Caleg Tanpa Nama dan Golput

Dwi Eka A – suaraPembaca
http://suarapembaca.detik.com/read/2008/11/26/170755/1043440/471/caleg-tanpa-nama-dan-golput
Rabu, 26/11/2008 17:07 WIB
Jakarta – Meminjam bahasa sahabat saya ada kekhawatiran terhadap perilaku sejumlah politisi yang terkesan memalukan dan memilukan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menjalankan peraturan sesuai amanat perundangan dalam menentukan calon legislatif (caleg) yang layak masuk dalam Daftar Calon Tetap (DCT). Namun, tetap saja ada pihak yang keberatan dan melakukan serangkaian protes agar aturan tersebut ditinjau kembali.


Pernyataan keberatan yang disampaikan oleh artis Eko Patrio (18/10/2008) dan Wulan Guritno (23/10/2008) perihal pencantuman nama asli dirinya sesuai nama lahir dalam Daftar Calon Sementara (DCS) menjadi pelajaran. Eko dan Wulan khawatir, jika masyarakat, khususnya yang berada di Daerah Pemilihan (Dapil)-nya tidak memilih keduanya lantaran rakyat “terlanjur” mengenal Eko dan Wulan lengkap dengan embel-embel Patrio dan Guritno.
Nama asli dari Eko Patrio, pria kelahiran Kurung Lor, Tanjung Anom, Nganjuk, Jawa Timur, 30 Desember 1970 itu, adalah Eko Indro Purnomo. Sedangkan nama asli Wulan Guritno berdasarkan KTP adalah Sri Wulandari.

Kekuatan Mesin Parpol
Barangkali para caleg tidak khawatir jika partai politik (parpol) pengusung mempunyai sistem dan mesin politik kuat, sehingga “nama” tidak menjadi masalah karena toh masyarakat sudah mengenal mereka lewat direct selling atau kampanye door to door segenap pengurus, kader, dan simpatisan partai.

Tentu sebagai warga negara yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pemilu yang demokratis, jujur, dan adil menginginkan persaingan sehat dalam pemilu tanpa money politics. Tak dapat dipungkiri jika pemilu adalah jalan sah untuk melakukan perubahan secara demokratis.

Kendati demikian tak semua parpol memiliki mesin politik yang kuat mengingat berbagai faktor yang memengaruhi. Selain dukungan finansial dan energi yang harus dikeluarkan visi dan misi perjuangan kerap menjadi batu sandungan. Tak heran untuk menutupi kekurangan demi memperoleh suara meyakinkan parpol mencari jalan pintas.

Sejahtera Dulu Baru Milih
Semakin menurunnya minat masyarakat dalam partisipasi pemilu atau lebih memilih golput (golongan putih) menggambarkan betapa pesta demokrasi butuh orang-orang yang populer, dipercaya, dan mampu membawa perubahan mendasar terhadap rangkaian permasalahan bangsa ini.

Bagaimana merayu masyarakat supaya meninggalkan pekerjaan pada hari pencoblosan menjadi pekerjaan sendiri yang memakan banyak energi bagi parpol. Sejahterakan dulu dan penuhi kebutuhan dasarnya. Pastinya mereka kelak menjatuhkan pilihan pada Anda.

Dengan demikian KPU tak perlu pusing dan mengulur waktu karena masih ada parpol yang belum lengkap mencantumkan daftar calegnya yang bakal ikut pemilu karena administrasinya belum siap. Publik pun tak lantas bertanya ketika Daftar Calon Sementara (DCS) yang diumumkan KPU muncul di TVRI (2/11/2008), “Kok ada caleg tanpa nama?”

Dwi Eka A
Jl Batam Raya Lebak Bulus Jakarta Selatan
ymku21@yahoo.com
02192114002
(msh/msh)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: