Bom Waktu Kaum Muda dan Golput

Jumat, 18 April 2008 | 00:38 WIB
M Fadjroel Rachman
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.18.00383345&channel=2&mn=158&idx=158

The status quo lost and change won,” pidato kemenangan Barack Obama pada Kaukus Partai Demokrat di Iowa (3/1) ini tepat menggambarkan kemenangan Ahmad Heryawan–Dede Yusuf.
Ahmad Heryawan–Dede Yusuf (Hade) yang sama-sama berusia 41 tahun bersama golongan putih (golput) memenangi Pilkada Jawa Barat (13/4/2008) dan Pilkada Sumut (16/4/2008).
Kaum muda menyadari, status quo dalam kepemimpinan nasional kita (di kabupaten/kota, provinsi, negara) berimpitan dengan usia tua (di atas 55 tahun), sedangkan perubahan berimpitan dengan usia muda (sekitar 35-55 tahun).


Namun, golput yang juga diusung kaum muda sebagai kritisisme atas prosedur, kemampuan, dan manfaat demokrasi menggebrak dengan mosi tidak percaya kepada partai politik (parpol) dan pasangan calon parpol. Keduanya “bekerja sama tanpa sadar” menumbangkan parpol besar konservatif serta memenangkan kaum muda parpol menengah dan kecil. Kesamaan keduanya, kaum muda dan golput, meyakini keniscayaan regenerasi kepemimpinan nasional serta kebangkitan paradigma baru (mindset) demokrasi partisipatif dan negara kesejahteraan. Segalanya untuk kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat.

Signifikansi golput
Di atas kertas, Heryawan-Dede harus kalah karena hanya diusung 28 kursi di DPRD I Jabar, dari PKS (21) dan PAN (7). Lawannya, Danny-Iwan, didukung 45 kursi: Golkar (28), Demokrat (9), PBB (1), dan PKB (7). Adapun Agum-Nu’man diusung 34 kursi, dari PDI-P (21) dan PPP (13).

Apalagi Danny-Iwan “dibantu” Presiden Yudhoyono (5/4) dengan pengucuran Bantuan Langsung Masyarakat untuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Jawa Barat senilai total Rp 792 miliar.

Kenyataannya, PNPM pun tak mampu mendongkrak suara Danny-Iwan, uang dan dukungan Presiden bukan segalanya dalam Pilkada Jabar.

Selain itu, ada sejumlah faktor. Pertama, regenerasi kepemimpinan nasional;
Kedua, perlawanan perubahan atas status quo;
Ketiga, suara golput di Jabar 35 persen, di SUmut 4 persen. Sebenarnya golput adalah pemenang Pilkada Jabar dan Sumut.

Ada sejumlah faktor lain yang berkelindan untuk mengukur keberhasilan Heryawan-Dede.

Pertama, prestasi pemerintahan duet Danny Setiawan–Iwan amat mengecewakan publik, misalnya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan pada Maret 2007 adalah 5,46 juta orang, naik dari 5,14 juta pada Juli 2005 (Garis Kemiskinan Rp 133.701 per kapita per bulan pada Juli 2005 menjadi Rp 158.579 per kapita bulan pada Maret 2007, dari Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat No 18/08/32/Th IX, 1 Agustus 2007);

Kedua, pecah kongsi internal dan eksternal partai status quo, PDI-P dan Partai Golkar (terjadi di Jabar dan Sumut);
Ketiga, runtuhnya kemapanan jaringan birokrasi dan militer serta kemampuan partai menengah/kecil (terutama PKS) mengelola konstituen dan menarik swing voters.

Fenomena kaum muda
Rusia baru sudah lahir. Dmitry Medvedev (43) terpilih sebagai presiden baru. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) sedang menanti Barack Hussein Obama Jr (46) sebagai presiden baru AS. Medvedev dan Obama adalah penanda terbaik lahirnya generasi baru kepemimpinan nasional di Rusia dan AS, berarti juga generasi baru kepemimpinan global. Publik di Rusia dan AS membutuhkan alternatif perubahan radikal dan baru terhadap kualitas kepemimpinan dan pengalaman. Obama menyahutnya, “Our time for change has come!”

Rusia dan AS meninggalkan politik status quo dan melakukan regenerasi kepemimpinan nasional, bahkan Al Gore (mantan wapres Bill Clinton) menyingkir secara elegan.

Tampaknya bola salju kemenangan kaum muda akan terus bergulir dalam pilkada di seluruh Indonesia pada 2008 ini, seperti di Jateng, Jatim, Riau, Lampung, Sumsel, dan sejumlah kabupaten/kota. Puncak bola salju ini adalah perebutan kepemimpinan nasional pada 2009 mendatang (dan telak mengalahkan) politisi “sepuh”, melalui jalur parpol menengah/kecil maupun jalur perseorangan (bila dikabulkan rencana judicial review oleh Mahkamah Konstitusi atas UU No 23/2003 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden), seperti Susilo Bambang Yudhoyono (58), Jusuf Kalla (65), BJ Habibie (71), Megawati Soekarnoputri (60), Abdurrahman Wahid (67), Amien Rais (63), Akbar Tandjung (62), Wiranto (60), Sutiyoso (63), Sultan Hamengku Buwono X (61), dan segenerasinya.

Kaum muda di Indonesia adalah pembuat sejarah. Karena itu, regenerasi kepemimpinan nasional seperti banjir sejarah yang tak bisa dibendung. Siapa pun yang mencoba menahan akan tenggelam menjadi pecundang. Kaum muda dan golput meneriakkan keyakinan Heraclitus, yang selalu digaungkan Bung Karno, “tuan- tuan segalanya pasti berubah, Panta Rei.”

M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: