Bahaya Golput

Ardi Winangun – suaraPembaca
http://suarapembaca.detik.com/read/2008/09/26/171740/1013150/471/bahaya-golput
Jumat, 26/09/2008 17:17 WIB

Jakarta – Pada tahun 1971-an salah seorang aktivis yang bernama Arief Budiman mengkampanyekan agar masyarakat dalam pemilihan umum (pemilu) tidak memilih salah satu partai politik. Gerakan yang lebih dikenal dengan nama golput (golongan putih, red.) itu selanjutnya menjadi gerakan yang ngetrend.


Apa yang dikampanyekan Arief Budiman saat itu tepat sebab pemilu yang dilakukan oleh Orde Baru penuh dengan rekayasa sehingga dengan banyaknya golput secara signifikan akan mengurangi jumlah kemenangan (Partai) Golkar.
Apakah gerakan golput yang dicetuskan Arief Budiman itu sekarang masih relevan? Sepertinya tidak lagi sebab pemilu yang dilaksanakan pada era reformasi, pemilu 1999, pelaksanaan pemilu menjadi baik. Asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil pun terpenuhi. Sehingga hasil pemilu pun menunjukkan pilihan masyarakat yang sebenarnya.

Meskipun pemilu pada era reformasi keadaannya sudah 180 derajad berbeda dengan pemilu pada masa Orde Baru namun masih banyak masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya (baca golput). Mereka melakukan golput disebabkan oleh banyak hal. Seperti tidak terdaftar sebagai pemilih atau enggan datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hal-hal itulah yang menyebabkan golput muncul.

Partisipasi masyarakat pun dalam pemilihan akhirnya menjadi rendah. Sehingga dikatakan gerakan golput sekarang bukan gerakan politik. Namun, karena disebabkan masalah administratif atau faktor lainnya.

Dari faktor itu maka partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah(pilkada) tidak pernah mencapai 100%. Saat Pilkada Jawa Barat kemarin partisipasi masyarakat sekitar 65% sehingga yang golput 35%.

Jumlah golput yang demikian besar tentu akan mempengaruhi hasil pemilihan. Sehingga taktik memenangi pemilu atau pilkada sekarang bukan lagi hanya pada soal figur dan program. Tetapi, bagaimana partai bisa semaksimal mungkin mendorong anggota atau simpatisannya datang ke TPS pada saat pencoblosan.

Strategi itulah yang sudah digunakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS memahami bahwa kehadiran orang per orang sangat berarti dalam setiap pilkada. Bagi partai ini satu suara sangat berarti.

Strategi seperti itu ternyata sangat efektif. Terbukti partai itu mampu memenangi pilkada. Meskipun kalah namun jumlah selisihnya tidak terpaut jauh. Saat Pilkada Banten dan Jakarta memang partai putih itu kalah. Namun, selisih suaranya sangat tipis.

Dengan demikian golput dalam pilkada-pilkada atau pemilu selanjutnya merupakan gerakan yang berbahaya. Gerakan itu akan ditelikung partai politik yang kecil. Namun, semua anggota dan simpatisannya hadir ke TPS saat pencoblosan. Dengan demikian gerakan yang perlu dilakukan oleh para kontestan pilkada atau pemilu sekarang adalah mendorong agar pemilihnya berbondong-bondong ke TPS.

Namun, hal itu tidak mudah. Perlu adanya pendidikan politik bahwa pilkada atau pemilu merupakan suatu proses yang penting untuk menentukan masa depan mereka. Pendidikan politik sudah dilakukan oleh PKS. Dengan sistemnya partai itu mampu memberi penyadaran kepada anggota dan simpatisannya akan arti penting suara.

PKS mempunyai prinsip untuk merubahan tatanan masyarakat dan pemerintah yang baik maka kekuasaan harus dipegang. Caranya? Ya memenangi pemilihan. Dengan cara itu maka partai-partai ini berusaha selalu memenangi pemilihan dengan cara antusiasnya anggota dan simpatisan datang ke TPS. Buktinya dalam Pilkada Jawa Barat, Sumatera Utara, dan daerah lainnya calon yang diusung partai itu memenangi pilkada.

Kekalahan yang dialami oleh partai-partai besar bisa jadi mereka terlalu terlena. Mereka tidak pernah melakukan edukasi kepada anggota dan simpatisannya agar ramai-ramai berbondong ke TPS.

Mereka terlalu asyik dengan program-program yang menawarkan pendidikan gratis, biaya berobat gratis, dan tawaran lainnya. Padahal hal-hal tersebut justru membuat masyarakat bosan. Kampanye seperti itu justru membuat masyarakat enggan datang ke TPS sebab mereka khawatir jangan-jangan mereka akan dibohongi.

Ardi Winangun
Jl Kendal Menteng Jakarta Pusat
ardi_winangun@yahoo.com
08159052503
Penulis adalah Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI.
(msh/msh)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

5 responses to “Bahaya Golput

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: