peradaban. Titik ini merupakan efek beruntun yang melahirkan problem, tuntutan dan protes ideologisnya sendiri, sekaligus juga mengintervensi dari luar sistem kehidupan sosial.

Perkembangan dan perubahan ini, tentu saja membutuhkan penanganan, yang kerap inspirasinya dibebankan kepada ilmu pengetahuan dan filsafat. Suatu penanganan dibutuhkan karena fenomena kompleksitas struktur dan fungsi-fungsi masyarakat sosial (Buku Teori Masyarakat menyebutnya dengan istiilah: “struktur gambaran dunia kehidupan”) ini harus disingkap eksistensi-eksistensi dan hubungan-hubungannya untuk sampai pada suatu petunjuk (mungkin sejenis teori)yang bisa berhadapan dengan konflik dan benturan, atau tuntutan yang sifatnya ideologis sebagai konkuensi dari perubahan itu.

Filsafat dan ilmu pengetahuan (khususnya ilmu-ilmu sosial dan filsafat sosial) memang bisa ditapak dengan jelas keikutsertaannya menjadi penerang dan pemberi alternatif (petunjuk-petunjuk skolastik) sejalan dengan perkembangan masyarakat pasca revolusi industri dan revolusi Perancis itu. Mereka tidak hanya ikut berpartisipasi sebagai observer dan “pemadam kebakaran” (fireman) untuk menjawab setiap krisis-krisis, atau menjadi penasihat terhadap ambivalensi modernisme. Aktor-aktor mereka (para teoritisi) tidak pula hanya tekun berkontemplasi dibalik dinding-dinding kepuasan skolastik mereka, dan dengan itu kembali tertidur pulas. Sejarah ilmu pengetahuan telah mencatatkan bahwa para teoritisi telah melompati pagar skolastik mereka (ekspansif) akibat kemajuan filsafat ilmu itu sendiri menuju panggilan moral keilmuan itu sendiri. Mereka dan teori-teorinya menjadi sokoguru dan jadi “steering committee” bagi proyek-proyek “rekayasa” sosial yang didesain oleh aparat birokrasi atau suprastruktur kekuasaan dengan intervensi dari dalam terhadap prinsip-prinsip ideologis partai-partai yang menggerakkan aparat dan suprastruktur itu.

Salah satu efek bumerang terhadap modernisme (atau juga liberalisme) adalah patologi modernisme yang bergerak secara psikoanalis dan linear dalam dunia kehidupan sosial. Teori-teori sosial menyisihkan aib modernisme ini dalam perspektif-perspektifnya karena secara metodologis dan teoritis tidak pernah dianalisis dalam konteks sejarah sosial (social history). Masing-masing teori sosial mengembangkan perspektif, demikian pula metode-metodenya, menurut haluannya sendiri. Pengembangan mereka masing-masing sesungguhnya tidak saling mematahkan, pun juga tidak saling mendukung. Namun teori-teori sosial tersebut dengan segala pernik-perniknya tetap bungkam berhadapan dengan realitas-realitas sosial yang tengah dikurubuti patologi modernisme; sebagai akibat diintegrasikannya sistem dengan dunia kehidupan sosial dalam kerangka teoritis dan metodisnya.

Di sinilah Juergen Habermas menawarkan kerangka penelitian yang mempuanyai empat arah: Strukturalisme Genetik, Psikologi Perkembangan dari sosiologi Max Weber, Komunikasi Mead, dan Teori Integrasi Sosial Durkheim. Kerangka ini mampu menunjukkan dan menjelaskan patologi modernitas yang diabaikan oleh kerangka penelitian lain dengan alasan metodis. Kerangka penelitian ini dalam konteks dunia kehidupan sosial kemudian mengembangkan teori tindakan komunikasi, mempunyai definisi dasar universal terhadap struktur umum kehidupan manusia.

Tujuan
Peper ini akan mengulas secara singkat argumen dan prosedur pemikiran teoritis Jergen Hubermas tentang kesulitan teori-teori sosial modern mengintegrasi problem patologi modernitas secara teoritis dan metodis dalam dalam penelitiannya. Peper ini juga akan menunjukkan tinjauan pra-teori pemikiran Juergen Habermas sebelum sampai pada teori tindakan komunikasi. Pada akhirnya, ulasan dalam peper ini juga akan merumuskan kesimpulan akibat-akibat keterbatasan teori-teori sosial yang ada sehingga mampu melihat kedudukan sistem dan dunia kehidupan dalam teori-teori sosial dan metode-metodenya.
****

Bab II. Tinjauan Terhadap Teori-Teori Sosial
Pendekatan social history merupakan model yang digunakan oleh Karl Marx dalam melihat abstraksi-abstraksi sistem dan dunia kehidupan dalam masyarakat moderen. Max Weber juga telah memberikan kontribusi dalam peletakan dasar-dasar konsepsional pendekatan social history ini. Karl Marx mengurai struktur dasar sosial masyarakat melalui tinjauan kelas-kelas sosial beserta perjuangan-perjuangannya. Sementara Max Weber menggagas merasionalisasi kehidupan sosial dalam membangun teori-teori sosialnya.

Gagasan Marx dalam penelitian tentang dinamika perjuangan kelas dikembangkan misalnya oleh R. Bendix, R. Lepsius, C. Stuart Mills, B. Moore, atau U. Wehler. Dari sini, lahirlah teori perjuangan kelas yang menghasilkan konsep tentang perbedaan struktur masyarakat dalam sistem tindakan secara fungsional. Di sinilah teori fungsionalisme menunjuk dan menjelaskan modernisme sebagai satu dimensi utuh, menyeluruh. Oleh sebab itu, pandangan ini tidak mendifferensiasi dunia kehidupan ke dalam unit-unit tertentu.

Selain itu, teori funsionalisme juga menjadi motor berkembangnya teori-teori ekonomi, termasuk teori-teori tentang administrasi, dalam kaitannya dengan sutruktur dunia kehidupan sosial. Karena teori fungsionalisme memandang modernisme sebagai satu dimensi (menyeluruh), maka teori sistem juga ikut ambil bagian dalam perkembangan pandangan-pandangan fungsionalistis selanjutnya. Salah satunya adalah Teori Sistem Masyarakat yang digagas dan dikembangkan oleh Talcot Parson. Teori sistem sendiri memang berfokus pada kesalingterkaitan antara unit-unit dari satu kesatuan. Teori sistem masyarakat selanjutnya membangun Teori Kehidupan Sehari-hari melalui pendekatan hermeneutika, dan interaksionsme simbolik secara fenomenologis. Dua pendekatan tersebut juga merupakan pijakan dasar Teori Tindakan.

Secara fenomenologis, teori tindakan dikaitkan dengan penelitian historis di mana proses modernisasi digambarkan dari sudut pandang dunia kehidupan yang berlapis-lapis dan berkelompok. Justru karena itulah, menurut Habermas dengan pertimbangan dari Benyamin, semakin mempertajam ketidaktepatan historis. Menurut Benyamin, di sinilah tersedia ruang bagi pemahaman yang kritis.

Posisi patologi sosial terpantul dari dinamika perkembangan ekonomi, pembentukan bangsa dan negara. Tetapi, penelitian historis justru tidak memasuki wilayah itu. Dalam situasi keterbatasan teoritis dan metodis inilah, kemunculan teori kritis secara sintesis dianggap alternatif. Sebab, suatu teori kritis masyarakat semakin dapat menjamin hasil-hasil ketiga aliran penelitian tersebut, jika semakin dapat dibuktikan secara terinci bahwa daerah-daerah obyek yang diterimanya dengan naif baru muncul dalam konstelasi kemodernan awal dan memang merupakan dampak pemisahan antara sistem dan dunia kehidupan.

Differensiasi struktrur dalam teori fungsional merupakan rasionalisasi yang menyebabkan situasi kehidupan paradoks mempunyai arti non-metaforis. “Abstraksi nyata”, istilah Marx, tidak hanya memaksudkan paradoks-paradoks yang metaforis, tetapi paradoks yang membuka suatu analisis kongkret, di mana rasionalisasi dunia kehidupan diubah menjadi pembebanan berlebihan infrastuktur komunikasi dunia kehidupan.

Bentuk-bentuk Integrasi Masyarakat Pasca-liberal
Penelitian Marx, Weber dan Habermas mengambil tipe Rasionalisme Barat sebagai persyaratan modernisasi. Weber menelusuri perkembangannya yang kapitalis sedangkan Marx pada pekembangan yang sosialistis. Pada kenyataannya, medernisme memang terdorong ke dua arah. Pertama ke jalur perkembangan kapitalisme yang terorganisir yang membutuhkan tatanan politik demokrasi massa (beberapa jadi otoriter dan fasis) yang bersifat negara sosial. Pada jalur perkembangan sosialisme birokratis, terbentuklah tatanan politik diktatur partai negara.
Dua model dominan ini (varian yang berlaku) adalah model yang ditemukan pada masyarakat pasca liberal, di mana gejala keterasingan muncul sebagai bentuk kerusakan bentuk dunia kehidupan yang diciptakan oleh sistem. Atas dasar ini, analisis selanjut dengan sendiri akan mengarah ke prinsip-prinsip organisasi masyarakat, macam kencenderungan krisis, dan bentuk patologi sosial.

Kembali pada rasionalisasi barat, menurut ketiga orang ini, rasionalisasi besar-besaran inilah persyaratan awal proses modernisasi. Kemudian, uang dan kekuasaan mangambil posisi sebagai media pengedali dunia kehidupan. Tesis kuncinya, uang dan kekuasaan tertanam sebagai media dalam dunia kehidupan, artinya, dapat dilembagakan dengan sarana hukum positif. Jika persyaratan awal tadi telah terpenuhi, suatu sistem ekonomi dan sistem pemerintahan dapat dibedakan (differensiasi sistem), keduanya saling bertukar tempat melalui media pengendali.

Pada tingkat differensiasi inilah mula-mula masyarakat kapitalis muncul lalu kemudian sosialis-birokratis karena terbatasnya kapitalis. Sementara modernisme berkerja di jalur kapitalisme sehingga memungkinkan sistem ekonomi-kapitalisme mampu mengembangkan dirinya. Sistem ekonomi kapitalisme inilah yang alih “primat-evolusioner” seluruh masyarakat. Modenisasi akan menjadi lain bila jalurnya pada sosialisme-birokratis, di mana sistem tindakan administratif mendapat otonomi yang hampir sama dengan sistem ekonomi. Syaratnya, landasan alat produksi diambil alih oleh negara dan kekuasaan partai dilembagakan.

Pada situasi ini, segala beban yang timbul akibat hubungan timbal balik pada kedua varian dominan ini mengalihkan seluruh bebannya kepada dunia kehidupan dari berbagai sub-sistem. Dunia kehidupan dalam masyarakat yang telah dimodernisasi mempraktikkan terus bentuk-bentuk ketidakseimbangan sistem yang telah berurat berakar. Akhirnya, paradoks muncul. Politik berputar-putar tanpa kejelasan: perencanaan terpusat atau desentralisasi, ekonomi investasi atau konsumsi.

Sosialisasi Keluarga dan Perkembangan Ego
Dalam hal ini, kita akan berkerja dengan tinjauan psikoanalisis yang telah di-”Marxis”-kan. Pointnya adalah gejala oedipus complex, namun dinterpretasikan secara sosiologis sebagai titik tolak penjelasan tentang imperatif fungsional sistem masyarakat yang dapat dijalankan dalam struktur super-ego dari karakter sosial yang berlaku. Penelitian tetang konteks ini menjadikan terang bahwa sistem ekonomi memaksakan dirinya masuk ke dalam dunia kehiudupan individu yang paling dalam dan pada perkembangan kepribadian. Segala hubungan sosial tercermin sebagai hubungan-hubungan ekonomi yang lepas dari ruang lingkup pribadi.

Kebuntuan kerap terjadi dalam hal ini karena ilmuwan tidak memberi tanggapan terhadap struktur komunikatif keluarga karena organisasi ini hanya dilihat dari sudut pandang fungsionalistis saja. Akibatnya, perubahan struktur organisasi keluarga menurut zamanya menjadi lazim disalahpahami.

Sudah lama dokter-dokter yang mempelajari psikoanalisis mengamati adanya sebuah perubahan gejala penyakit menurut zamannya. Perubahan zaman, telah pula merubah struktur organisasi dan fungsi-fungsi dalam keluarga. Akibatnya, imperatif sistem menjadi variabel pengendali terhadap patologi sosial dan kecenderungan oedipus complex.

Atas dasar ini, menurut Habermas, permasalah yang telah berubah sama sekali tidak dapat dibahas dengan memakai teori yang sudah kuat. Jika kita mau mengaitkan perubahan sosialisasi keluarga yang sesuai dengan zamannya dengan rasionalisasi dunia kehidupan,, maka interaksi sosialnya harus merupakan titik analisis mengenai perkembangan ego. Selain itu, juga komunikasi yang terkoyak secara sistematis menjadi titik tolak penelitian patogentis. Kerangka penelitian (Habermas menyebutnya “Teori Sosialisasi”) seperti ini akan menggabungkan teori psikologinya Freud dan teori komunikasinya Mead. Intinya adalah pembenaran struktur inter-subyektivitas dan menggantikan hipotesis mengenai dorongan naluri dengan pendapat tentang sejarah interaksi dan pembentukan identitas.

Media Massa dan Kebudayaan Massa
Menurut Hokheimer dan Adorno, arus-arus komunikasi yang dikendalikan melalui media massa telah menggantikan struktur komunikasi tertentu yang pernah memungkinkan diskusi umum dan pemahaman pribadi mengenai hal-hal tertentu. Kemajuan teknologi komunikasi massa telah mengubah isi otentik kebudayaan modern menjadi stereotip suatu kebudayaan massa yang disterilkan dan berdampak ideologis, yang hanya melipatgandakan hal yang sudah ada. Perubahan ini pula telah melumpuhkan momen subversif dan transendental dengan sistem kontrol sosial yang melindungi individu.

Namun, Habermas menganggap teori itu a-historis dan buta terhadap perubahan struktur masyarakat borjuis. Habermas mengajukan saggahannya dengan mengetengahkan konsep dualisme media. Yaitu: media pengendali dan bentuk-bentuk komunikasi umum. Yang pertama menyangkut sub-sistem dari dunia kehidupan yang dapat dibedakan sedangkan yang kedua menyangkut pemahaman yang tidak dapat menggantikan bahasa melainkan hanya memutuskannya. Media pengendali dapat saja memutuskan kordinasi pembentukan bahasa atau menetralkan, media lainnya akan menuju proses pembentukan bahasa yang tergantung pada intervensi latarbelakang dunia kehidupan. Itulah media massa yang disebut komunikasi umum. Ia melepaskan konteks kedaerahan, lepas dari ruang dan waktu. Komunikasi umum mampu menciptakan publiknya sendiri dan membentuk kesamaan abstrak konten komunikasi.

Potensi-potensi Protes
Potensi protes berangkat dari perkembangan kapitalime yang sedang menyempurnakan diri sebagai sintesis dari organisasi konflik kelas dalam demokrasi massa negara sosialis. Perkembangan kapitalisme memang telah melembagakan dan membekukan konflik-konflik itu, namun ternyata tidak dengan sendirinya potensi protes juga ikut terbekukan. Potensi protes itu adalah jawaban terhadap kolonialisasi kapitalisme kepada dunia kehidupan. Protes ini memilih bentuk yang lain dari protes yang telah dilembagakan oleh negara sosialisme-birokratis atau kapitalisme-borjuasi. Konflik ini disalurkan melalui sub-lembaga, kerap di luar parlemen, namun tidak dapat diselesaikan oleh media pengendali.

Contoh protes (konflik) ini dapat disebutkan beberapa: gerakan anti tenaga nuklir, gerakan anti diskriminasi jender, gerakan ekologi, gerakan perdamaian, gerakan anti-globalisasi, dan seterusnya. Protes ini berorientasi pada perkembangan yang jelas-jelas menyentuh landasan organis dunia kehidupan dan secara drastis memberi kesadaran akan ukuran-ukuran yang memadai untuk hidup dan memberi batas ikatan yang tidak fleksibel atas kebutuhan-kebutuhan yang berlatar belakang estetika inderawi.

Secara singkat, perbedaan protes ini dari protes atau konflik yang telah dilembagakan oleh kapitalisme-borjuasi dan sosialisme-birokrasi adalah tidak adanya motif untuk melembagakan uang dan kekuasaan (media pengendali) dalam kontrolnya. Artinya, prinsip-prinsip protes ini berada di luar wilayah radius kontrol media pengendali. Justru, protes ini berorientasi membatasi ruang gerak media pengendali yang telah berstruktur komunikatif, juga bukan untuk merebut dan menguasai sebuah wilayah baru. Tujuan, pandangan dan cara bertindak protes-protes ini meluas dalam kelompok protes kaum muda, dan karena oleh kaum muda, maka sejak awal ini dimengerti sebagai reaksi terhadap situasi permasalahan tertentu dan sesaat, lalu diterima dengan kepekaan besar.

Sekalipun demikian, protes ini akan tetap terlembagakan namun memisahkan diri dari sistem ekonomi dan sekaligus juga terpisah dari sistem kepartaian untuk melawan bentuk baru suatu politik “orang pertama”. Lembaga ini akan membatalkan hasil abstraksi dan netralisasi masyarakat modern, menarik kembali intervensi media pengendali, dan mengembalikan “daerah yang telah dibebaskan” itu. Memang ini tidak realistis, namun reaksi terhadap kolonialisasi dunia kehidupan ini tetap perlu dipahami.

Uraian penelitian Habermas di atas dimaksukan untuk masuk ke sebuah teori tindakan komunikatif, yang menjelaskan landasan normatif suatu teori masyarakat yang kritis. Teori tindak komunikatif dapat memberi sebuah alternatif untuk filsafat sejarah yang perkembangannya tidak dapat dibendung lagi, yang padanya masih melekat teori kritis yang lama. Teori ini menawarkan suatu kerangka yang dapat mendesaian penelitian interdisipliner.

****

Bab III. Penutup
Pemikiran Habermas tentang patologi modernitas dan sosial telah berhasill mencapai suatu rumusan konsepsional yang dapat membuka kebekuan dan keterbatasan teori-teori sosial selama ini dalam memberikan penjelasan mengenai sistem dan dunia kehidupan. Dalam hal ini, Habermas bergerak lebih jauh dan lebih berani menantang resiko teoritis dan metodis dengan mengerahkan argumen-argumennya untuk sampai pada teori tindakan komunikatif. Awalnya, ia memang sengaja memberikan pendapat-pendapat “miring” tentang teori kritis yang pernah ia sendiri rintis. Teori kritis, ia anggap demikian, dianggap juga berakhir pada kesimpulan yang sama dengan apa yang dicapai oleh teori fungsionalisme, struktural, dan teori sistem tindakan, yakni tidak peka terhadap yang oleh Marx sebut “abstraksi nyata”.

Tetapi, Habermas berhasil menambahkan dalam penelitiannya instrumen-instrumen lain, yaitu Strukturalisme Genetik, Psikologi Perkembangan, Komunikasi, dan Teori Integrasi Sosial. Dan melalui pendekatan fenomenologis, hermeneutika, dan interaksionisme simbolik, teori tindakan komunikatif muncul sebagai alternatif yang lebih mampu menjelaskan struktur dasar dunia kehidupan tanpa mengabaikan permasalahan yang sifatnya historis. Dengan jalan ini, teori tindakan komunikatif akhirnya tidak perlu dan tidak punya alasan untuk menyalahkan teori kritisnya.
Berkat teori itu, perkembangan proses modernisasi dapat lebih dipahami dalam jalur-jalur masyarakat kapitalistis maupun sosialistis. Demikian pula kecenderungan baru terhadap perlawanan terhadap dua varian dominan itu, juga bukan sesuatu yang mengagetkan bagi teori tindakan komunikatif.

*) __________, 1988. Teori Masyarakat: proses peradaban dalam sistem dunia modern.Penyunting: Hans-Dieter Evert; Kata Pengantar: Selo Soemardjan; Penerjemah: Thomas Rieger. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia (YOI). Hal: 76 – 106

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: