Anti Golput

Zohani Ismail M
SUARA MAHASISWA  Universitaria, Kedaulatan Rakyat, 9 Januari 2009
http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=188169&actmenu=43
09/01/2009 08:43:21

GOLPUT dilakukan seseorang yang memiliki hak pilih, tetapi dia tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislatif, presiden-wakil presiden maupun pilkada. Golput dalam negara demokrasi merupakan ekspresi politik dan pilihan yang sah-sah saja dilakukan oleh setiap warga negara. Dan di masa-masa kampanye ini muncul kembali wacana dan ajakan golput pemilu 2009, oleh beberapa tokoh nasional. Bisa dibayangkan ketika angka golput ke luar sebagai “pemenang” pemilu. Secara tidak sadar telah menurunkan kredibilitas legislatif dan eksekutif dalam hal ini DPR dan Presiden terpilih.


Jika kita lihat data statistik, menunjukkan bahwa tingkat golput pemilu dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Pemilu 1999 yang merupakan pemilu pertama di era reformasi, diikuti oleh 93,3% dari total pemilih terdaftar, atau 6,7% pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya (golput). Angka golput kemudian naik menjadi 15,9% pada pemilu 2004. Angka ini terus naik pada pemilihan presiden baik putaran pertama maupun putaran kedua dan pilkada.

Proses pilkada dihampir seluruh wilayah negeri ini, dari pemilihan gubernur, walikota atau bupati, angka golput mencapai hampir separoh, seperti yang terjadi dalam Pilkada Kota Surabaya, Kota Medan dan kota-kota lain. Tidak jarang,  jumlah golput ini lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan suara pemenang Pilkada. Jika dibuat rata-rata, tingkat golput selama pelaksanaan Pilkada mencapai angka 27,9%. Dari sana tidaklah berlebihan jika beberapa pengamat politik memprediksi pada pemilu 2009 mendatang tingkat golput akan bertambah hingga 30%.

Beberapa pengamat membagi golput menjadi dua. Ada golput secara aktif dan golput secara pasif. Golput secara aktif pada umumnya dilakukan secara terbuka dan ditunjukkan melalui kampanye, orasi atau metode lain yang intinya mempengaruhi orang lain untuk ikut golput. Sedangkan yang kedua adalah golput secara pasif biasanya tidak ikut kampanye, tinggal di rumah saat pencoblosan, atau mencoblos kartu suara sedemikian rupa sehingga surat suara menjadi tidak sah, tetapi tidak ada gerakan untuk mengajak orang lain untuk golput.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kenapa mereka memilih golput pada pemilu? Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan alasan kenapa orang tersebut memilih golput dalam pemilu atau pilkada. Pertama, ketidakpercayaan masyarakat pada partai politik atau kandidat yang ada. Golput yang cenderung meningkat mencerminkan kian meluasnya kesadaran masyarakat akan sistem politik yang lebih demokratis, adil dan berpihak kepada kepentingan orang banyak. adalah keadilan dan kesejahteraan, seperti yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar kita.

Faktor kedua adalah administrasi dan ke-validan data pemilih. Di sini peranan statistik sangat menonjol. Bagaimana tidak di negara-negara Eropa, umumnya tingkat partisipasi pemilih cukup tinggi dibandingkan dengan di Amerika Serikat. Hal ini karena, kebanyakan warga negara Eropa telah terdaftar secara otomatis dalam daftar pemilih dan daftar pemilih ini selalu diup date oleh pemerintah. Di Indonesia sendiri ini dilakukan oleh (BPS Badan Pusat Statistik) bekerja sama dengan KPU sebagai penyelenggara pemilu yang ditunjuk.

Dan yang terakhir adalah adanya faktor lain, seperti harus bekerja, sedang ada keperluan, harus bekerja, sedang bepergian, berlibur dan sebagainya. Seseorang lebih mendahulukan keperluan pribadinya dibandingkan harus datang ke bilik suara.

Lalu, bagaimana mencegah golput? Upaya mengajak masyarakat ke bilik suara adalah tantangan bagi penyelenggara Pemilu di banyak negara, tidak hanya di Indonesia. Butuh kerja keras dari semua pihak terutama KPU. Upaya yang umum dilakukan adalah melakukan gerakan kultural untuk mengembalikan semangat memilih. Bisa dilakukan dengan kampanye anti golput, sosialisasi dengan melibatkan semua kelompok dalam masyarakat. Pendidikan dan sosialisasi politik kepada pemilih pemula untuk tidak menjadi golput juga penting. Sehingga tumbuh kesadaran akan pentingnya menyukseskan Pemilu 2009. Peng-up date data pemilih juga harus dilakukan, jangan sampai ada kesalahan dalam hal pendataan. Menetapkan hari pemilihan sebagai hari libur atau hari pemilihan dibuat saat hari libur, agar pemilih mempunyai waktu luang untuk datang ke tempat pemungutan suara. q – c

*) Penulis, Mahasiswa Statistika FMIPA UII.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: