Citra Partai dan Potensi Golput

Sholehudin A Aziz MA – suaraPembaca
http://suarapembaca.detik.com/read/2008/11/26/090517/1043049/471/citra-partai-dan-potensi-golput
Rabu, 26/11/2008 09:05 WIB

Jakarta – Kiprah dan sepak terjang partai politik di tanah air dalam beberapa dekade belakangan, terutama kepeduliannya terhadap kepentingan masyarakat, semakin diragukan. Mereka hanya peduli dengan kepentingan masyarakat di kala menjelang pemilihan umum (pemilu) saja. Namun, sesudahnya mereka sama sekali tidak peduli. Bak “Habis manis sepah dibuang”.


Hal ini akhirnya menuai penilaian bahwa citra partai politik di tengah kedewasaan dan kesadaran berpolitik masyarakat saat ini semakin menurun drastis dan miskin apresiasi. Ini ditandai  dengan gagalnya partai-partai politik mengagendakan kepeduliannya terhadap persoalan-persoalan kebutuhan utama masyarakat. Sangat jarang ada partai yang concern dan berjuang secara kongkret untuk mengatasi pengangguran, menaikkan derajat ekonomi masyarakat, dan menjadi garda terdepan mengentaskan kemiskinan.

Gambaran ini jelas menunjukkan potret sesungguhnya partai-partai politik di tanah air ini yang miskin ideologi, fungsi, dan visi-misi kepartaian yang pro rakyat. Partai akhirnya hanya menjadi akumulasi kepentingan politik saja. Pun demikian, partai politik kehilangan orientasi. Selama ini partai cenderung terjebak dalam pencapaian jangka pendek dan sesaat seperti perebutan kursi nomor satu negeri ini (pilpres) saja tanpa mengedepankan kepentingan publik secara lebih luas.

Secara formal harus diakui bahwa partai adalah organisasi politik yang sah di negara demokrasi. Tetapi, ketika partai hanya menjadi sapi perahan atau kendaraan politik belaka tanpa mengedepankan nilai-nilai keadilan dan suara para konsituen di tingkat grass-root, maka dengan mudah demokrasi dipasung oleh nilai-nilai machiavelian yang menempatkan kekuasaan sebagai tujuan pada dirinya (the end in itself).

Bukan lagi sebagai sarana memperjuangkan kepentingan masyarakat luas. Jangankan memperjuangkan rakyat, memperjuangkan diri sendiri (partai) pun tidak juga dilakukan. Lalu siapa dan apa yang diperjuangkan partai politik? Sungguh sebuah paradoks.

Jika kita tengok sejarah, ketidakpedulian partai politik sebenarnya tidak jauh berbeda capaian prestasinya dengan kondisi partai politik di era parlementer (1950-1958) yang sama-sama tidak peduli dengan kepentingan rakyatnya. Sampai-sampai Presiden Soekarno mengilustrasikan kekecewaannya sebagai sindiran dalam pidato peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1956 yang berjudul “Kuburkan Partai Politik”.

“Kita semua diserang penyakit. Penyakit yang lebih berbahaya daripada sentimen etnik dan kedaerahan. Anda barangkali bertanya, penyakit apa itu? Dengan terus terang, saya katakan: Penyakit partai politik …. “
Kegagalan partai politik di atas diyakini akan memberikan implikasi determinan terhadap konstelasi partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) nanti. Prediksi ini muncul dengan semakin meluasnya suara-suara “golput” untuk pilkada dan pilpres nantinya. Baik yang disuarakan oleh kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), tokoh-tokoh politik nasional, maupun oleh masyarakat sekali pun.

Lebih jauh lagi, diprediksi, angka “golput” ini akan semakin besar dan mendapatkan legitimasi apabila kran kesempatan bagi calon independen untuk maju dalam pilkada-pilkada dan pilpres 2009 ini tidak dikabulkan olek Mahkamah Konstitusi. Sebagaimana permohonan uji materiil UU Nomor 23/2003 khususnya Pasal 6 A Ayat 2 tentang peluang bagi calon independen untuk bisa bertarung dalam pilpres 2009.

Keyakinan akan tingginya golongan putih (golput) telah banyak diprediksi banyak pihak dan bahkan diyakini bisa mencapai angka psikologis 50%. Jika angka ini benar, maka legitimasi pilpres 2009 akan semakin rendah.
Untuk mengatasi persoalan di atas, terdapat 3 hal yang bisa dilakukan:
Pertama, seyogyanya partai politik mulai membenahi kinerja program kepartaiannya yang senantiasa pro rakyat. Hilangkan janji-janji politik “murahan” yang sama sekali tidak menyahuti kebutuhan masyarakat.

Agenda mengatasi pengangguran, mengatasi kemiskinan, dan program kesejahteraan masyarakat harus menjadi ujung tombak utama kampanye partai. Itu pun harus siap dengan detail program pengimplementasiannya. Jadi tidak hanyas sekedar janji semata tanpa aksi alias NATO (No Action Talk Only).

Kedua, partai harus  mampu menjaga etika berpolitik yang santun dan elegan. Masyarakat yang sudah mulai dewasa dalam pandangan politiknya, sudah sangat jeli dan cerdas menentukan pilihan-pilihan partai yang akan didukungnya. Jika tidak, mereka akan semakin menjauh dari partai dan tidak lagi peduli. Kredit point bagus dari masyarakat atas etika politik partai dipastikan akan menaikkan jumlah partisipasi pemilih dalam pilkada dan pilpres nanti.

Ketiga, Perlu kedewasaan seluruh stakeholder bangsa ini, termasuk pemerintah, partai politik, tokoh-tokoh nasional, kalanga LSM, dan masyarakat luas untuk terus mengkampanyekan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pilkada dan pilpres karena hal itu akan menentukan kadar legitimasi pilkada dan pilpres tersebut.

Harus diakui memang, hak untuk memilih atau tidak memilih (golput) merupakan hak asasi setiap anggota masyarakat yang bersifat pribadi sekali. Namun, sebagai warga negara yang baik, kita wajib memberikan dukungan dan partisipasi penuh dalam pilkada dan pilpres nanti. Ini penting agar siapa pun yang dipercaya rakyat untuk menjadi pimpinan negeri ini memiliki legitimasi yang tinggi.

Seluruh stakeholer bangsa ini termasuk partai politik dan masyarakat harus bersinergi memberikan yang terbaik untuk bangsa ini. Meminjam kata-kata bijak John F Kennedy, “Don’t ask, what your country can do for you. ask, what you can do for your country”.

Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan di sini, di mana lagi. Semoga.

Sholehudin A Aziz MA
Jatipadang Baru Pasar Minggu Jakarta Selatan
bkumbara@yahoo.com
081310758534
Penulis adalah peneliti di CSRC UIN Jakarta.
(msh/msh)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: