Menebar Janji di Tengah Krisis Kepercayaan

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=172337&actmenu=50
Edisi Khusus
28/07/2008 08:05:47

Banyak anak banyak rezeki memang tidak ada hubungannya dengan banyak parpol banyak pemilih. Tapi setidaknya ada harapan, banyak parpol kesadaran politik masyarakat pun meningkat — meski kenyataannya banyak pengamat mengkhawatirkan, partisipasi masyarakat dalam pesta demokrasi tahun 2009 akan menurun. Golput diprediksikan makin banyak. Seperti apa sesungguhnya pemahaman masyarakat terhadap parpol peserta Pemilu?

KAMPANYE Pemilu 2009 telah dimulai.  Waktunya cukup panjang, hampir 9 bulan. Sejumlah partai politik (parpol) memang sudah ada yang melakukan sosialisasi memasang tanda gambar. Tapi jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Belum keseluruhan parpol yang berjumlah 34 partai memanfaatkan waktu kampanye ini secara efektif.

Begitupun masyarakat, tampaknya kurang antusias menyambut masa kampanye. Kenapa ? “Bosan, karena partai yang saya pilih dulu, ternyata tak memiliki kepekaan terhadap nasib rakyat,” ujar Tatik, warga di Sleman barat. Dulu ia amat fanatik dengan sebuah parpol yang terkesan bersih, namun ia mulai merasakan kekecewaan tatkala dirinya yang menjadi guru tidak tetap dan nasib rekan-rekan seprofesinya yang menuntut menjadi CPNS hingga sekarang masih belum jelas.

Komentar lain dikemukakan Yanti di Yogya barat yang juga merasa kecewa, karena para wakil rakyat yang dulu ia pilih ternyata tak berimbas positif bagi kehidupannya. Ia sudah sekian lama menganggur dan sulit mencari pekerjaan.

Meski begitu ada pula masyarakat yang berkomentar lain. Misalnya, menjadikan masa kampanye sebagai hiburan belaka. Sebab, pada saat-saat seperti itu banyak parpol menggelar kegiatan amal, pentas musik dan acara lain. “Kami tinggal mengikuti saja, soal memilih itu persoalan nanti di bilik suara,” kata Jumirin, pekerja bangunan dari Bantul.

Lain lagi Hartadi (29). Ia mengaku tidak hafal berapa parpol yang lolos seleksi. Ia hanya mengetahui jumlah parpol saat ini cukup banyak. Sejujurnya ia sudah bosan dengan sepak terjang parpol yang menurut salah satu pegawai honorer ini penuh dengan cara kotor. Untuk mewujudkan tujuannya, para politisi ini kerap menyakiti rakyat dengan cara menjadikan komoditas politik. “Kita hanya diberi janji-janji, tapi ketika sudah terpilih lupa. Contohnya, menaikkan harga BBM,” terangnya. Itu sebabnya, warga Kota Yogya ini tidak begitu tertarik ajakan untuk menjadi anggota parpol tertentu.

Tapi ketika ditanya apakah ia akan menggunakan hak pilihnya, Hartadi mengaku belum tahu. Jika ada sosok muda yang memiliki pemikiran ke depan dan benar-benar berpihak pada rakyat akan dipilihnya. Tapi jika wajah-wajah lama masih bercokol, ia mengaku siap netral.

Meski kampanye sudah dimulai, Narto (50) yang tinggal di Kecamatan Gamping,  belum mengetahui secara detail tentang gambar dan nomor urut parpol yang menjadi peserta pemilu. Di samping informasi yang diperoleh masih sepotong-sepotong juga belum ada sosialisasi dari parpol yang bersangkutan.

“Bertambahnya jumlah parpol cukup membingungkan rakyat kecil seperti saya. Sudah namanya sulit diingat, visi dan misinya tidak jelas, kalau kondisinya seperti ini bagaimana masyarakat bisa menilai program mereka,” ungkapnya.

Narto mengatakan, selama ini parpol belum bisa memberikan manfaat yang optimal pada masyarakat. Sebaliknya ada beberapa janji yang mereka ucapkan pada saat kampanye justru tidak ditepati.

Terhadap banyaknya partai politik yang menjadi kontestan Pemilu 2009, Ny Wati, warga Kecamatan Mlati, Sleman mengaku belum dapat menentukan sikap akan memilih wakil dari partai mana. Karena dirinya kecewa dengan kinerja wakil rakyat yang terpilih dalam Pemilu 2004 lalu. “Alih-alih memperjuangkan rakyat, justru para wakil rakyat itu lebih suka memperkaya diri, lupa dengan janjinya,” tukasnya.

Pandangan bobroknya kinerja pemerintahan dan anggota lembaga legislatif yang marak semacam ini, diakui pula oleh Rohman Agus Sukamto, salah seorang caleg Partai Amanat Nasional dari Dapel 1 Sleman. Namun hal itu justru dianggap  tantangan tersendiri. “Sebab pandangan minir masyarakat ini sudah sangat tergeneralisasi, sehingga yang belum dan tidak berbuat menjadi ikut kecipratan. Sebab itu, waktu kampanye sembilan bulan menjadi pekerjaan rumah bagi caleg untuk meyakinkan masyarakat,” ujarnya.

Agus, yang sekarang masih menjabat Wakil Ketua DPRD Sleman, memberanikan diri maju lagi sebagai caleg DPRD Sleman, utamanya karena sudah memiliki pengalaman sebagai anggota legislatif. Selain itu melalui lembaganya, PIRAS, Agus senantiasa melakukan komunikasi politik dengan masyarakat.

Caleg DPRD Sleman lainnya, Mujiono SP, yang juga maju lewat PAN di Dapel 1 Sleman, melakukan strategi yang berbeda, untuk meraih dukungan suara maksimal dalam Pemilu 2009. “Niat saya maju caleg untuk melanjutkan dan mengoptimalkan pengabdian kepada masyarakat, yang selama ini sudah saya lakukan di lingkup kecil di desa dan organisasi, menjadi luas lagi skupnya di tingkat kabupaten,” katanya.

Mengalami Kejenuhan
Di pihak lain, sejumlah pengurus parpol yang baru terbentuk justru optimis masa kampanye ini menjadi saat yang tepat melakukan penetrasi kepada masyarakat. Mereka menolak kalau masyarakat cenderung pasif terhadap politik.

Koordinator Jateng/DIY DPP Partai Gerindra, Drs H Ahmad Subagya mengakui, masyarakat mungkin mengalami kejenuhan. Tapi pihaknya meyakini, kejenuhan itu ditujukan kepada parpol-parpol lama yang selama ini tak mampu memperjuangkan aspirasi mereka. “Oleh karena adanya kejenuhan itulah, Gerindra muncul dan menawarkan konsep-konsep baru,” kata politisi muda ini.

Konsep baru yang dimaksud yakni tawaran program maupun janji yang akan memperjuangkan aspirasi rakyat dan membuat perubahan-perubahan. Ia optimis, kehadiran Gerindra menekan angka golput.

Ketua Bappilu Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Wiryono juga mengatakan hal serupa. Karena itu, masa kampanye ini dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan nyata kepada rakyat, seperti pengobatan gratis, sembako murah, bakti sosial dan sejenisnya. Ia optimis, dengan cara ini, masyarakat menjadi tergugah untuk menyalurkan hak pilihnya pada saat pemilu nanti. “Kami kira kampanye secara riil ini lebih bermanfaat, karena sesuai yang dibutuhkan rakyat,” ujar Wiryono yang juga Ketua Pimpinan Kolektif PDP Bantul ini.

Wakil Ketua Partai Matahari Bangsa (PMB) sekaligus Ketua Bappilu, M Alfi Nur Endarta mengungkapkan, sebagai parpol yang tergolong baru pihaknya akan komitmen terhadap pemberdayaan umat. Di antaranya mengintensifkan silaturahmi pada jamaah di forum-forum pengajian (masyarakat umum dan kaum proletar). Dengan begitu pihaknya berharap bisa mewujudkan perjuangan Islam dan kembali pada khittah Muhammadiyah. Meski begitu pihaknya tidak memungkiri untuk memenuhi target yang sudah ditentukan bukan sesuatu yang mudah. Untuk mengatasi itu PMB sepakat tidak mengobral janji-janji. Sebaliknya menangani persoalan yang ada secara bersama-sama dan membangun aspirasi dari bawah.

Alfi menambahkan, meskipun untuk kepengurusan di tingkat cabang masih mengalami hambatan, tapi untuk memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan pada prinsipnya tidak masalah. Bahkan ke depan mereka diharapkan bisa menjadi embrio. “Adanya anggapan kalau PMB adalah pecahan dari parpol lain sudah saatnya diubah. Karena PMB didirikan dengan harapan bisa membantu untuk menyelesaikan berbagai persoalan umat,” ujarnya.

Usai lolos verifikasi KPU dan mendapatkan nomor urut 3 (tiga), Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI) segera menggerakkan pengurus dan kadernya di cabang-cabang, untuk menjaring caleg dan meningkatkan dukungan. Termasuk pula DPD PPPI DIY, seperti yang disampaikan sekretarisnya, Yupi Aizah.

“Kami yakin bisa sukses di Pemilu 2009, sebab kami mempunyai basis pengusaha dan para pekerja di sektor industri, jasa dan perdagangan. Demikian pula di pertanian, sudah dan masih kami garap. Sebab simpatisan partai kami juga adalah petani pekerja, selain anggota SPSI, serikat buruh lain, LSM dan mahasiswa,” sebutnya.
Soal 30 persen keterwakilan perempuan, PPPI juga akan memperjuangkan. Minimal ada satu kursi untuk wakil perempuan di DPR maupun DPRD. “Kami sudah mulai melakukan penjaringan caleg dan sampai Jumat (25/7) sudah ada sekitar 10 formulir yang diambil,” akunya.

Tantangan Parpol
Prediksi soal menurunnya partisipasi masyarakat dalam Pemilu, diakui oleh calon legislatif (caleg) dari PKS Bantul Amir Syarifudin. Hal itu tak lain karena banyaknya kasus yang menimpa sejumlah anggota DPR dan DPRD. Menurutnya hal itu justru dianggap sebagai tantangan bagi seluruh parpol. “Masyarakat perlu pembuktian untuk mengembalikan citra wakilnya yang duduk di parlemen yaitu dengan kerja nyata, turun ke bawah, menyampaikan aspirasi sesuai kehendak rakyat,” terangnya.

Pencalonan bagi PKS, menurutnya, ditentukan oleh struktur partai sehingga secara pribadi tak bisa mencalonkan diri menjadi caleg. Demikian juga dengan pola kerja yang dilakukan anggota legislatif PKS, harus sesuai dengan garis yang ditentukan struktur. “Membangun kepercayaan masyarakat pada anggota DPRD dengan kerja riil menjadi keharusan bagi kami,” katanya.

Kerja nyata itu diakui bisa menumbuhkan kepercayaan masyarakat, karena masyarakat akan niteni. Dengan kerja nyata itulah yang menjadi modal utama bagi caleg untuk bisa dipercaya masyarakat.

Sedangkan caleg dari PAN Bantul, Fachruddin SAg menilai, perkiraan menurunnya partisipasi masyarakat dalam Pemilu diperlukan usaha untuk melakukan pendidikan politik yang sehat kepada masyarakat. Ia tak menampik banyaknya kasus yang menimpa anggota DPR RI maupun daerah menjadi salah satu penyebab menurunnya kepercayaan publik tersebut.

“Namun masih banyak juga anggota DPR yang mampu bekerja dengan baik, menyampaikan aspirasi rakyat serta membela kepentingan rakyat. Namun karena selama ini pemberitaan di media massa lebih cenderung mem-blow up kasus-kasus yang menimpa anggota DPR RI maupun daerah, sehingga kesan yang sampai di masyarakat tindakan anggota DPR/DPRD itu banyak yang melenceng,” katanya seraya berharap agar pemberitaan bagi lagislatif dilakukan secara proporsional.

Soal menurunnya kepercayaan pemilih, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW PAN) DIY, Istianah ZA MHum, berpendapat, sebetulnya telah banyak yang dilakukan anggota legislatif. Namun peran positif yang dimainkan legislatif tidak diketahui masyarakat luas.

“Yang muncul justru beberapa kasus yang membeli anggota legislatif yang sebenarnya tidak mencerminkan seluruh anggota dewan. Karena itu, dalam Pemilu mendatang, kami mendorong munculnya anggota yang dapat dipercaya rakyat,” ujarnya.

Sedangkan Ketua DPD Partai Golkar DIY, Gandung Pardiman menegaskan, pemilih dalam Pemilu mendatang akan banyak yang memilih partainya. Salah satu alasannya, kerinduan rakyat atas masa lalu, di mana saat itu semua serba murah, baik murah sandang, pangan dan murah lainnya. “Kita akan berjuang untuk dapat mewujudkan rakyat yang sejahtera,” ujar Gandung.

Ketua DPD PDIP DIY, Djuwarto juga menegaskan hal serupa. Pihaknya akan terus memperjuangkan terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera. Dengan tetap konsisten menjaga komitmen nasionalis.
Ketua DPD Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sleman, Soekamto menegaskan, pemilih harus yakin partainya dalam kondisi yang kondusif. “Tak ada perpecahan di PKB, karena itu kami berupaya ikut mewujudkan masyarakat yang lebih baik,” ujarnya.  q  -e

About imam samroni

Silakan Tuan dan Puan berkenan kontak ke email daripada saya, yakni : imamsamroni@ymail.com atawa imamsamroni@gmail.com. Jika Tuan dan Puan hendak bersilaturahmi, sudilah kiranya berkirim kabar lewat email pula. Lihat semua pos milik imam samroni

One response to “Menebar Janji di Tengah Krisis Kepercayaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: