Golput Ancam Parpol

http://harianjogja.com/web/index.php?option=com_content&view=article&id=1593:golput-ancam-parpol&catid=102:jogja&Itemid=171
Jumat, 05 September 2008 11:30 admin

JOGJA: Kepercayaan masyarakat terhadap partai politik (parpol) kian hari dirasa semakin menurun. Ini tampak dari geliat warga yang memilih sikap tidak memilih alias golput (golongan putih) dalam pemilu. Ternyata, geliat golput bisa membikin keder sejumlah partai. Maklum, tanpa konstituen, partai bakal kehilangan suara yang sebetulnya potensial.

Demikian yang mencuat dalam diskusi terbuka bertajuk Pemilu untuk perubahan: Memilih atau tidak sama sekali, yang diselenggarakan Impulse (Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies) bekerjasama dengan Harian Jogja, di kompleks percetakan Kanisius, Deresan, Sleman, kemarin.

Menurut sejumlah fungsionaris parpol yang hadir kemarin sore, gerakan tidak memilih merupakan sikap apolitis yang mencederai kehidupan berdemokrasi.

“Saya tidak tahu cara pikir mereka yang tidak memilih itu,” ujar Ketua DPD Partai Demokrat DIY, GBPH Prabukusumo. Dia mengatakan pemilu bagaimanapun diselenggarakan untuk memilih pemimpin berkualitas. Namun demikian, soal kualitas ini biasanya selalu menjadi perdebatan di masyarakat.

Prabukusumo menduga stigma buruk yang kini lekat pada partai, muncul lantaran calon pemimpin dan wakil rakyat yang diusung partai kurang dekat dengan masyarakat.

“Partai sering lebih sibuk mengusung popularitas. Tidak membina kader dan malah mengambil calon pemimpin dari luar yang sudah memiliki popularitas. Tapi, seburuk apapun pilihan yang ada, itulah calon-calon dari tengah masyarakat yang ada.”

M Alfi N Endarta, Ketua Litbang yang juga pendiri Partai Matahari Bangsa (PMB), sependapat dengan Prabukusumo. Dia mengatakan kejengahan kader atau warga melihat sistem internal sebuah partai bisa muncul lantaran iklim musyawarah yang tidak membumi. “Makanya pembinaan kader itu sangat perlu, mengambil dan turun langsung ke akar rumput.”

Dia menilai dalam sistem demokratis, peran partai sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas pemerintahan. Sebab, jika saja ada calon independen non partisan menduduki kepemimpinan, orang itu tetap membutuhkan partai untuk bisa mengegolkan kepentingan dia di kursi kepemimpinan yang sudah didudukinya.

Salah satu peserta diskusi sore itu, YA Sunyoto, mengganggap partai sering menderita penyakit lupa. Muluk menyebar janji-janji pada masa kampanye, setelah meraih kursi empuk mendadak lupa rayuan manis mereka.
Pendapat itu disanggah oleh Wakil Ketua Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Lukmono Hadi. Dia mengatakan janji-janji yang terlupakan itu tak bisa semata dicitrakan pada partai.

Dan menurutnya, begitulah kehidupan berdemokrasi. Jika sebuah partai tak mendapat nilai plus, konsekuensinya, dalam pemilihan selanjutnya ia akan kehilangan konstituen, dan begitu seterusnya.

Pada Pemilu 2004 lalu, golput dari pemegang hak pilih mencapai 30%. “Tahun ini mungkin bisa naik jadi 40 persen,” kata Lukmono. Diskusi sore itu tidak mengerucut menjadi sebuah kesimpulan. Akhirnya, memilih atau tidak memilih sama sekali, tetap menjadi pilihan dari masing-masing pemegang hak pilih.

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: