Memahami Golput

Kolom ANALISIS :  Tadjuddin Noer Effendi
26/07/2008 08:11:44
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=172033&actmenu=45

FENOMENA golput kembali muncul ke permukaan dalam pemilihan kepala daerah: gubernur, bupati dan walikota di beberapa daerah. Dalam Pilkada itu proporsi pemilih yang tidak menggunakan hak pilih (golput) berkisar antara 30-45 %. Padahal, pada Pemilu 1999 dan 2004 proporsi golput tercatat sekitar 20 %.


Tampaknya, ada kecenderungan angka golput baik di pilkada dan di dua pemilu, menjadi meningkat. Meskipun agak berbeda tetapi kenaikan angka golput meresahkan banyak pihak. Ada kekhawatiran fenomena golput dalam pilkada di beberapa daerah itu, nanti akan terjadi di Pemilu 2009. Kekhawatiran itu memunculkan  beberapa pandangan.
Ada pendapat bahwa golput itu sikap yang salah. Golput tidak pantas dilakukan oleh seorang warga negara. Warga negara yang baik adalah mereka yang mau berpartisipasi dalam pemilu. Apabila partisipasi masyarakat rendah dan golput tinggi maka pemimpin yang dipilih melalui pemilu kurang sah atau tidak legitimate. Kalau hal ini terjadi maka diperkirakan dapat mengganggu proses penyelenggaraan roda pemerintahan. Sehingga seorang elite partai di negeri ini dengan nada gemas mengatakan bahwa “mereka yang golput perlu dicabut kewarganegaraannya”. Sikap yang jelas tidak sesuai dengan demokrasi. Bukankah dalam sistem demokrasi, memilih itu adalah hak dan bukan kewajiban? Karena sebagai hak maka seseorang bisa memilih sesuai aspirasinya (hati nurani). Bisa juga tidak menggunakan hak pilihnya. Memilih dan tidak memilih adalah salah satu unsur dari hak asasi manusia. Dan sekarang bukanlah masa Orde Baru yang memaksakan memilih sebagai sebuah kewajiban.

Perlu kita pahami adalah mengapa golput cenderung meningkat? Kenaikan angka golput bisa dimaknai sebagai salah satu cerminan sikap perlawanan (resistensi) dan ketidakpercayaan rakyat terhadap penguasa (pemerintah), para elite politik (wakil-wakil parpol di DPR dan DPRD) dan pada partai yang telah mereka pilih. Sejak Pemilu 1999 dan 2004 rakyat sadar bahwa sistem politik telah berubah dari otoriter ke demokrasi.

Maka dalam kedua pemilu itu para pemilih berusaha menggunakan hak untuk memilih sesuai dengan pilihan mereka (hati nurani). Dalam memilih sangat mungkin didasari atas kesadaran dan dengan penuh harapan bahwa penguasa yang terpilih kelak akan melakukan perubahan-perubahan sesuai visi/misi dan janji-janji yang diikrarkan ketika berkampanye.

Rakyat sudah cukup lama menderita. Mereka menginginkan perbaikan agar  kehidupan lebih baik (sejahtera). Tidak mengherankan ketika ada partai dan kandidat presiden berkampanye akan membela nasib mereka dan melakukan perubahan disambut dengan positif dan menjatuhkan pilihannya pada partai dan kandidat itu. Pengalaman Pemilu 1999, partai yang mengusung tema kampanye akan membela nasib wong cilik mendapat kursi terbanyak di DPR. Dalam Pemilu 2004, sekitar 60 % dari pemilih, telah memilih kandidat presiden/wakil presiden yang mengusung perubahan sebagai tema utama dalam kampanye.

Apa yang terjadi setelah dipilih secara demokratis? Perubahan yang dijanjikan belum menjelma menjadi kenyataan. Janji-janji masih tetap sebagai wacana untuk menebar pesona. Harapan semakin menjauhi kenyataan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak memihak pada kepentingan rakyat. Salah satu kebijakan yang dirasakan tidak berpihak pada rakyat adalah ketika pemerintah 2 kali menaikkan harga BBM. Pertama kenaikan sekitar 100 % dan kedua 28,7 %. Pemerintah berkilah bahwa menaikkan harga BBM adalah pilihan tidak populer, tetapi hal itu tidak dapat dielakkan karena kenaikan itu terjadi secara global. Kenaikan itu seakan suatu keniscayaan. Bila tidak dinaikkan rakyat akan menderita. Anggaran untuk subsidi membengkak. APBN habis disedot untuk membiayai subsidi BBM.

Memang pemerintah mengeluarkan kebijakan bantuan langsung tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM, khusus untuk masyarakat miskin. Maksud baik tanpa rancangan dan dikerjakan dengan sistematis menyebabkan dalam implementasi banyak mengecewakan rakyat. Data untuk menentukan penerima BLT sebagian tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Mereka yang berhak tidak mendapatkan BLT sedang yang tidak berhak dapat BLT.

Konflik sosial terjadi di masyarakat. Kritik masyarakat terhadap pelaksanaan BLT tidak pernah didengarkan.
Ternyata, penguasa yang dipilih secara demokratis belum tentu membawa perubahan pada nasib rakyat miskin. Sangat mungkin ini sebagai pemicu munculnya sikap apatis. Cerminan sikap apatis sering terungkap dalam kata-kata “sudahlah siapa pun yang berkuasa nasib rakyat miskin tidak berubah”.

Sikap apatis semakin bertambah ketika diberitakan di berbagai media bahwa para elite politik di DPR dan DPRD banyak terlibat perbuatan mencederai hati  rakyat. DPR yang katanya sebagai wakil rakyat menghambur-hamburkan uang rakyat untuk jalan-jalan ke luar negeri dengan dalih kunjungan kerja. Di tengah rakyat dihimpit kesulitan ekonomi, DPR menaikkan gaji mencapai puluhan juta rupiah serta ditambah pelbagai fasilitas mulai rumah, mobil, komputer dan lainnya dan semuanya dibayar dengan uang rakyat.

Tetapi nyaris tidak terdengar upaya para elite politik di DPR berupaya memperjuangkan perbaikan nasib masyarakat miskin yang telah memilih mereka. Yang terungkap justru beberapa oknum DPR dan DPRD terlibat suap-menyuap, korupsi dan skandal seks. Sangat mungkin realitas itu membuat rakyat kecewa dan kehilangan kepercayaan pada penguasa, elite politik dan partai. Mereka galau seraya menggerutu siapa lagi yang bisa dipercaya dan diharapkan mau serta mampu melakukan perubahan agar kehidupan menjadi lebih bermartabat dan sejahtera? Kegalauan ini mungkin yang memicu sebagian pemilih melakukan perlawanan dengan memilih golput. Salahkah mereka? (Penulis adalah Staf Pengajar Jurusan Sosiologi Fisipol UGM)-z

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: