Golput: Memilih untuk Tidak Memilih

Erwien Samantha – suaraPembaca
http://suarapembaca.detik.com/read/2008/11/14/092127/1036795/471/golput-memilih-untuk-tidak-memilih
Jumat, 14/11/2008 09:21 WIB

Jakarta – Memilih untuk tidak memilih atau yang lebih dikenal dengan golput (golongan putih) bukan harus dikonotasikan negatif atau yang patut disalahkan atas terpilihnya seorang “preman” dalam wakil rakyat kita nantinya. Kita semua mempunyai hak dan kewajiban yang sama di Pemilu 2009. Memilih atau dan dipilih.
Hak ini sangat bersifat pribadi sekali. Jadi semua orang harus menghargai keputusan seseorang untuk menggunakan hak dan kewajibanya di pemilihan umum (pemilu) nantinya. Termasuk pada orang atau sekelompak yang menjatuhkan pilihanya pada golput.


Memilih untuk tidak memilih buat mereka yang golput adalah suatu pilihan. Apa alasan mereka tidak memilih? Bisa jadi banyak sekali kalau disebutkan satu per satu di sini.

Mereka memilih untuk tidak memilih karena tidak suka dengan pemilu? Pusing terlalu

banyak partai? Tidak tahu harus memilih siapa? Tidak ada seorang wakil pun yang menurut kriteria dia yang patut untuk dipilih? Merasa jenuh dengan tingkah laku para wakil rakyat? Dan, semua itu harusnya dihargai sebagai bentuk bagian dari demokrasi serta hak dan kewajiban individu.

Pilihlah yang paling baik dari yang ada! Terbaik menurut siapa? Ingat pilihan ini bersifat individu tanpa harus dipaksakan atau terpaksa. Sepertinya banyak calon wakil rakyat sekarang pada takut karena dimungkinkan Pemilu 2009 golput semakin meningkat.

Mereka mulai mencarikan alasan untuk mengkambinghitamkan para golput atas lolosnya para preman politik. Menurut mereka kelompok golput lebih banyak didominasi dari kalangan terdidik. Sedangkan para “preman” politik banyak memanfaatkan kesenjangan sosial yang ada sebagai amunisi mereka untuk duduk di kursi “empuk” di dewan nantinya dengan politik uang mereka.

Ketakutan seperti di atas harusnya tidak terjadi kalau mereka jeli karena mereka tahu banyak golput dari kalangan terdidik. Yang lebih harus mereka pikirkan dan perhatikan adalah bagaimana bisa menarik perhatian para pemilih yang “Memilih untuk Tidak Memilih”.

Mereka harusnya bisa mendemonstrasikan terlebih dahulu apa yang menjadi nilai lebih dia sebagai calon wakil rakyat sehingga patut untuk dipilih. Pemilih terdidik akan dengan sendiri secara suka rela akan memberikan suaranya kepada calon wakil rakyat yang patut dipilih.

Kewajiban calon wakil rakyat untuk menunjukkan kemampuannya bukan hanya dengan janjinya. Tapi, dengan tanggung jawabnya mereka sebagai wakil rakyat kalau nantinya terpilih. Kebanyakan pemilih yang “Memilih untuk Tidak Memilih” haus akan kualias pemilu. Haus akan kualitas partai. Haus akan kualitas calon wakil rakyat yang berkualitas. Integritas yang tinggi dan ikhlas karena itu adalah jabatan yang penuh dengan amanah.

Sekali lagi, golput adalah pilihan dan bukan sasaran untuk dijadikan sebagai kambing hitam atas bercokolnya para “preman” politik yang duduk dengan “empuknya” sebagai wakil rakyat.

Erwien Samantha
Osdorp Amsterdam
erwiensamantha@gmail.com
+31207704086
(msh/msh)

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: